PT Vale Indonesia Raih Gold Achievement OPEXCON 2025 Berkat Otomasi Slag Furnace Berbasis Machine Learning

oleh -251 Dilihat

Jakarta, Berikabar.co — Industri nikel Indonesia kembali mencatatkan pencapaian penting dalam penguatan standar operational excellence nasional. Pada ajang Operational Excellence Conference (OPEXCON) 2025, inovasi otomasi pengaturan rasio Silica/Magnesia (S/M) pada slag furnace berbasis machine learning berhasil meraih Gold Achievement.

Solusi cerdas ini dikembangkan dan diimplementasikan oleh PT Vale Indonesia Tbk (“PT Vale”), anggota MIND ID (Mining Industry Indonesia Holding), sebagai bagian dari perjalanan transformasi digital yang selama beberapa tahun terakhir menjadi pondasi utama peningkatan kinerja operasional perusahaan.

Penghargaan ini menegaskan posisi Perseroan sebagai perusahaan pertambangan yang mampu mengintegrasikan operational excellence, keselamatan, dan teknologi tingkat lanjut untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan. Capaian ini mencerminkan komitmen jangka panjang Perseroan untuk menghadirkan operasi nikel berkelas dunia yang aman, cerdas, dan rendah emisi.

Proyek yang memenangkan penghargaan ini mengatasi salah satu tantangan historis dalam proses peleburan nikel: ketidakstabilan rasio S/M pada slag furnace yang menyebabkan aliran slag tidak optimal dan menurunkan produksi. Dengan menerapkan teknologi machine learning yang terintegrasi langsung dengan sistem kendali lapangan, PT Vale berhasil meningkatkan S/M compliance dari rata-rata 89% menjadi 95%, sekaligus menghilangkan kebutuhan penyesuaian manual 24/7. Inovasi ini memberikan dampak signifikan pada produktivitas, dengan potensi pemulihan produksi hingga $\pm 182$ ton nikel per tahun serta mengurangi risiko operasional secara drastis.

Inisiatif tersebut dijalankan oleh tim proyek “Slag Aman Tidur Nyenyak”, yang terdiri dari berbagai fungsi kunci dalam operasi pemrosesan nikel. Tim ini dipimpin oleh Ikra Setya Utama selaku Project Lead, dengan anggota: Yuda Kusumah, Mawaz Rindra Dihari, Amelia Welirangan, Ruti Pusakawati, Syahril Yusuf, dan Fitrian Oddang.

Bernardus Irmanto, Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia, menyambut baik pengakuan ini.

BACA JUGA :  Kunjungi SPKLU di Banten, Menteri ESDM Apresiasi Kesiapan PLN Sambut Mudik Lebaran 2025

“Pengakuan ini menunjukkan bahwa operational excellence bukan sekadar konsep bagi kami, tetapi sistem yang hidup dalam setiap aspek kerja,” ujar Bernardus Irmanto. “Dengan memadukan disiplin proses, keselamatan, dan kecerdasan buatan, kami membuktikan bahwa industri pertambangan di Indonesia dapat berada di garis depan inovasi global. Prestasi ini adalah bukti bahwa transformasi digital yang dijalankan dengan tujuan yang jelas mampu menghasilkan peningkatan nyata bagi perusahaan, lingkungan, dan masyarakat.” sambungnya.

Keberhasilan proyek ini berakar pada pendekatan lintas fungsi yang melibatkan Process Plant Operations, Automation, Quality Assurance Engineer, Laboratorium, hingga Operational Excellence. Melalui integrasi data real-time, neural network, analisa XRF laboratorium, serta sistem kendali PLC, PT Vale menciptakan platform otomasi yang mampu membuat keputusan secara mandiri. Pendekatan ini menghilangkan delay yang sebelumnya mencapai $30$$150$ menit menjadi $0$ menit, sekaligus menghapus repetitive task yang berpotensi menimbulkan kelelahan operator.

Prestasi ini memiliki arti strategis bagi Indonesia. Peningkatan efisiensi dan reliabilitas produksi nikel menjadi fondasi penting bagi kontribusi Indonesia terhadap rantai pasok mineral kritis global, memperkuat posisi negara sebagai pemasok yang andal dan bertanggung jawab.

“Pencapaian ini menunjukkan kematangan budaya perbaikan berkelanjutan di Vale,” tambah Zainuddin, Head of Operational Excellence PT Vale.

Inovasi ini bukan hanya tentang meningkatkan produksi, tetapi tentang menciptakan proses yang lebih aman, efisien, dan berwawasan masa depan. “Dengan pemanfaatan machine learning yang terintegrasi, kami tidak hanya menyelesaikan masalah teknis, tetapi juga memperkuat fondasi keberlanjutan jangka panjang perusahaan,” katanya.

Implementasi otomasi slag furnace ini juga sejalan dengan agenda perusahaan untuk menurunkan emisi. Dengan stabilitas furnace yang lebih baik, inisiatif ini berpotensi mengurangi emisi hingga $\text{6.000 ton CO}_2\text{eq}$ per tahun, atau setara dengan penyerapan lebih dari $250.000$ pohon.

BACA JUGA :  Terkait Wisuda Mahasiswa, STMIK Bina Bangsa Tegaskan Syarat Administrasi Melalui Rekening Yayasan

“Gold Achievement ini bukan akhir, tetapi fondasi untuk tahap transformasi berikutnya,” tutup Zainuddin.