Jakarta, Berikabar.co — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi meluncurkan buku berjudul “Mengenal dan Memahami Perdagangan Karbon bagi Sektor Jasa Keuangan”, sebagai upaya strategis memperkuat kontribusi sektor jasa keuangan dalam mendukung transisi menuju ekonomi hijau dan pembangunan rendah karbon.
Peluncuran buku dilakukan di Main Hall Bursa Efek Indonesia oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, bersama Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Inarno Djajadi, Direktur Utama BEI Iman Rachman, dan Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat.
Mahendra menegaskan bahwa krisis iklim menuntut aksi konkret dan kolaboratif, termasuk melalui mekanisme perdagangan karbon.
“Peluncuran buku ini sejalan dengan amanat UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang PPSK, yang memberi mandat kepada OJK untuk mengatur dan mengembangkan perdagangan karbon melalui pasar sekunder,” jelas Mahendra.
Buku ini dirancang untuk memberikan pemahaman menyeluruh mengenai prinsip dasar, regulasi, serta tata kelola perdagangan karbon. Isinya mencakup potensi dan tantangan, serta peran strategis sektor keuangan dalam menciptakan pasar karbon yang transparan dan kredibel, baik di tingkat nasional maupun global.
Lebih jauh, Mahendra menambahkan bahwa buku ini turut mengidentifikasi potensi risiko perdagangan karbon, seperti fraud, misstatement, hingga praktik greenwashing.
“Karenanya, kita memerlukan sistem tata kelola yang kokoh, pengawasan efektif, dan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya.
Ia berharap buku ini dapat menjadi rujukan penting bagi industri keuangan, akademisi, mahasiswa, dan publik luas dalam mendukung pencapaian Target Net Zero Emission Indonesia pada 2060, atau bahkan lebih cepat.
Senada dengan itu, Direktur Utama BEI Iman Rachman menyampaikan apresiasinya atas dukungan OJK dan Kementerian Lingkungan Hidup dalam pengembangan ekosistem karbon nasional. Ia menyebut peluncuran buku ini sebagai manifestasi komitmen terhadap keberlanjutan.
“Pengawasan OJK serta integrasi dengan Sistem Registri Nasional adalah fondasi penting yang memperkuat kredibilitas pasar karbon Indonesia,” ungkap Iman.
Berdasarkan data per 14 Juli 2025, perkembangan pasar karbon Indonesia menunjukkan tren positif:
-
Volume transaksi mencapai 1,59 juta ton CO₂e senilai Rp78 miliar
-
Harga karbon IDTBS: Rp58.800 ($3,6), IDTBS-RE: Rp61.000 ($3,7)
-
Tercatat 8 proyek terdaftar, sebagian besar berasal dari sektor energi (PT Pertamina Power Indonesia, PTPN IV, serta grup PLN)
-
Jumlah retirement tercatat 980.475 ton CO₂e
-
Pengguna jasa meningkat signifikan dari 16 menjadi 113 entitas
Sebagai implementasi UU PPSK, OJK telah mengeluarkan regulasi seperti POJK 14/2023 dan SEOJK 12/2023, serta meluncurkan Bursa Karbon Indonesia pada 26 September 2023. Akses perdagangan karbon internasional juga telah dibuka sejak Januari 2025.
Prestasi Indonesia turut diakui secara global, dengan IDX Carbon meraih penghargaan Best Official Carbon Exchange in an Emerging Market dalam ajang Carbon Positive Award 2025 oleh Green Cross UK.
OJK menutup peluncuran dengan menyampaikan apresiasi terhadap sinergi lintas lembaga dan pemangku kepentingan yang terus memperkuat fondasi ekonomi hijau berkelanjutan dan mendukung komitmen nasional untuk pencapaian NDC (Nationally Determined Contribution).





