Cetak Sultan Muda dan Majukan Keuangan Syariah, OJK Gencarkan Literasi di Sumsel

oleh -299 Dilihat

Palembang, Berikabar.co – Dalam rangka mempercepat peningkatan literasi dan inklusi keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar dua kegiatan besar di Sumatera Selatan, yaitu Sumsel GENCARKAN & Youngpreneur Summit 2025 serta Syariah Financial Fair (SYAFIF) Goes to Palembang. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi masif OJK dalam menjangkau generasi muda dan masyarakat luas melalui edukasi keuangan, baik konvensional maupun syariah.

Youngpreneur Summit: Mencetak “Sultan Muda” dari Sumatera Selatan

Dengan mengusung tema “Berdayakan Pemuda, Lahirkan Sultan Muda untuk Tingkatkan Literasi Keuangan dan Ekonomi Nasional”, Youngpreneur Summit 2025 dilangsungkan di Kantor OJK Provinsi Sumatera Selatan dan dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku PUJK, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi, Gubernur Sumsel H. Herman Deru, serta Kepala OJK Sumsel Arifin Susanto.

Dalam sambutannya, Friderica menegaskan pentingnya membangun sinergi antara pengetahuan keuangan dan akses terhadap produk keuangan demi menciptakan kesejahteraan masyarakat, sesuai panduan dari OECD.

“Kita ingin semua ‘Ayu dan Kakak’ di Sumatera Selatan menjadi Sultan Muda, entrepreneur muda yang sukses dan mampu menembus pasar nasional bahkan ekspor. Kita harus manfaatkan sektor jasa keuangan yang resilient ini untuk mendukung pertumbuhan ekonomi baru di daerah,” ujar Friderica.

Ia juga mengingatkan pentingnya perlindungan konsumen dan kewaspadaan terhadap kejahatan digital. Friderica menyoroti peran Satgas PASTI dan Indonesia Anti-Scam Center dalam memberantas entitas ilegal.

“Sejak awal tahun ini, lebih dari 1.300 entitas ilegal telah ditutup, termasuk 1.100 pinjol ilegal,” tambahnya.

Gubernur Sumsel Herman Deru menyambut baik inisiatif OJK ini dan menekankan bahwa kewirausahaan anak muda membutuhkan fondasi kuat: keterampilan, akses permodalan, pasar, dan mental.

BACA JUGA :  Kinerja Unggul di 2024, Laba Bersih Tumbuh 38,1 Persen dan Peningkatan EBITDA 10,2 Persen

“Selamat kepada Sultan Muda Sumsel terpilih. Jadilah teladan yang berkarya, berbudaya, dan berbakti. Jangan tergoda investasi bodong atau pinjaman ilegal. Ingat prinsip sukses: Konsisten, Konsekuen, dan Speed,” tegas Herman.

Ia juga menyatakan bahwa program 100 ribu Sultan Muda bukan sekadar slogan, tetapi peluang konkret untuk pengembangan UMKM Sumsel yang saat ini mencapai 600 ribu pelaku usaha.

Kegiatan tersebut menjadi momentum peluncuran Kick-Off Bulan Literasi Keuangan, Sultan Muda Sumsel Center (SMSC), dan pengukuhan 5 Duta OJK Penggerak Literasi Keuangan (OJK PEDULI). Edukasi diselenggarakan secara hybrid dengan 1.000 peserta, terdiri dari komunitas UMKM dan anggota Sultan Muda Sumsel Center.

SYAFIF Goes to Palembang: Literasi Syariah untuk Semua

Di waktu yang sama, OJK bersama pelaku usaha jasa keuangan syariah menggelar Syariah Financial Fair (SYAFIF) Goes to Palembang, sebuah ajang promosi produk keuangan syariah nasional yang berlangsung selama tiga hari (16–18 Mei) di Palembang Indah Mall.

Acara ini merupakan hasil kerja sama OJK dengan Organizing Committee Orkestrasi Literasi Keuangan Syariah (OC LIKS) dan menjadi kota kedua dari lima lokasi penyelenggaraan SYAFIF 2025.

Kegiatan dibuka oleh Friderica Widyasari Dewi dan turut dihadiri oleh dr. Ratu Tenny Leriva (Anggota DPD/MPR RI sekaligus Duta Literasi Sumsel), Arifin Susanto, dan M. Ismail Riyadi dari OJK.

Friderica menekankan peran penting keuangan syariah sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi nasional.

“Bonus demografi dan tingginya populasi muslim Indonesia adalah kekuatan besar. Kita tidak boleh hanya jadi pasar, tapi harus jadi pemain utama di dalam dan luar negeri,” tegasnya.

Ia mengungkapkan bahwa per Maret 2025, total aset industri keuangan syariah mencapai Rp2.900 triliun, terdiri dari:

  • Perbankan syariah: Rp960 triliun

  • Pasar modal syariah: Rp1.700 triliun

  • Lembaga keuangan nonbank syariah: Rp174,7 triliun

BACA JUGA :  PT TMS Bangun Instalasi Air Bersih di Empat Desa

Namun, meski indeks literasi keuangan syariah naik dari 39% ke 43,42%, tingkat inklusi baru mencapai 13,41%.

“Ini menjadi pekerjaan rumah besar kita semua. Edukasi belum cukup jika masyarakat belum mengaksesnya,” ujar Friderica.

Pendekatan komunitas dinilai strategis dalam memperluas literasi syariah, termasuk peran pondok pesantren, tokoh agama, dan sinergi dengan Kementerian Agama dalam pelatihan dai dan ustaz sebagai agen literasi.

dr. Ratu Tenny Leriva juga menyampaikan bahwa angka inklusi keuangan di Sumsel telah menyentuh 88%, sementara literasinya di atas rata-rata nasional, yakni 52%, namun kesenjangan masih terlihat di wilayah pedesaan.

Kepala OJK Sumsel Arifin Susanto menambahkan bahwa SYAFIF kali ini melibatkan 19 pelaku usaha keuangan syariah, mulai dari perbankan, pegadaian, pembiayaan, penjaminan, hingga Layanan Pendanaan Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) berbasis syariah.