Kendari, Berikabar.co – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sulawesi Tenggara bersinergi dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) resmi menyelenggarakan Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) Tahun 2026. Kegiatan ini merupakan komitmen nyata untuk memastikan ketersediaan uang Rupiah layak edar di seluruh wilayah NKRI, khususnya di daerah kepulauan dan wilayah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T).
Menggunakan armada KRI Pulau Rimau 724, ekspedisi ini berlangsung selama tujuh hari, mulai 5 hingga 11 Mei 2026. Perjalanan ini dijadwalkan menjangkau lima pulau di Kabupaten Wakatobi, yakni Pulau Wangi-wangi, Pulau Kaledupa, Pulau Tomia, Pulau Binongko, dan Pulau Runduma.
Edwin Permadi, Kepala KPwBI Sulawesi Tenggara, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan modal kerja dalam jumlah besar untuk mendukung kelancaran transaksi ekonomi masyarakat kepulauan. “Bank Indonesia menyiapkan total modal kerja sebesar Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah) untuk diedarkan kepada masyarakat,” ungkapnya.
Selain layanan kas keliling untuk menarik Uang Tidak Layak Edar (UTLE) melalui Clean Money Policy, ekspedisi ini juga membawa misi literasi yang kuat. Hal ini didasari oleh capaian indeks Awareness Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah Sultra tahun 2025 yang mencapai 84,90, menempatkannya sebagai yang tertinggi di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Tidak hanya urusan moneter, ERB 2026 juga merangkul aspek sosial dan edukasi, di antaranya:
Edukasi CBP Rupiah: Sosialisasi pemahaman terhadap nilai dan perilaku terhadap mata uang negara.
Open Ship Experience: Memberikan pengalaman bagi siswa-siswi sekolah untuk mengenal lebih dekat armada TNI AL.
Kegiatan Sosial: Pemeriksaan kesehatan gratis dan sunatan massal bagi warga Wangi-wangi dan Tomia, bekerja sama dengan pemerintah daerah dan Dinas Kesehatan setempat.
Pemilihan Wakatobi sebagai lokasi utama sangatlah strategis mengingat statusnya sebagai cagar biosfer dunia UNESCO sejak 2012 dan salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Prioritas. Kehadiran Rupiah di wilayah perairan strategis ini bukan sekadar alat pembayaran, melainkan simbol kedaulatan negara yang wajib dijaga.
Ke depan, sinergi antara Bank Indonesia, TNI AL, dan Pemerintah Daerah diharapkan terus menguat guna menjaga kedaulatan ekonomi serta keutuhan NKRI dari sisi pertahanan maupun stabilitas sistem pembayaran.





