Paduan Rasa dan Teknologi, QRIS Bantu UMKM Lokal Naik Kelas

oleh -402 Dilihat
Salah seorang konsumen sedang melakukan pembayaran QRIS di Tree Coffee. Foto: Sitti Harlina

Kendari, Berikabar.co – Zulham Dwi Saputra, owner dari Tree Coffee tidak menyangka usaha yang dibangunnya sejak tahun 2018 akan berkembang hingga memiliki dua cabang. Pasang surut dalam membangun usaha coffee shop-nya tentu sudah dialaminya pula.

“Awal mula Tree Coffee buka itu tahun 2018 di kawasan MTQ dengan modal gerobak kecil dan alat sederhana, buka mulai pukul 17.00 hingga 24.00. Tapi yang namanya baru memulai usaha ya kadang sepi pengunjung, terpaksa saya harus buka sampe jam 02.00 hingga 03.00,” kenangnya kepada berikabar.co, Jumat (15/8/2025).

Diakuinya tidak mudah membangun usaha sebagai perintis, apalagi usaha kopi saat itu mulai digemari kaum milenial hingga gen z. Paduan rasa hingga digitalisasi merupakan faktor yang ikut mendorong usahanya terus berkembang hingga memiliki dua cabang. “QRIS sangat membantu dalam membesarkan usaha saya karena mempermudah transaksi dan aman, daripada  pembayaran cash yang biasa selisih. Sangat membantu untuk orderan online,” tuturnya.

Penggunaan QRIS di coffee shop-nya sendiri sudah dilakukan sejak 2022 lalu. Alhasil, pencatatan pemasukan sangat rapi dan memberikan kemudahan bagi konsumen. “Alhamdulillah memudahkan juga buat konsumen untuk transaksi karena sebagian orang juga sudah jarang pegang cash. Jadi QRIS bisa menjadi opsi yang wajib menurutku ada di coffee shop saya,” tegas Zulham.

Suasana pengunjung di Tree Coffee. Outlet ini merupakan cabang kedua dari Tree Coffe. Foto: Sitti Harlina

Menurutnya sebagai pengusaha UMKM, QRIS sangat memudahkan dan membantu membesarkan usahanya yang telah dibangun selama kurang lebih tujuh tahun ini. Pasalnya, dengan menggunakan QRIS, baik penjual dan pembeli tidak perlu menyediakan uang kembalian dan pembayaran juga dilakukan sesuai nominal.

“Saya tidak usah lagi sering-sering cari uang kecil untuk kembalian dan tidak usah lagi ke bank untuk setor tunai, jadi waktu lebih efisien,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan oleh Ragil, salah seorang pedagang kopi keliling Momen yang mengaku mengalami peningkatan penjualan setelah menggunakan QRIS. “Kurang lebih baru enam bulan pakai QRIS, tapi penjualan kopi saya sudah meningkat hingga 30 persen,” katanya.

Sebelum memiliki kode bayar dari QRIS ia juga sempat mengalami kesulitan karena rata-rata konsumennya ingin melakukan pembayaran non tunai. “Awal-awal itu setiap pembeli saya tanya, bisa QRIS, ada QRISnya karena rata-rata orang kan sudah jarang bawa cash, lebih praktis pakai QRIS,” ujar Ragil.

Pembayaran dengan non tunai ini juga, lanjut Ragil memberikan kemudahan dalam melaporkan penjualannya kepada bosnya. Penjualan juga lebih transparan sehingga tidak ada kesalahan ketika menyetorkan uang penjualan.

“Saya pribadi memang membantu sekali, tidak ada lagi selisih penjualan, uang juga langsung masuk ke satu rekening karena kodenya kan satu. QRIS ini mempermudah kami sebagai penjual kopi keliling,” tukasnya.

BACA JUGA :  Andi Sumangerukka Dengarkan Curhat Milenial di Kolaka
Ragil, pedagang kopi keliling Moment sedang mengambil bukti foto pembayaran yang dilakukan konsumennya saat membayar dengan menggunakan pembayaran QRIS. Foto: Sitti Harlina

Berbeda lagi dengan kisah Hasbiah, owner dari Keripik Jagung Cornah yang merupakan salah satu binaan UMKM Perwakilan BI Sultra. Dijelaskannya pembinaan ke arah digitalisasi yang dilakukan BI Sultra kepada dirinya dan sejumlah UMKM lainnya memberikan dampak positif dalam membesarkan usaha yang sedang dijalani.

“Mulai dari manajemen bisnis, marketing dan branding hingga support serta dukungan penuh dalam menggunakan QRIS, karena QRIS memberikan kemudahan dalam transaksi,” bebernya.

Tidak hanya itu, keterlibatan pengusaha UMKM ini dalam setiap kegiatan tentu memberikan dampak signifikan karena promosi semakin gencar dilakukan.

“Kami dilibatkan dalam event-event jadi QRIS ini membantu untuk penjualan kami di lapangan saat ada kegiatan, lebih efisien dan tidak takut uangnya hilang, tercecer atau kecurian karena langsung masuk rekening yang sudah didaftarkan,” katanya.

Usaha yang dirintis sejak 2019 lalu, kini terus mengalami peningkatan penjualan hingga pilihan berbagai rasa. Jika awalnya hanya memproduksi pada angka puluhan, saat ini Keripik Jagung Cornah bisa memproduksi antara 100 hingga 200 pcs dalam sehari.

Dian (35), seorang ibu rumah tangga mengatakan bahwa sudah beberapa tahun terakhir ia sudah jarang membawa dompet karena mengandalkan pembayaran non tunai. Apalagi, kesehariannya yang disibukkan dengan mengurus balita kadang membuatnya lupa membawa uang cash.

“Saya pribadi menilai pembayaran dengan menggunakan QRIS memberikan banyak manfaat antara lain kemudahan dalam bertransaksi, kecepatan, keamanan dan kemudahan dalam pengelolaan keuangan,” katanya.

Ibu tiga anak ini menuturkan hanya dengan memindai kode menggunakan dompet digital atau mobile banking pembayaran bisa dilakukan dengan nominal sesuai. “Tidak perlu lagi bawa uang cash, kartu ATM karena transaksi dilakukan secara digital,” tuturnya.

Dampak positif lain lanjutnya, yakni baik penjual dan pembeli akan terhindar dari peredaran uang palsu karena tidak lagi menggunakan cash sehingga lebih aman.

Pengamat Ekonomi Sultra, Dr Syamsir Nur memberikan pandangannya terhadap penggunaan QRIS bagi pengusaha UMKM yang ada di Sultra. Menurutnya, QRIS dapat mendorong pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih positif.

“Kehadiran QRIS setidaknya membantu UMKM dalam meningkatkan efisiensi dalam bertransaksi dan juga masyarakat pelanggan, aksesibilitas dalam transaksi digital serta mengurangi biaya transaksi sehingga dapat meningkatkan omzet, pendapatan dan daya saing UMKM,” jelasnya.

Meski demikian, menurutnya masih perlu pemanfaatan QRIS yang lebih massif karena tidak semua pelaku UMKM sudah memiliki pengetahuan yang cukup tentang penggunaan QRIS terutama usaha mikro, usaha rumahan dan usaha informal.

“Bagi pengusaha UMKM yang sudah paham atau mengaplikasikan QRIS tentunya akan jauh lebih berkembang pada segmen pasar tertentu terutama kelompok masyarakat menengah. Karenanya akan memiliki dampak terhadap perekonomian masyarakat terutama konsumsi, investasi maupun bergeraknya lapangan usaha industri dalam menopang perekonomian,” tegas Syamsir yang juga merupakan Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Kendari.

BACA JUGA :  Indosat Kembali Gelar IDCamp 2025, Cetak Talenta Digital Unggul Berfokus pada AI
KPw BI Sultra, Edwin Permadi saat menunjukkan barcode pembayaran QRIS yang bisa digunakan untuk mempermudah transaksi non tunai. Foto: Akbar BI Sultra

KPw BI Sultra, Edwin Permadi menjelaskan bahwa hingga Juni 2025 data pengguna QRIS di Sultra mencapai 284.095 atau meningkat sebesar 19,41 persen (yoy) dibandingkan data Juni 2024 yang tercatat hanya 237.918. Hal ini menunjukkan semakin besarnya penerimaan penggunaan pembayaran menggunakan QRIS di kalangan masyarakat Sultra.

Namun demikian, BI Sultra sendiri terus berupaya agar penggunaan QRIS di Sultra bisa terus bertambah dari tahun ke tahun, berbagai upaya sosialisasi hingga dukungan kepada UMKM terus dilakukan.

“Untuk lokal dulu, misalnya kalau ada kegiatan seperti Sultra Maimo baru-baru ini kami libatkan UMKM dan rata-rata transaksi memang menggunakan QRIS. Kita juga libatkan perbankan, sehingga biasa pada kegiatan-kegiatan ada pegguna baru lagi,” katanya.

Selain dukungan kepada UMKM, BI Sultra juga melakukan kegiatan seperti safari QRIS yang telah dilakukan pada tahun 2024 dan 2025.

“Safari QRIS yang telah dilaksanakan pada tahun 2024  di Kota Kendari pada tanggal 14 dan 15 Agustus berhasil menambah pengguna baru sebanyak 334 dengan 82 merchant, sedangkan pelaksanaan di Kabupaten Kolaka pada 24 sampai 27 Oktober berhasil menambah 557 pengguna baru dengan total 145 merchant,” jelasnya.

Tidak berhenti di tahun 2024, safari QRIS masih berlanjut pada tanggal 15 sampai 18 Mei 2025 di Kota Baubau dengan capaian pengguna baru sebanyak 852 dan merchant baru 325.

“Pada Juni 2025 jumlah merchant QRIS tercatat 208.552 atau meningkat sebesar 36,13 persen (yoy) dari Juni 2024 yang tercatat 153.200 merchant. Sedangkan, untuk nominal transaksinya tercatat pada Juni 2025 yakni sebesar Rp252.268 juta atau mengalami peningkatan sebesar 64,65 persen (yoy) dibandingkan Juni 2024 yang tercatat sebesar Rp157.463 juta,” kata Edwin.

Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran saat menghadiri peluncuran 115 Kios Pangan Digital berbasis pembayaran QRIS di Kantor BI Sultra. Foto: Sitti Harlina

Bak gayung bersambut, Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran memberikan dukungan penuh kepada pengusaha UMKM untuk menggunakan QRIS sebagai pembayaran non tunai. Hal ini dibuktikan dengan  peluncuran 115 Kios Pangan Digital berbasis pembayaran QRIS

“QRIS memudahkan masyarakat kita dan sinergi juga dengan program kami yang mengurangi penggunaan tunai. Kan sekarang sudah sistem digitalisasi, Pemkot sendiri mulai mengurangi sistem tunai, masyarakat kita juga bisa dimudahkan dengan fasilitas ini,” katanya.

“Pemerintah Kota Kendari juga per tahun 2026 semua pembayaran sudah non tunai,” pungkasnya.

 

Penulis: Sitti Harlina