Kendari, Berikabar.co – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tenggara mencatat kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tetap menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah. Hingga Maret 2026, nilai kredit UMKM mencapai Rp16,45 triliun atau setara 30,2 persen dari total kredit perbankan di Sulawesi Tenggara.
Kepala OJK Sulawesi Tenggara, Bismi Maulana Nugraha, mengatakan porsi kredit UMKM masih terjaga dalam tiga periode terakhir dan menunjukkan konsistensi dukungan sektor perbankan terhadap pelaku usaha kecil.
“Share kredit UMKM terhadap total kredit mencapai 30,2%, konsisten dalam tiga periode terakhir (Mar’25: 31,4% → Des’25: 30,8% → Mar’26: 30,2%). Nilai absolut kredit UMKM mencapai Rp16,45 triliun. OJK terus mendorong perluasan akses kredit bagi UMKM karena segmen ini merupakan tulang punggung perekonomian daerah,” ujarnya.
Selain itu, program Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga menunjukkan perkembangan positif. Sepanjang tahun 2025, realisasi penyaluran KUR di Sulawesi Tenggara mencapai Rp4,1 triliun kepada 79.450 debitur.
“Data KUR 2025 menunjukkan realisasi penyaluran di Sultra mencapai Rp4,1 triliun kepada 79.450 debitur sepanjang 2025, meningkat dibanding tahun sebelumnya. Ini membuktikan program KUR berhasil menjadi jembatan akses modal bagi pelaku usaha kecil,” kata Bismi.
Meski demikian, OJK memberikan perhatian khusus terhadap tren kenaikan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) pada segmen UMKM.
“NPL menjadi salah satu fokus pengawasan kami. Kualitas kredit perbankan Sultra terjaga dengan baik. NPL Gross tercatat 1,85%, masih berada di bawah ambang batas maksimal 5% yang ditetapkan regulator artinya industri perbankan Sultra dalam kondisi sehat. Namun demikian, perlu diwaspadai NPL kredit UMKM (Gross) yang berada di angka 3,64%, meningkat dari 2,85% (Mar’25) dan 3,21% (Des’25),” jelasnya.
Bismi menilai terdapat tiga tantangan utama yang saat ini dihadapi industri perbankan daerah, yakni percepatan transformasi digital, penguatan kualitas kredit UMKM, dan perluasan layanan ke wilayah kepulauan.
“Ada tiga tantangan utama yang saya identifikasi. Pertama, tekanan dari ekosistem digital dimana bank harus bergerak lebih cepat bertransformasi digital atau kehilangan nasabah ke fintech. Kedua, tekanan kualitas kredit UMKM. Tren kenaikan NPL UMKM menuju 3,64% menjadi sinyal agar perbankan meningkatkan pendampingan dan seleksi debitur, tidak sekadar mengejar target penyaluran. Ketiga, perluasan jangkauan ke daerah kepulauan,” ungkapnya.
OJK Sultra memastikan akan terus memperkuat pengawasan serta mendorong perbankan untuk meningkatkan kualitas pembiayaan agar pertumbuhan sektor UMKM tetap sehat dan berkelanjutan.





