Mentan Optimistis Seluruh Wilayah Indonesia Bisa Jadi Sentra Produksi Pangan

oleh -65 Dilihat

Kendari, Berkabar.co  – Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan petani dalam memperkuat sektor pertanian sekaligus mewujudkan kemandirian pangan nasional.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan kuliah umum bertema “Dari Kampus untuk Negeri: Penguatan Nilai Kebangsaan, Inovasi Pertanian, dan Kemandirian Pangan Nasional” di Auditorium Mokodompit, Sabtu (6/6/2026).

Dalam pemaparannya, Amran menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat lahirnya gagasan dan inovasi yang mampu menjawab berbagai tantangan pembangunan pertanian di Indonesia. Menurutnya, kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kekuatan institusi pendidikan tinggi dalam menghasilkan ide-ide inovatif yang berdampak bagi masyarakat.

“Kampus adalah sumber inspirasi terbaik. Ide-ide terbaik ada di kampus. Kalau negara ingin maju, maka kampus harus diperkuat,” ujar Amran.

Ia menjelaskan, berbagai inovasi yang lahir dari lingkungan akademik perlu dikolaborasikan dengan pemerintah dan dunia usaha agar dapat diimplementasikan secara nyata. Pemerintah berperan sebagai regulator, sementara sektor industri menjadi pelaksana yang mengakselerasi penerapan inovasi tersebut.

“Kita menemukan ide baru dari kampus, kemudian dieksekusi oleh pemerintah sebagai regulator dan pengusaha industri. Itulah pentingnya kolaborasi,” katanya.

Pada kesempatan itu, Amran juga memaparkan berbagai upaya pemerintah dalam memperkuat program swasembada pangan nasional. Menurutnya, pengembangan kawasan pertanian saat ini tidak hanya dilakukan di Papua, tetapi juga diperluas ke wilayah Sumatera dan Kalimantan yang menjadi fokus pembukaan lahan pertanian baru.

Pemerintah, kata dia, telah mengembangkan puluhan ribu hektare lahan pertanian yang didukung dengan penggunaan alat dan mesin pertanian modern guna meningkatkan produktivitas pangan nasional.

“Target kita adalah seluruh wilayah mampu menjadi pusat produksi pangan. Papua, Kalimantan, Sumatera, semuanya diarahkan menuju swasembada pangan,” ungkapnya.

BACA JUGA :  CBR600RR dan Pembalap AHRT Siap Guncang MRS 2025

Amran mencontohkan keberhasilan program tersebut di Papua Selatan. Melalui pengembangan kawasan pertanian yang didukung mekanisasi modern, produksi pangan meningkat dan berdampak pada penurunan harga beras di daerah tersebut.

“Dulu harga beras di sana bisa mencapai Rp30 ribu per kilogram, sekarang sekitar Rp12 ribu per kilogram. Ini menunjukkan program yang dijalankan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

Dalam sesi dialog, Amran turut merespons pertanyaan terkait penanganan lahan pertanian terdampak banjir di Sulawesi Tenggara. Ia menyebut pemerintah telah menyalurkan berbagai bantuan, mulai dari alat dan mesin pertanian, benih, hingga dukungan pengembangan lahan guna membantu petani kembali berproduksi.

“Traktor sudah dikirim, benih sudah dikirim, bantuan untuk ribuan hektare juga sudah disalurkan. Program ini sedang berproses karena melibatkan beberapa kementerian dan lembaga,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pembangunan sektor pertanian membutuhkan waktu dan tidak dapat diselesaikan secara instan. Pemerintah, lanjutnya, terus berupaya mempercepat pelaksanaan berbagai program strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Selain itu, Amran mengajak media massa untuk turut memberikan perhatian yang berimbang terhadap berbagai capaian pembangunan pertanian yang telah dilakukan pemerintah.

“Kritik itu penting, tetapi harus objektif. Jangan hanya melihat satu sisi. Banyak bantuan dan program yang sudah berjalan untuk membantu petani dan memperkuat ketahanan pangan nasional,” tegasnya.

Melalui kuliah umum tersebut, Amran berharap kalangan mahasiswa dapat menjadi motor penggerak lahirnya inovasi dan solusi bagi pembangunan pertanian Indonesia, sekaligus mengambil peran dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional yang berkelanjutan.