Kendari, Berikabar.co – Rektor Universitas Halu Oleo (UHO), Prof. Dr. Khairul Munadi, mengajak seluruh keluarga besar UHO menjadikan Dies Natalis ke-45 sebagai momentum memperkuat silaturahmi, merajut kebersamaan, dan menyatukan langkah untuk membawa universitas menjadi lebih baik dan berkelanjutan.
Ajakan tersebut disampaikan Prof. Khairul Munadi dalam acara “UHO Rumah Kita – Syukuran dan Temu Keluarga Besar Universitas Halu Oleo” yang mengusung tema “Merawat Silaturahmi, Merajut Kebersamaan, Menyatukan Langkah.”
Menurut Khairul, tema UHO Rumah Kita tidak sekadar menjadi rangkaian kegiatan perayaan Dies Natalis, tetapi menggambarkan semangat yang harus terus dibangun oleh seluruh keluarga besar universitas.
“UHO adalah rumah kita,” tegas Khairul di hadapan keluarga besar UHO.
Ia mengatakan, layaknya sebuah rumah dan keluarga besar, perjalanan UHO tidak terlepas dari dinamika, perbedaan pandangan, hingga kesalahpahaman. Namun, seluruh perbedaan tersebut harus ditempatkan dalam kerangka kepentingan dan cita-cita bersama untuk menjaga serta membesarkan UHO.
“Ada sebuah rumah di dalamnya tentu ada dinamika ada perbedaan pandangan ada perempatan kadang-kadang ada juga salah paham itu semua bagian dari kehidupan sebuah keluarga besar tetapi seberapapun berbedanya kita pada akhirnya kita mempunyai kepentingan yang sama kita punya cita-cita yang sama menjaga rumah ini menjaga rumah besar kita membesarkannya dan mewariskannya dalam keadaan yang lebih baik kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Khairul juga mengingatkan bahwa UHO yang berdiri dan berkembang hingga saat ini tidak lahir dari ruang kosong. Kemajuan universitas merupakan hasil dari perjuangan panjang para pendiri, tokoh, rektor dan pimpinan terdahulu, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta berbagai pihak yang telah memberikan pengabdian.
Karena itu, ia menyampaikan penghormatan dan terima kasih kepada seluruh tokoh yang telah menjadi bagian dari perjalanan UHO. Dalam rangkaian Dies Natalis ke-45 tersebut, UHO juga memberikan apresiasi kepada para tokoh dan keluarga tokoh yang dinilai memiliki kontribusi penting dalam perjalanan universitas.
“Penghargaan ini bukan sekedar seremoni ini adalah cara kita semua Civitas akan mengatakan bahwa Uho tidak akan pernah melupakan segalanya dan tidak melupakan orang-orang yang telah berbiasa membangunnya,” kata Khairul.
Ia menambahkan, keberadaan UHO saat ini tidak terlepas dari fondasi yang telah dibangun oleh para pendahulu.
“Kita tentu saja dapat berdiri tegak hari ini karena sebetulnya ada bahu-bahu besar yang telah menopang UHO sebelum itu dan itulah para pimpinan dan tokoh-tokoh kita yang sudah memberikan dan membangun fondasi besar untuk kemajuan UHO ke depan,” ujarnya.
UHO Mendengar Jadi Bahan Evaluasi
Memasuki usia ke-45, Khairul mengatakan UHO tidak hanya perlu melihat pencapaian yang telah diraih, tetapi juga harus berani melakukan refleksi untuk menentukan arah pengembangan universitas ke depan.
Salah satu langkah yang dilakukan melalui program UHO Mendengar, berupa survei yang ditujukan untuk menggali pandangan dan aspirasi keluarga besar UHO mengenai kondisi universitas saat ini.
“Kita harus mau mendengar kita harus mau mencermati apa yang terjadi selama ini. Itulah mengapa dalam momentum Dies Natalis ke-45 kali ini kita hadirkan UHO Mendengar ataupun survei untuk kita menggali merefleksikan apa yang sudah kita lakukan selama ini,” tuturnya.
Survei tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai hal-hal yang sudah baik dan perlu dipertahankan, persoalan yang masih membutuhkan perhatian, serta harapan keluarga besar UHO terhadap arah pengembangan universitas.
Khairul mengatakan, hasil survei UHO Mendengar nantinya akan disampaikan secara khusus oleh tim survei yang dikoordinasikan oleh Ketua Satuan Pengawas Internal (SPI) UHO.
“Mudah-mudahan nanti hasil tersebut bisa kita gunakan sebagai bahan refleksi dan juga menjadi basis dalam pengembangan UHO ke depan,” katanya.
Namun, ia menegaskan, proses mendengar tidak boleh berhenti pada pengumpulan aspirasi. Hasil survei harus ditindaklanjuti melalui evaluasi, penentuan prioritas, dan perbaikan konkret.
“Setelah mendengar kita harus berani melakukan evaluasi diri setelah mengetahui persoalan kita harus melanjutkan prioritas dan setelah melakukan prioritas kita harus kemudian melakukan perbaikan-perbaikan dengan kata lain UHO mendengar harus berlanjut nantinya menjadi UHO berbenah,” ujarnya.
Membangun UHO Adalah Tanggung Jawab Bersama
Khairul menekankan, hasil UHO Mendengar tidak semestinya hanya menjadi bahan evaluasi bagi rektor atau pimpinan universitas. Seluruh civitas akademika memiliki tanggung jawab untuk menjadikan hasil tersebut sebagai bahan refleksi bersama.
“Karena membantu UHO bukan pekerjaan satu orang, bukan pekerjaan rektor semata. Tetapi juga pekerjaan kita semua,” tegasnya.
Ia mengatakan, perbedaan pandangan justru diperlukan agar universitas tidak terjebak dalam satu perspektif. Namun, setelah saling mendengar dan menemukan kepentingan bersama, seluruh elemen UHO harus mampu menyatukan langkah dan membangun komitmen.
“Kita boleh memiliki pandangan yang berbeda tentang persoalan UHO bahkan perbedaan itu diperlukan agar kita tidak terjebak dalam satu pandangan yang salah tetapi setelah kita saling mendengar setelah kita menemukan apa yang menjadi kepentingan bersama kita harus mampu menyatukan langkah kita harus mampu membangun komitmen bersama,” jelasnya.
Menurut Khairul, universitas yang sehat bukanlah universitas yang tidak memiliki perbedaan, melainkan universitas yang mampu mendengar, berani bercermin, dan terus memperbaiki diri.
“Universitas yang sehat adalah universitas yang mau mendengar berani bercermin dan terus memperbaiki dirinya. Saya kira itulah salah satu bentuk kedewasaan institusional yang perlu kita bangun pada usia UHO yang ke-45 ini,” katanya.
Ia pun mengajak seluruh keluarga besar UHO mengarahkan perhatian pada kualitas pengelolaan universitas dan manfaat keberadaannya bagi masyarakat.
“Pertanyaan kita ke depan bukan lagi hanya sekedar seberapa besar UHO hari ini tetapi seberapa baik kita mengolah UHO, seberapa kuat untuk akademiknya, dan seberapa besar manfaat kehadiran UHO dirasakan oleh masyarakat kita,” ujarnya.
Khairul menegaskan UHO harus semakin unggul dalam pendidikan, semakin kuat dalam riset dan inovasi, serta semakin produktif melahirkan gagasan dan solusi yang memberikan dampak nyata bagi Sulawesi Tenggara dan Indonesia.
“Karena universitas yang hebat Bapak Ibu sekalian bukan hanya universitas yang memiliki banyak prestasi tetapi universitas yang hebat adalah universitas yang kehadirannya dirasakan,” katanya.
Ia juga menyebut kepercayaan dan kebersamaan sebagai modal penting dalam membangun universitas.
“Modal pertama kita bukan gedung bukan anggaran yang besar bahkan bukan teknologi modal pertama kita adalah kepercayaan, trust dan kebersamaan,” tegasnya.
Dies Natalis Jadi Ruang Bergembira
Di tengah pesan reflektif mengenai masa depan UHO, Khairul juga mengajak seluruh keluarga besar universitas menikmati Dies Natalis ke-45 sebagai momentum untuk bergembira dan mempererat hubungan antarkolega.
Ia mengapresiasi berbagai rangkaian kegiatan yang telah digelar, mulai dari kegiatan penelitian dan seni hingga olahraga seperti sepak bola, badminton, tenis, domino, catur, hingga lomba karaoke estafet.
“Bapak Ibu yang saya cintai, hari ini tentu saja kita bergembira. Bergembira merayakan ulang tahun ke – 45 dan juga bisa bertemu sesama kolega Bapak sekalian dan juga para tokoh-tokoh yang sudah disampaikan tadi ini adalah ruang silaturahmi yang penuh gembira,” ujarnya.
Khairul turut menyampaikan selamat kepada para peserta dan pemenang berbagai perlombaan yang telah memeriahkan rangkaian Dies Natalis UHO ke-45.
Ia berharap mereka yang belum berhasil meraih kemenangan dapat kembali berpartisipasi pada tahun berikutnya dengan persiapan yang lebih baik.
“Untuk itu saya ucapkan selamat kepada yang menang yang belum berhasil tahun depan kita ulangi lagi mudah-mudahan bisa lebih besar siapkan diri,” katanya.
Melalui momentum Dies Natalis ke-45, Khairul berharap semangat “UHO Rumah Kita” tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Semangat tersebut diharapkan menjadi komitmen bersama seluruh keluarga besar UHO untuk menjaga kepercayaan, memperkuat kebersamaan, melakukan evaluasi, dan menyatukan langkah demi masa depan universitas.





