Potret Kelam Pendidikan Luwu Timur: Saat Manekin dan Ruang Kelas Jadi Saksi Bisu Aksi Arogansi

oleh -103 Dilihat

Luwu Timur, Berikabar.co – Suasana ceria di Desa Tokalimbo seketika berubah menjadi mencekam pada Kamis, 12 Februari 2026. Pagi yang awalnya diwarnai senda gurau ratusan pelajar berseragam Pramuka dan rompi PMR yang antusias mengikuti Sosialisasi Berkendara Aman dan Pelatihan Pertolongan Pertama, berakhir dengan trauma mendalam.

Kegiatan yang diinisiasi oleh PT Vale Indonesia dalam rangka Bulan K3 Nasional ini awalnya berjalan khidmat. Manager HSER Sorowako Growth PT Vale, Murianti, baru saja membuka acara dengan visi mulia: membekali generasi muda Loeha Raya dengan pengetahuan safety riding demi menekan angka kecelakaan yang mencapai 25 kasus pada tahun lalu.

Namun, asupan ilmu yang dinanti-nanti itu terhenti secara kasar. Sekelompok massa yang mengatasnamakan Aliansi Petani Loeha Raya (APL) merangsek masuk ke ruangan, berteriak, hingga merebut paksa mikrofon pemateri. Fokus siswa yang tengah mempelajari teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP) dan penanganan luka hancur seketika, digantikan oleh wajah-wajah muram dan penuh ketakutan.

Ujaran Kebencian di Hadapan Pelajar Ironisnya, aksi intimidasi ini diwarnai dengan teriakan bernada kebencian yang sangat tidak pantas didengar oleh anak-anak di bawah umur. Di tengah ruang belajar, perwakilan kelompok tersebut justru melontarkan tuduhan “Komunis” dan “PKI” kepada penyelenggara.

Bahkan, seorang pria berpakaian hijau dengan lantang memprovokasi para siswa untuk membenci PT Vale. Ia mempertanyakan kehadiran kepala sekolah dan menakuti siswa dengan menyebut perusahaan telah merusak tanah orang tua mereka. Isak tangis pecah di antara para siswa saat ruang kelas disulap secara paksa menjadi arena demonstrasi yang penuh amarah.

Trauma di Balik Jerit “Bubarkan” Siswa-siswi akhirnya dipaksa keluar ruangan, meninggalkan manekin dan alat peraga medis yang menjadi saksi bisu terenggutnya hak mereka untuk belajar. Seorang peserta yang enggan disebutkan namanya mengaku sangat terguncang dan menangis setibanya di sekolah akibat insiden tersebut.

BACA JUGA :  BNNP Sultra Musnahkan 1,9 Kg Barang Bukti Sabu Dari Tangan 2 Orang Tersangka

“Saya takut, tiba-tiba masuk berteriak padahal kami hanya mau ikut sosialisasi safety riding. Kami kasihan sama PT Vale karena kegiatannya dihentikan dan disuruh pulang,” tuturnya dengan nada trauma.

Pelajar tersebut juga mengungkapkan bahwa keputusannya mengikuti kegiatan ini sebenarnya didukung penuh oleh orang tuanya. Namun, rasa aman itu kini sirna berganti kecemasan karena mendapat tatapan intimidatif dari kelompok massa tersebut saat perjalanan pulang.

Meski materi tidak tuntas tersampaikan, para siswa tetap menyampaikan rasa terima kasih atas ilmu singkat yang sempat mereka terima. Mereka meminta maaf atas kericuhan yang terjadi, sebuah sikap dewasa yang berbanding terbalik dengan arogansi orang dewasa yang merenggut kebebasan belajar mereka hari itu.