Jakarta, Berikabar.co — Kekayaan wastra Sulawesi Selatan mendapat ruang di panggung industri kreatif nasional melalui keikutsertaan Maskerade dalam INACRAFT 2026 di Jakarta International Convention Centre (JICC), 7 hingga 11 September 2026.
Brand fashion dan kerajinan tangan asal Makassar tersebut merupakan UMKM mitra binaan Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi yang terpilih melalui proses kurasi untuk mewakili Sulawesi Selatan dalam ajang kerajinan dan produk kreatif berskala nasional itu.
Keikutsertaan di INACRAFT menjadi kesempatan bagi Maskerade untuk memperkenalkan produk berbasis wastra dan handcraft khas Sulawesi Selatan kepada pasar yang lebih luas. Selain memperluas pemasaran, momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk membangun jejaring dengan calon mitra, konsumen, serta pelaku industri kreatif dari berbagai daerah.
Didirikan pada 2017 oleh Nana Ibrahim, Maskerade berawal dari usaha sederhana dengan modal yang berasal dari uang jajan saat kuliah. Dari awal tersebut, Nana membangun gagasan untuk membuat kain tradisional tetap relevan dan menarik bagi generasi muda melalui pengembangan desain yang lebih modern.
Gagasan itu diwujudkan melalui busana kontemporer yang memadukan kekayaan wastra Nusantara, di antaranya Sutra Sengkang dan Tenun Toraja, dengan desain modern. Maskerade juga mengembangkan berbagai aksesori menggunakan material ramah lingkungan, termasuk limbah botol kaca yang diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi.
Perkembangan Maskerade turut membuka ruang bagi penjahit dan pengrajin lokal untuk terlibat dalam proses produksi. Dari Makassar, produk Maskerade kemudian berkembang hingga dipasarkan melalui gerai resminya di Nipah Park Makassar dan menjangkau pasar internasional seperti Malaysia, Jepang, dan Belanda.
Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Lilik Hardiyanto mengatakan, keikutsertaan Maskerade di INACRAFT menjadi bagian dari upaya Pertamina membuka akses pasar yang lebih luas bagi UMKM binaannya.
“Maskerade menunjukkan bagaimana kekayaan budaya lokal dapat dikembangkan menjadi produk yang punya nilai ekonomi dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Melalui INACRAFT, kami ingin membuka lebih banyak ruang bagi UMKM binaan untuk memperkenalkan produknya, membangun jaringan, dan menemukan peluang baru untuk mengembangkan usaha,” ujar Lilik.
Menurut Lilik, pengembangan UMKM membutuhkan proses yang berkelanjutan. Akses terhadap pasar, kesempatan memperkenalkan produk, penguatan merek, serta jejaring bisnis menjadi bagian penting agar usaha dapat tumbuh dan memiliki daya saing.
Bagi Nana, perjalanan Maskerade dari usaha kecil hingga dapat membawa karya berbasis wastra Sulawesi Selatan ke berbagai pasar memberikan pengalaman penting dalam membangun sebuah brand.
“Dari awal, kami ingin menunjukkan bahwa kain tradisional bisa tampil modern dan dekat dengan anak muda. Kami terus belajar bagaimana mengolah cerita dari kain dan budaya kita menjadi produk yang bisa diterima lebih banyak orang. Kesempatan mengikuti INACRAFT memberi kami ruang untuk bertemu pasar baru, memperkenalkan karya, sekaligus melihat peluang kolaborasi yang bisa dikembangkan ke depan,” kata Nana.
Nana mengatakan, keterlibatan pengrajin dan penjahit lokal menjadi bagian penting dari perjalanan Maskerade. Setiap produk yang dibuat membawa proses panjang, mulai dari pemilihan material, pengembangan desain, hingga pengerjaan oleh tenaga lokal.
“Bagi kami, setiap produk punya cerita. Ada cerita tentang kainnya, pengrajinnya, daerah asalnya, dan proses bagaimana semuanya bisa menjadi sebuah produk yang bisa dipakai sehari-hari. Itu yang ingin terus kami bawa ketika memperkenalkan Maskerade ke pasar yang lebih luas,” tambah Nana.
Melalui partisipasi dalam INACRAFT 2026, Maskerade tidak hanya memperkenalkan produk, tetapi juga membangun koneksi dengan calon mitra, konsumen, dan pelaku industri kreatif. Momentum tersebut diharapkan dapat memperluas jaringan pemasaran sekaligus membuka peluang kolaborasi dan pengembangan bisnis.
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi terus mendorong UMKM binaannya mengembangkan potensi produk lokal melalui peningkatan kapasitas, penguatan branding, dan perluasan akses pasar. Pendampingan tersebut diarahkan agar produk berbasis potensi daerah memiliki peluang tumbuh dan menjangkau konsumen yang lebih luas.





