Kendari, Berikabar.co – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tenggara (Sultra), Bismi Maulana Nugraha, menegaskan bahwa perluasan inklusi keuangan harus disertai perlindungan masyarakat dari pinjaman ilegal, judi online, dan investasi bodong. Menurutnya, keberhasilan program keuangan tidak hanya ditentukan oleh besarnya pembiayaan, tetapi juga oleh manfaat yang dirasakan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Bismi saat menutup rangkaian Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 di kawasan Eks MTQ Sultra, Minggu (25/10/2026) malam.
Selama dua hari pelaksanaan pada 24–25 Oktober 2026, BIK Sultra mencatat penyaluran kredit dan pembiayaan sebesar Rp67,50 miliar, sebanyak 5.778 pengunjung, pembukaan 4.889 rekening baru, serta 200 peserta edukasi keuangan.
Bagi Bismi, angka-angka tersebut bukan sekadar indikator keberhasilan kegiatan, melainkan gambaran peluang masyarakat untuk membangun masa depan keuangan yang lebih baik.
“Angka itu secara statistik, tapi satu rekening adalah satu keluarga yang mulai menabung untuk masa depan anaknya. Setiap satu petani yang tidak lagi takut kehilangan segalanya. Setiap satu warga yang teredukasi adalah satu korban investasi ilegal yang berhasil kita selamatkan,” ujar Bismi.
Ia menekankan pentingnya memperluas edukasi keuangan, terutama bagi pelajar dan mahasiswa, agar generasi muda mampu mengelola keuangan secara bijak dan mengenali risiko berbagai tawaran keuangan yang tidak bertanggung jawab.
Edukasi tersebut dinilai penting untuk mencegah masyarakat terjerat pinjaman ilegal, praktik judi online, maupun investasi bodong yang dapat menggerus tabungan dan mengganggu ketahanan ekonomi keluarga.
Di sisi lain, Bismi mendorong agar perluasan akses pembiayaan benar-benar menjangkau pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), petani, serta nelayan. Menurutnya, akses keuangan yang memadai dapat membantu masyarakat mengembangkan usaha dan menghadapi risiko ekonomi dengan lebih baik.
Ia berharap tidak ada nelayan yang terjerat rentenir, petani yang jatuh miskin akibat gagal panen, maupun generasi muda Sultra yang kehilangan tabungannya karena investasi bodong.
Bismi juga mengapresiasi dukungan Gubernur Sulawesi Tenggara beserta jajaran pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan seluruh lembaga jasa keuangan yang berkolaborasi dalam pelaksanaan BIK 2026. Ia menegaskan bahwa kerja sama lintas sektor harus berlanjut agar edukasi dan layanan keuangan menjangkau masyarakat di pelosok hingga pulau-pulau terluar.
Dalam sambutannya, Bismi mengaitkan inklusi keuangan dengan tanggung jawab bersama untuk memastikan seluruh masyarakat memiliki kesempatan menikmati kemajuan ekonomi.
“Bagi saya, mencintai tanah air bukan hanya mengibarkan bendera. Mencintai tanah air adalah memastikan tidak ada satu pun anak negeri yang tertinggal dari kemajuan,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa berakhirnya kegiatan BIK tidak berarti upaya meningkatkan inklusi keuangan turut berhenti. Menurutnya, edukasi, perluasan akses, dan perlindungan konsumen membutuhkan komitmen berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan.
“BIK memang berakhir di hari ini, tapi kami memohon kepada Bapak, Ibu, dan teman-teman semuanya, mari kita jadikan hari ini bukan akhir, melainkan sebuah awal dari perjalanan,” kata Bismi.
OJK Sultra, lanjutnya, akan terus bekerja bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, pemerintah kabupaten dan kota, serta pemangku kepentingan terkait untuk memperluas jangkauan layanan keuangan dan meningkatkan pemahaman masyarakat.
“Kami siap berjalan di sisi Bapak dan Ibu sekalian, dari kota hingga pulau-pulau terluar, sampai setiap rumah tangga di Bumi Anoa,” pungkasnya.





