Konawe, Berikabar.co – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Sorue Jaya, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, menjadi momentum untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat pesisir.
Selain upacara bendera yang diikuti sekitar 1.000 peserta, peringatan kemerdekaan di kawasan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tersebut dirangkaikan dengan soft launching kolaborasi Program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) sebagai upaya memperluas akses pembiayaan dan layanan keuangan bagi masyarakat pesisir.
Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono bersama jajaran Direktur Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Gubernur Sulawesi Tenggara Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Ir. Hugua, Anggota DPD RI Komisi IV Leni Andriani Surunuddin, Wakil Ketua III Komite II DPD RI Umar Bonte, Wakil Bupati Konawe Syamsul Ibrahim, jajaran Forkopimda, serta masyarakat dan nelayan pesisir.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tenggara, Bismi Maulana Nugraha, mengatakan kolaborasi Program EKI-KNMP diarahkan untuk membangun ekosistem keuangan yang lebih inklusif sekaligus memastikan masyarakat pesisir memiliki akses permodalan yang berkelanjutan.
Menurut Bismi, pengembangan ekosistem tersebut merupakan kelanjutan dari program pendampingan inkubasi keuangan yang telah berjalan sejak awal 2026. Program tersebut mencakup tahapan prainkubasi, inkubasi, hingga pascainkubasi.
“Penguatan ekonomi masyarakat pesisir ini kita lakukan melalui tiga tahapan, mulai dari prainkubasi, inkubasi, hingga pascainkubasi. Ke depan, untuk menjaga keberlanjutan program ini, kami berencana membangun financial center di KNMP Desa Sorue Jaya,” kata Bismi.
Pada tahap pascainkubasi, OJK telah memberikan edukasi dan bimbingan teknis mengenai pengelolaan keuangan kepada nelayan, pelaku UMKM, ibu rumah tangga yang menjalankan usaha, serta pelajar di kawasan KNMP.
OJK juga memfasilitasi integrasi berbagai industri jasa keuangan untuk membuka akses pembiayaan produktif bagi masyarakat. Skema yang didorong antara lain Kredit Usaha Rakyat (KUR), pembiayaan modal bagi kelompok usaha perempuan, hingga pembukaan rekening tabungan bagi anak-anak nelayan.
Hasil kolaborasi tersebut mulai terlihat dari realisasi akses keuangan selama Januari hingga Juli 2026. Sejumlah lembaga jasa keuangan telah menyalurkan pembiayaan, membuka rekening masyarakat pesisir, serta menyediakan dukungan sarana untuk menunjang aktivitas nelayan.
“Sebagai tahap awal kolaborasi, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk telah menyalurkan fasilitas kredit kepada 49 debitur dengan total plafon sebesar Rp1,527 miliar, membuka rekening tabungan bagi 52 nasabah pesisir, serta memperluas akses melalui penyediaan satu Agen BRILink. Selain itu, pembiayaan PNM Mekaar bagi kelompok usaha perempuan pelaku UMKM telah terealisasi kepada 23 debitur dengan plafon mencapai Rp183,5 juta, disusul pembukaan 30 rekening Simpanan Pelajar (SimPel) oleh Bank Sultra dan 44 rekening oleh PT BPR Bahteramas Konawe, serta dukungan 10 unit alat pendeteksi ikan (fish finder) dari Bank Indonesia,” ujar Bismi Maulana.
Penguatan ekosistem keuangan tersebut tidak hanya berfokus pada pembiayaan dan literasi keuangan. Aspek perlindungan sosial bagi pekerja rentan di sektor kelautan juga menjadi bagian dari program kolaborasi di Desa Sorue Jaya.
“Untuk tahap ini, BPJS Ketenagakerjaan telah memberikan perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan kepada 22 nelayan. Ke depan, model kolaborasi ini akan terus kita perluas agar bisa menjangkau seluruh nelayan di Sulawesi Tenggara,” jelas Bismi Maulana.
Momentum HUT ke-81 RI di KNMP Desa Sorue Jaya juga diisi dengan berbagai kegiatan yang menggabungkan pemberdayaan ekonomi, pelayanan publik, edukasi, dan hiburan masyarakat.
Warga dapat menikmati bazar serta penjualan sembako murah melalui pembagian kupon gratis. Sejumlah perlombaan tradisional turut digelar, seperti tarik tambang, panjat pinang, balap karung, dan lari kelereng.
Untuk memperkuat kapasitas dan kemandirian masyarakat, panitia juga menghadirkan pelatihan gratis yang relevan dengan aktivitas ekonomi warga, di antaranya pelatihan servis mesin nelayan, ecoprint, dan sablon.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang promosi bagi produk unggulan UMKM dan IKM setempat. Beragam produk olahan hasil perikanan khas masyarakat pesisir dipamerkan, mulai dari teri kripsi, sambal tuna asap, bakso ikan, semai ikan, bakso tahu, aplang ikan dan cumi, hingga berbagai produk olahan perikanan lainnya.
Perluasan akses keuangan juga diimbangi dengan penguatan literasi dan pelindungan konsumen. Sebanyak 25 pelaku UMKM turut terlibat dalam kegiatan tersebut, sementara booth dan mobil layanan keliling OJK, Bank Sultra, BRI, BPR, BNI, BPJS Ketenagakerjaan, dan PNM memberikan layanan langsung kepada masyarakat.
Melalui pendekatan layanan jemput bola tersebut, masyarakat pesisir dapat berkonsultasi mengenai produk dan layanan keuangan sekaligus memperoleh edukasi agar lebih bijak dalam mengelola pembiayaan serta terhindar dari berbagai risiko kejahatan finansial.
Kolaborasi Program EKI-KNMP di Desa Sorue Jaya diharapkan menjadi model penguatan ekonomi masyarakat pesisir yang mengintegrasikan akses pembiayaan, literasi keuangan, perlindungan sosial, peningkatan kapasitas, serta pengembangan usaha.
Sinergi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan, OJK, Pemerintah Daerah, industri jasa keuangan, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat memperluas akses keuangan formal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan penguatan ekosistem tersebut, KNMP Desa Sorue Jaya diproyeksikan berkembang menjadi kawasan ekonomi pesisir yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan, sekaligus menjadi salah satu contoh kolaborasi pemberdayaan masyarakat nelayan di Sulawesi Tenggara.





