Kendari, Berikabar.co – Jelang satu tahun masa kepemimpinan Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka (ASR) dan Wakil Gubernur Hugua, rapor ekonomi Bumi Anoa menunjukkan tren positif. Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada tahun 2025 tercatat mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Halu Oleo (UHO), Syamsul Anam, memaparkan bahwa secara makro, roda ekonomi Sultra saat ini bergerak stabil dan mulai menunjukkan taji pasca-pandemi serta di tengah ketidakpastian kondisi global.
“Perekonomian Sulawesi Tenggara itu umumnya didorong oleh beberapa faktor atau sektor ya. Sektor-sektor utama yang umumnya mendorong perekonomian Sultra itu adalah pertanian, kemudian pertambangan, kemudian sektor perdagangan, konstruksi, dan sektor industri pengolahan,” ujar Syamsul Anam, Kamis (5/2/2026).
Ia mengungkapkan bahwa meski Sultra pernah menyentuh pertumbuhan dua digit pada masa booming mineral, pencapaian saat ini tetap menunjukkan tren yang menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi Sultra tercatat naik dari 5,4 persen pada tahun 2024 menjadi 5,79 persen pada tahun 2025.
“Pertumbuhan kita saat ini itu mencapai 5 sampai 6 persen. Dan kabarnya sekarang BPS sudah merilis pertumbuhan final di tahun 2025 itu sebesar 5,79 persen dan itu berarti ada peningkatan dibanding tahun 2024 yang 5,4 persen. Jadi kita tumbuh 5,79 persen di tahun 2025,” jelas Syamsul.
Lebih lanjut, Syamsul Anam menyoroti adanya pergeseran motor penggerak ekonomi. Jika sebelumnya pertambangan selalu menjadi primadona tunggal, kini sektor pertanian mulai mengambil peran sentral dalam mendongkrak nilai produksi daerah.
“Pertumbuhan ini didorong oleh beberapa sektor. Kabarnya sektor pertanian lah yang menjadi motor penggerak pertumbuhan kita. Kemudian yang kedua umumnya sektor industri pengolahan, yang ketiga pertambangan. Jadi secara makro dari tahun 2024 ke tahun 2025 kita mengalami peningkatan dihitung dari pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.
Peningkatan pertumbuhan ekonomi ini, menurut Syamsul, merupakan hasil sinergi yang kuat di bawah nakhoda pemerintahan ASR-Hugua. Peningkatan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) menandakan adanya lonjakan nilai produksi dari seluruh entitas ekonomi di Sulawesi Tenggara.
Di tengah situasi regional dan global yang sedang tersendat akibat berbagai konflik ekonomi, capaian Sultra ini dinilai sebagai prestasi yang patut dibanggakan.
“Jadi ini patut kita apresiasi kerja bareng antara pemerintah dan sektor swastanya plus masyarakat yang telah mencapai pertumbuhan meskipun tipis pertumbuhannya, tapi ini perlu diapresiasi mengingat hampir seluruh daerah dan mungkin bahkan secara regional dan global pertumbuhan ekonominya ini agak tersendat dan tertekan,” tutup Syamsul Anam.
Dengan fondasi ekonomi yang tumbuh di angka 5,79 persen, kepemimpinan ASR-Hugua dalam satu tahun pertama ini dinilai berhasil menjaga stabilitas sekaligus memacu sektor-sektor produktif untuk tetap tumbuh di tengah tantangan zaman.





