Capacity Building Media BI Sultra, Wujudkan Desa Wisata Menuju Masa Depan Ekonomi Lokal

oleh -83 Dilihat
Foto bersama yang dilakukan di Desa Pentingsari. Dok BI Sultra

Kendari, Berikabar.co – Desa Pentingsari menjadi salah satu tempat yang dituju oleh puluhan jurnalis yang berasal dari Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam rangkaian Capacity Building Media (CBM) yang digelar sejak tanggal 23 hingga 26 Agustus 2026. Tentu saja perjalanan kali ini membuat penulis merasakan pengalaman yang berbeda jika dibandingkan dengan CBM sebelumnya yang telah digelar oleh Bank Indonesia (BI) perwakilan Sultra.

Memasuki hari ketiga tepatnya tanggal 25 Agustus, kami menempuh perjalanan dari pusat Kota Yogyakarta kurang lebih selama satu jam menggunakan bus pariwisata. Desa Pentingsari yang berada di Lereng Gunung Merapi, Kabuparen Sleman, Yogyakarta ini benar-benar memberikan kami pengalaman yang luar biasa. Di mana des aini menjadi salah satu desa terbaik bukan hanya karena wisatanya namun keterlibatan langsung masyarakat lokal dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan yang berkunjung.

KPwBI Sultra, Edwin Permadi, mengatakan bahwa beberapa wisata yang ada di Sultra tidak jauh berbeda dengan wisata yang ada di Yogyakarta. Salah satu contohnya yakni Geblek Pari yang menyediakan kuliner di tengah hamparan sawah, hal ini serupa dengan salah satu kuliner yang ada di Kabupaten Konsel, Sultra yakni Warung Makjati. Menurutnya, kunjungan di Desa Pentingsari akan memberikan pengalaman melalui tulisan bahwa tempat-tempat wisata yang ada di Sultra juga tidak kalah.

Kepala Perwakilan BI Sultra, Edwin Permadi saat memberikan sambutan. Dok BI Sultra

Dikatakannya pula, bahwa kunjungan di Desa Pentingsari menjadi salah satu upaya menjadikan contoh bahwa desa wisata juga bisa ikut mendongkrak ekonomi masyarakat lokal. Edwin bahkan nampak serius mengajak para jurnalis untuk terlibat langsung melalui tulisan.

“Jika teman-teman yang berada di lapangan melihat ada yang berpotensi, utamanya wisata bisa sampaikan kepada kami, karena kami juga bisa menyampaikan hal tersebut kepada pemerintah setempat untuk membuat kebijakan dan jika bisa kami bantu, pasti kami bantu,” katanya.

Lanjutnya, upaya yang dilalakukan BI Sultra bersama pemerintah setempat dengan menghidupkan wisata yang ada di Sutra akan ikut membantu pertumbuhan ekonomi khususnya di sektor pariwisata.

“Kalau sektor pariwisata bisa kita jaga dan kelolah dengan baik , maka ini akan menjadi sumber pendapatan yang akan terus ada bukan hanya untuk daerah saja tetapi juga masyarakat lokal. Sehingga sektor pariwisata ini memang harus kita tumbuhkan terus,” tandasnya.

Fasilitator-Kolaborator Pendamping Masyarakat Desa Pentingsari, Erwan Widyarto. Dok BI Sultra

Dalam kunjungan kami hari itu, turut hadir Fasilitator-Kolaborator Pendamping Masyarakat Desa Pentingsari, Erwan Widyarto, yang juga turut memberikan pemaparan dengan tema “Merangkai Narasi Pembangunan Desa Wisata yang Inspiratif dan Berdampak Melalui Storytelling, Kolaborasi, dan Komunikasi”.

BACA JUGA :  Capacity Building di Baubau, OJK Paparkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Industri BPR dan BPRS (RP2B)

Berbicara tentang pengalaman desa wisata, tentu saja sudah menjadi makanan sehari-hari bagi seorang Erwan. Erwan yang juga merupakan anggota Pokja Desa Wisata DIY sudah sering masuk dan keluar desa wisata, memberikan pendampingan hingga menjadi juri.

Pada kesempatan itu, Erwan sempat memaparkan bahwa Desa Pentingsari memiliki berbagai keunikan tidak hanya melibatkan masyarakat lokal, tetapi untuk pengelolaan UMKM yang masih menggunakan bahan alami dari akar pohon hingga tanaman lainnya.

“Desa wisata itu memang melibatkan langsung masyarakat lokalnya karena desa wisata itu unik bukan hanya sekedar banguan yang dibangun oleh investor saja tetapi bagaimana keterlibatan masyarakat dan keunikan lain di dalamnya (seperti kebiasaan dan budaya),” paparnya.

Erwan memastikan bahwa keramahan yang diberikan oleh masyarakat lokal akan menjadi kenangan yang paling berkesan.  “Teman-teman bisa tanya tentang pengalaman tamu yang sudah datang di Desa Pentingsari, warga lokal di sini memang memberikan pelayanan yang baik untuk setiap tamu yang berkunjung sehingga selalu memberikan kesan yang tidak terlupakan,” ujarnya.

Desa wisata bukanlah taman hiburan, hal tersebut ditegaskan Erwan dihadapan puluhan jurnalis yang menyimak paparan materinya.

“Pengembangan desa wisata itu bukan membangun destinasi baru dengan taman bermain, wahana artifisia atau atraksi mewah yang menghabiskan dana besar dari seorang investor, melainkan desa wisata itu membangun potensi yang sudah dimiliki masyarakat, lalu potensi itu yang dikemas menjadi sebuah pengalaman berharga,” pesannya.

Kunjungan jurnalis di villa Oma Lembah Merapi. Dok BI Sultra

Naufhal Alariq Daffa Aryanda, Pengelolah villa Oma Lembah Merapi, salah satu penginapan di Desa Pentingsari menuturkan bahwa pihaknya sudah melakukan kerja sama dengan pengelolah Desa Wisata Pentingsari sejak tahun 2022 lalu dan sudah banyak menerima tamu dari beberapa negara luar juga seperti Prancis, Swiss, Norwegia dan Cina.

“Kalau untuk paket wisata di Desa Pentingsari itu ada paket menginap, kegiatan keliling desa dan praktik langsung di UMKM seperti menanam kopi dan budidaya jamur,” katanya.

Menurutnya, Desa Wisata Pentingsari memang unik karena bagi tamu yang datang akan diajak langsung menanam hingga menumbuk bijih kopi. Tidak hanya berkeliling kampung tetapi tamu juga diajak langsung memerah sapi, sehingga memberikan pengalaman yang berbeda.

Pesan Hangat dari Motivator dan Jurnalis Senior

Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional, Dr. Aqua Dwipayana dalam kesempatan siang itu ikut memaparkan bahwa selama ini ia terus menjaga silaturahmi kepada siapa saja. Melalui pertemuan itu, ia mengaku senang bisa hadir di tengah-tengah jurnalis, mengingat bahwa ia juga dulu pernah bekerja sebagai seorang jurnalis. Menurutnya, jurnalis menjadi penyambung kebaikan melalui tulisannya kepada masyarakat.

BACA JUGA :  Investor Muda Kuasai Pasar Modal Sultra, Transaksi Saham Tembus Rp133 Miliar

Aqua menekankan hal yang perlu diingat dalam menjalani aktivitas yakni tidak lepas dari 3B, yakni berdoa, bekerja dan bersyukur.

Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional, Dr. Aqua Dwipayana turut memberikan motivasi dan materi kepada puluhan jurnalis di Desa Pentingsari. Dok BI Sultra

“Saya selalu mengatakan bahwa tiga hal yang perlu kita lakukan untuk menuju hidup yang luar biasa yakni jangan lupa berdoa karena apapun yang kita lakukan berdoalah agar segala sesuatu bisa terwujud, lalu bekerja karena untuk mengaminkan semua yang dicita-citakan maka kita harus bekerja lalu bersyukur dengan apa yang kita lakukan dan terima hari ini, tidak ada yang lebih menenangkan ketika kita sudah bersyukur,” jelasnya.

Ia menyadari bahwa peran jurnalis saat ini menjadi salah satu garda terdepan dalam membangun daerah. Menurutnya, kehadiran media tidak hanya terbatas sebagai yang menyampaikan berita melainkan menjadi mitra strategis dalam membangun kepercayaan publik. Melalui tulisan yang dirangkai, peran media mampu memberikan kejelasan terkait apa yang sedang terjadi saat ini.

“Tentu saja informasi akurat yang disampaikan jurnalis menjadi hal penting untuk membangun daerah. Jadi bukan menyampaikan informasi saja tetapi jurnalis juga mampu menyampaikan apa yang sebenarnya sedang terjadi,” ujarnya.

Sebagai seorang mantan jurnalis senior, Aqua paham betul bahwa peran media sangat penting. Pasalnya, program yang baik perlu dikomunikasikan, informasi yang jelas juga tentu bisa membangun kepercayaan, media juga mampu membantu memperluas jangkauan pesan serta lewat media pemberitaan pula mampu membentuk persepsi publik.

“Karena publik tidak hanya melihat apa yang kita lakukan melainkan apa yang mereka pahami,” tekannya.

Di tengah gempuran digitalisasi dengan kehadiran AI saat ini, Aqua optimis bahwa seorang jurnalis yang handal masih tetap bisa menciptakan karya-karya jurnalistik yang original dan memiliki nilai sendiri. Seorang jurnalis yang mampu mengubah kegiatan ceremonial menjadi berita yang memiliki cerita sendiri.

Pesan penting yang juga disampaikannya yakni dalam situasi krisis, media harus tetap memperhatikan bahwa kecepatan harus sejalan dengan akurasi data yang akan disajikan.

“Ketika ada isu sensitif maka peran jurnalis harus segera berbuat, jangan diam tetapi cek kebenarannya, pahami, lalu koordinasikan dengan sumber terpercaya, jangan sampai ingin cepat namun tidak memperhatikan akurasi datanya,” tegasnya.

“Jangan hanya menjadi sumber berita, tetapi jadilah mitra informasi yang dipercaya,” pungkasnya.