Kendari, Berikabar.co – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka, menegaskan bahwa kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana merupakan bentuk perhatian serius pemerintah daerah, melampaui sekadar formalitas administratif. Hal ini disampaikan saat memimpin apel kesiapsiagaan personel dan perlengkapan menyambut Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) di halaman Kantor BPBD Sultra, Kamis (18/12/2025).
Ia menekankan pentingnya sinergi antara TNI, Polri, dan instansi terkait untuk memastikan stabilitas keamanan dan keselamatan jiwa di tengah tingginya aktivitas masyarakat pada akhir tahun.
“Kesiapsiagaan adalah komitmen kita terhadap ancaman yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Kita harus memastikan seluruh komponen, mulai dari TNI, Polri, hingga instansi terkait berada dalam kondisi prima untuk mengamankan logistik dan jiwa masyarakat,” kata Andi Sumangerukka.
Mengingat kerentanan wilayah Sultra terhadap gempa bumi, banjir, dan tanah longsor, Ia menginstruksikan seluruh jajaran untuk bergerak dalam satu komando yang terintegrasi demi kenyamanan publik.
“Kita bergerak dalam satu komando agar tidak terjadi tumpang tindih di lapangan. Kelancaran ibadah Natal dan kenyamanan wisatawan harus terjamin tanpa gangguan,” tegasnya.
Respons Cepat 24 Jam dan Pemetaan Risiko Sebagai langkah konkret, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sultra telah mendirikan posko terpadu dengan slogan “Satu Komando, Respon Cepat” yang akan beroperasi penuh hingga 5 Januari 2026. Kepala BPBD Sultra, Saifuddin, menjelaskan bahwa kekuatan personel gabungan telah dikerahkan secara maksimal.
“Kami menyiagakan personel gabungan yang terdiri dari 30 personel TNI baik darat, udara dan laut. 30 personel Polri, serta tim Tagana. Mereka akan berjaga secara bergantian untuk memastikan respon cepat jika terjadi situasi darurat,” ujar Saifuddin.
Saifuddin membeberkan fakta bahwa Sultra kini menempati peringkat ketiga nasional dalam Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) kategori risiko besar. Menanggapi data tersebut, BPBD telah merampungkan empat Prosedur Tetap (Protap) prioritas, yakni untuk penanganan banjir, tanah longsor, gempa bumi, dan tsunami.
Berdasarkan analisis kerentanan terbaru, Kota Baubau mencatatkan angka IRBI tertinggi, sementara Kota Kendari berada di posisi terendah. Saifuddin juga memberikan catatan penting bagi pemerintah daerah yang belum menyetorkan data risiko wilayahnya.
“Berdasarkan data kepadatan penduduk dan kerentanan, Baubau memiliki IRBI tertinggi dan Kendari terendah. Kami mengimbau pemerintah kabupaten/kota yang belum mengirimkan data IRBI-nya untuk segera melapor. Saat ini baru Buton, Baubau, dan Bombana yang telah mengirimkan data lengkap,” pungkas Saifuddin.
Guna memastikan peringatan dini sampai ke masyarakat, BPBD Sultra terus melakukan pemantauan cuaca secara real-time melalui grup koordinasi terpadu agar perayaan akhir tahun di seluruh Sulawesi Tenggara dapat berjalan aman dan lancar.





