Batam, Berikabar.co – Di ufuk utara Indonesia, tepatnya di Kecamatan Siantan, Kabupaten Kepulauan Anambas, pengabdian seorang polisi tidak hanya diukur dari seragam cokelat yang dikenakannya. Bagi Aipda Raja Faisal Mushawir, dedikasi kepada negara mewujud dalam kemudi mobil jenazah yang ia kendarai secara sukarela demi melayani ribuan warga di perbatasan NKRI.
Pria kelahiran Tarempa, Juli 1986 ini telah 21 tahun berseragam Polri. Namun, sejak tahun 2017, ia memikul tanggung jawab tambahan yang jarang dilirik orang: menjadi sopir mobil jenazah gratis. Baginya, tugas kepolisian adalah profesi, tetapi mengantar jenazah adalah panggilan jiwa yang tak ternilai harganya.
Kiprah kemanusiaan ini bermula dari keterbatasan organisasi sosial Babul Khairat di Masjid Nurul Ihsan Tarempa. Saat itu, organisasi kekurangan sopir ambulans karena kendala dana dan faktor usia para pengurus. Tanpa ragu, Aipda Raja Faisal menawarkan diri. Kini, ia menjadi pengemudi utama mobil jenazah yang melayani hampir 20 ribu jiwa di Siantan, Siantan Tengah, hingga Siantan Selatan.
Satu dekade pengabdian telah menempa mentalnya. Ia hadir saat duka menjemput, tanpa memandang identitas, agama, bahkan bagi jenazah tanpa keluarga sekalipun. Masa tersulit ia lalui saat pandemi COVID-14, di mana ia harus berjibaku mengevakuasi pasien hingga mengantar jenazah di tengah risiko penularan yang tinggi.
Dalam kesunyian tugasnya di tengah malam, sebuah perenungan mendalam sering menghampirinya.
“Pernah terlintas di pikiran saya, saat mengantar jenazah di tengah malam, mungkin suatu hari nanti saya juga akan berada di posisi yang sama. Semua hanya soal waktu,” kenang Aipda Raja Faisal.
Dedikasi ini tidak ia jalani sendiri. Istrinya, Maryam, seorang bidan desa, turut menjadi sandaran kesehatan bagi warga setempat. Pasangan ini kerap berkolaborasi; mulai dari mencarikan obat-obatan yang sulit didapat hingga menolong ibu hamil yang kesulitan biaya melalui jejaring Pemolisian Masyarakat (Polmas).
Kebaikan yang mereka tanam pun berbuah manis. Saat keluarga Aipda Raja Faisal membutuhkan donor darah pasca-persalinan, warga berbondong-bondong datang membalas budi. Dukungan penuh juga mengalir dari pimpinan di Polsek Siantan hingga Polda Kepulauan Riau, yang menganggap aksi Faisal adalah manifestasi nyata dari tugas Polri sebagai pelindung dan pelayan masyarakat.
Atas loyalitas tanpa pamrih tersebut, Kapolda Kepulauan Riau, Irjen Pol. Asep Safrudin, menganugerahkan penghargaan kepada Aipda Raja Faisal pada peringatan Hari Kesadaran Nasional 2026. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kontribusi nyata sang polisi dalam merawat kepercayaan masyarakat di wilayah perbatasan yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kota.
Kisah Aipda Raja Faisal adalah cermin Polri yang humanis. Ia membuktikan bahwa kehadiran polisi tidak hanya untuk menjaga ketertiban di jalanan, tetapi juga untuk menemani masyarakat hingga ke peristirahatan terakhir mereka.





