Hasil Ekspedisi Ilmiah Ungkap Kekayaan Matarombeo, Wagub Sultra Desak Perlindungan dari Ancaman Tambang

oleh -222 Dilihat

Kendari, Berikabar.co  – Masa depan keanekaragaman hayati dan situs arkeologi di kawasan Wallacea kini berada di titik penentuan. Rangkaian Wallacea Expeditions resmi berakhir dengan dipaparkannya hasil riset ilmiah multidisiplin yang merekomendasikan pembentukan lanskap konservasi terpadu seluas kurang lebih 6.000 kilometer persegi di Sulawesi Tenggara dan sekitarnya.

Langkah strategis ini diambil setelah tim peneliti mengungkap nilai luar biasa dari sisi ekologis, geologis, hingga arkeologi di salah satu bentang alam paling bersejarah di Indonesia tersebut. Paparan komprehensif ini disampaikan oleh Evrard Wendenbaum, Founder & President Naturevolution, sebuah lembaga konservasi internasional asal Prancis.

Evrard menjelaskan bahwa fokus riset Naturevolution sejak 2012 tertuju pada Pegunungan Matarombeo, yang merupakan unit hutan hujan primer terbesar di Sulawesi. Kawasan ini menyimpan kekayaan alam yang relatif masih utuh, mulai dari Sungai Lalindu, sistem gua karst raksasa, hingga jembatan alami di tengah hutan pegunungan tropis.

Temuan penting dari ekspedisi ini mencakup identifikasi fauna endemik Sulawesi yang terancam punah, data hutan primer, serta temuan arkeologi berupa lukisan gua prasejarah dan fragmen keramik. Selain itu, kawasan ini teridentifikasi sebagai daerah tangkapan air (catchment area) yang menjadi tumpuan hidup bagi ratusan ribu jiwa.

Namun, laporan tersebut juga memberikan peringatan keras. Aktivitas pertambangan nikel, perluasan perkebunan, dan pembalakan liar mulai mengancam keutuhan hutan primer ini. Data citra satelit menunjukkan adanya tumpang tindih yang mengkhawatirkan antara hutan utuh dengan area konsesi tambang.

Menanggapi hasil temuan tersebut, Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Ir. Hugua, memberikan apresiasi tinggi terhadap keberanian tim peneliti yang bekerja di medan ekstrem seperti Gunung Tangkelemboke.

“Kegiatan ekspedisi dan riset lapangan yang dilakukan di kawasan Gunung Tangkelemboke dan sekitarnya sebagai sebuah keberanian luar biasa. Tim peneliti yang awalnya direncanakan kembali lebih cepat justru bertahan hampir 50 hari di lapangan, dengan berbagai risiko, demi memahami kondisi kawasan secara menyeluruh,” tulis laporan tersebut.

BACA JUGA :  Tingkatkan Efisiensi dan Optimalisasi Biaya, PT Vale Indonesia Cetak Laba di Triwulan Kedua

Hugua menilai kawasan Gunung Tangkelemboke dan Karst Matarombeo sangat layak menjadi kawasan konservasi nasional. Ia optimis karena sejauh ini belum ada izin usaha pertambangan (IUP) yang beroperasi secara aktif di titik jantung kawasan, sehingga peluang untuk melakukan penyelamatan masih terbuka luas, meskipun keputusan final ada di tangan pemerintah pusat.

Menurutnya, perlindungan luas lahan 6.000 kilometer persegi tersebut bukan sekadar isu lingkungan, melainkan soal keberlanjutan hidup masyarakat luas.

“Perlindungan kawasan seluas kurang lebih 6.000 kilometer persegi tersebut sangat krusial untuk menjaga keberlanjutan sungai-sungai utama, seperti Sungai Lasolo, Sungai Walalindo, dan Sungai Konaweha, yang menopang kehidupan masyarakat di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, hingga Sulawesi Selatan.” tegasnya.

Saat ini, seluruh dokumen hasil Wallacea Expeditions sedang dihimpun sebagai bahan advokasi kepada kementerian terkait. Harapan besarnya, kawasan ini segera menyandang status sebagai Taman Nasional dan diakui dunia sebagai UNESCO Global Geopark.