Jakarta, Berikabar.co – Ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 diprakirakan tetap tumbuh kuat di tengah tantangan ekonomi global. Daya beli masyarakat tetap terjaga dalam mendukung konsumsi rumah tangga, didukung peran shock absorber Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dalam mendorong efektivitas program perlindungan sosial (perlinsos), stabilisasi harga pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja, serta stimulus pada periode libur sekolah.
Investasi diprakirakan tumbuh kuat, ditopang oleh proyek-proyek hilirisasi bernilai tambah tinggi dan pembangunan infrastruktur pada program prioritas Pemerintah. Sementara itu, konsumsi Pemerintah diprakirakan tumbuh positif, sejalan dengan percepatan belanja program prioritas, pembayaran gaji ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), dan penyaluran bantuan sosial.
Koordinasi kebijakan antara Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus diperkuat dalam menjaga kecukupan likuiditas perekonomian dan perbankan. Hal ini tecermin dari pertumbuhan uang primer (M0) yang tinggi sepanjang triwulan II dan berlanjut tumbuh 15,4% yoy pada Juli minggu ketiga 2026, serta fungsi intermediasi perbankan yang semakin baik.
Aktivitas manufaktur sempat termoderasi pada akhir triwulan II, namun kembali melanjutkan ekspansi pada Juli 2026 dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur berada di level 50,2, menunjukkan pemulihan optimisme pelaku usaha.
Ke depan, sinergi kebijakan antarlembaga anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan terus diperkuat guna menjaga keberlanjutan momentum pertumbuhan. Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan tahun 2026 diprakirakan berada dalam kisaran 5,6–6,0% yoy, ditopang berbagai sinergi kebijakan Pemerintah dan lembaga anggota KSSK lainnya untuk menjaga berlanjutnya momentum pertumbuhan.
Ketahanan Eksternal Perlu Terus Diperkuat
Ketahanan eksternal perlu terus diperkuat untuk memitigasi dampak rambatan tingginya ketidakpastian global. Neraca perdagangan pada Januari–Juni 2026 mencatat surplus sebesar USD3,58 miliar, dengan perkembangan pada Juni 2026 mencatat defisit sebesar USD0,45 miliar.
Aliran investasi portofolio asing pada triwulan II 2026 mencatat net inflows sebesar USD8,5 miliar, terutama didukung oleh Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), yang kemudian berlanjut pada triwulan III 2026 seiring meningkatnya imbal hasil instrumen keuangan domestik.
Rupiah kembali menguat ke Rp17.994 per dolar AS pada 31 Juli 2026, setelah sempat melemah sejak pertengahan Juli 2026 akibat kembali meningkatnya konflik di Timur Tengah dan menguatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan Fed Funds Rate (FFR). Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS sedikit melemah dibandingkan dengan level akhir Juni 2026 sebesar Rp17.880.
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2026 tetap terjaga sebesar USD145,6 miliar, setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor, atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.





