Kolaka, Berikabar.co – Terik matahari siang itu, membakar semangat Indah yang merupakan pelopor petani organik dari Desa Puuroda, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra). Dengan penuh semangat Indah mulai menceritakan awal perjalanannya bergabung dengan petani organik di bawah dampingan yang dilakukan PT Vale Indonesia Tbk.
Pendampingan yang dilakukan PT Vale berhasil memberikan contoh pendampingan dengan menggunakan bahan alami dan tidak menggunakan bahan kimia yang dapat merusak kondisi tanah atau lingkungan sekitar. Citra buruk praktik pertambangan yang selama ini beredar pun seakan terjawab dengan kepedulian PT Vale Indonesia untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dan petani bahwa ada cara yang lebih alami untuk membuat tanaman menjadi subur. Pedampingan tersebut mengajarkan kepada para petani organik untuk mengolah tanaman lokal lalu dijadikan berbagai jenis obat herbal dan jamu.
Dikatakan Indah, saat awal pendampingan dan mulai diajak, ia tidak percaya jika pendampingan tersebut akan berhasil. Awal mengikuti pendampingan, ia hanya ikut-ikutan tanpa ada niat serius untuk mengikuti seluruh pendampingan tersebut hingga selesai.
“Pada awal pendampingan yang dilakukan PT Vale itu, saat pupuk subsidi langka, mereka datang dengan memegang rerumputan dengan banyak hal yang mengiming-imingi pada saat itu dan saya hanya bicara asalkan ada obat untuk menghilangkan rumput saya mau ikut,” tantang Indah kala itu.
Indah sudah merasa sangat tidak nyaman dengan rumput liar yang tumbuh dan merusak tanaman lain, alasan itu yang ia ambil sehingga nekat mengikuti pelatihan dari PT Vale, meskipun tidak yakin dengan hasilnya.
Kembali ke Alam, Petani Diajarkan Tidak Membunuh Hama Dengan Bahan Kimia
Beberapa kali mengikut pedampingan PT Vale, Indah tidak mendapatkan cara untuk menghilangkan rumput tapi dari pendampingan tersebut ia justru mendapatkan ilmu baru yang selama ini belum didapatkan. Dalam pelatihan tersebut para petani tidak diajarkan untuk membunuh hama dengan meracuni, melainkan ada acara lain dengan saling memanfaatkan satu sama lain.
“Kenapa sampai saya tertarik karena ilmunya memang sangat bermanfaat dan masuk akal. Saya tidak tahu selama ini saya suka meracuni semut, cacing dan serangga-serangga kecil dengan herbisida, ternyata makhluk hidup ini saling berkaitan dan bisa membantu menyuburkan tanah,” ujarnya.
Indah pun berkelakar jika sebelum pendampingan dilakukan, ia menanam berbagai jenis tanaman, namun tidak ingin memakannya. “Karena saya tahu saya menggunakan beberapa bahan kimia, untuk membunuh racunnya, jadi siapa yang mau makan racun, saya sendiri tidak mau karena kan saya yang meracun,” katanya.
Bahan Baku Hasil Tanam di Pekarangan Rumah
Petani organik dampingan PT Vale pun tidak perlu khawatir akan ketersediaan bahan baku. Pasalnya, petani juga mulai paham akan pemanfaatan pekarangan rumah untuk ditanami berbagai jenis tanaman yang dapat dibuat menjadi berbagai jenis obat herbal hingga jamu.
Sejak tahun 2021 yang merupakan awal pendampingan hingga saat ini, para petani tidak pernah kesulitan untuk mendapatkan bahan baku. Bahan baku selalu tercukupi hanya dengan bermodalkan pekarangan rumah yang lumayan luas.
“Kita ini kalau di kampung rata-rata punya pekarangan yang luas, saat pendampingan kami diberi pemahaman dari pada pekarangan tidak dimanfaatkan lebih baik ditanami bahan baku untuk kemudian diolah menjadi herbal,” katanya.
“Sampai saat ini justru bahan baku dari Desa Puuroda selalu berlebihan,” sambungnya.
Sebelum adanya pendampingan yang dilakukan PT Vale, pekarangan Indah gersang, jangankan untuk ditanami tumbuhan pertanian, rumput saja tidak tumbuh, benar-benar gersang karena sering disemprot dengan racun.
“Saya sampai harus mencari lahan lain hanya untuk berkebun, tapi sekarang halaman rumah pun jadi. Biar tanam apa saja sekarang sudah tumbuh karena kami memang tidak menggunakan bahan kimia lagi” tandasnya.
Dapat Sehatnya, Untung Cuannya

Meskipun di awal pendampingan ada keraguan, namun seiring berjalannya waktu setiap keberhasilan justru menjawab semua keraguan tersebut. Sudah empat tahun lebih pendampingan dilakukan kepada para petani, tentu saja manfaat yang dirasakan pun tidak terhitung lagi, mulai dari kesehatan hingga meningkatkan perekonomian warga desa.
“Yang tadinya hanya tanaman lokal biasa sudah bisa jadi cuan, saya juga merasa lebih bermanfaat karena bisa membantu sesama ketika mengkonsumsi obat herbal yang kami buat biasa langsung enakan,” ujarnya.
Ada beberapa produk herbal yang menjadi andalan dan sangat laris, antara lain teh bunga telang dan ramuan hipertensi serta produk jamu yang juga menjadi andalan.
“Banyak macam , kalau yang paling laris ini teh bunga telang bermacam jenis didalamnya kalau kita untuk relaksasi tubuh kita ada campuranna telang, serai dan jahe, musim cuaca sedang ekstrim jadi kita konsumsi begini, banyak khasiatnya. Cara buatnya juga tidak susah dan aman karena kita sendiri yang buat dan tanam bahan bakunya,” kata Indah.
Hal senada juga dikatakan Rin bahwa setelah mengikuti pendampingan PT Vale, ia banyak mendapatkan manfaat secara langsung. “Alhamdulillah saya bisa mengolah banyak jenis herbal alam dan cara pemanfaatannya,” katanya.
Sebelum mengikuti pendampingan, ia juga sudah sering membuat jamu secara mandiri, namun tidak banyak manfaat yang ia tahu dari ramuan jamu yang ia buat itu.
Ia mengungkapkan bahwa pangsa pasar dari berbagai jenis obat herbal dan jamu yang dibuat membantu meningkatkan perekonomian keluarganya.
“Untuk penjualan kami biasa dilibatkan dalam kegiatan seperti pameran, bazar dan juga penjualan online dan hasilnya sangat memuaskan,” katanya.
Dikatakannya bahwa sinergi komunitas yang terbangun dari pendampingan yang dilakukan PT Vale memberikan proses pemahaman dan saling berkembang bersama.
Rin berharap agar dampingan tersebut akan terus berlanjut. “Kami banyak-banyak berterima kasih pada pendampingannya selama ini dan semoga pendampingannya masih terus berlanjut, karena tanpa adanya pendampingan, kami tidak bisa apa-apa, karena kami masih harus banyak belajar tentang pemeliharaan, pemanfaatan dan masih banyak lagi yang perlu kami ubah,” harapnya.
PT Vale Dorong Ekonomi Petani Ubah Tanaman Lokal jadi Obat Herbal
Samsul Anam, selaku Pengamat Ekonomi Sultra menilai bahwa pendampingan usaha bagi usaha rintisan atau infant sangat penting terutama pada aspek proses bisnis, jaminan pasar serta pemanfaatan teknologi.
“Pendampingan umumnya dilakukan oleh industri atau usaha yang sudah lebih dulu eksis atau industri yang telah lebih dulu mapan. Apa yang dilakukan PT Vale merupakan praktik baik dalam ikut menguatkan pendapatan masyarakat,” katanya.
Lanjutnya, tanaman herbal sendiri saat ini memiliki potensi pasar yang terus tumbuh seiring dengan trend hidup sehat yang juga terus tumbuh. “Bagi industri infant atau usaha rintisan tantangan terbesar juga datang dari keberlanjutan usaha yang juga berkaitan dengan aspek pasar,” ujarnya.
Menurut Samsul tidak hanya tentang pendampingan berkelanjutan yang terus dilakukan PT Vale, tetapi pihaknya juga perlu menjaga dari sisi marketnya.
“Untuk itu pada sisi market juga perlu ikut dijaga agar demand produk herbal terus tumbun seiring dengan pendampingan yang terus dilakukan oleh Vale,” tegasnya.
Jaga Keberlanjutan PT Vale Tuntaskan Pendampingan Petani

Senior Manager External Relation PT Vale IGP Pomalaa, Hasmir menegaskan bahwa pendampingan yang dilakukan perusahaan sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian kepada masyarakat untuk terus tumbuh serta membantu meningkatkan perekonomian dengan cara pembinaan dan pendampingan terhadap program tersebut.
Pendampingan terhadap petani juga tidak hanya dilakukan di awal tetapi berkelanjutan hingga packing kemasan dan penjualan.
“Kami terus melakukan pendampingan sejak proses penanaman kemudian pembuatan dari tanaman lokal hingga menjadi herbal yang dapat dikonsumsi lalu pada proses bisnis yang mencakup pengemasan dan penjualan,” tegasnya.
Pihaknya juga terus melakukan kontrol terhadap hasil tanaman herbal yang telah diolah.
Tercatat petani herbal yang sudah mengikuti pendampingan sejak tahun 2021 yakni 116 orang. “Total keseluruhan yang telah kami dampingi yakni 116 orang yang terdiri dari petani Kecamatan Baula 87 orang, Kecamatan Wundulako 17 orang dan Kecamatan Pomalaa sebanyak 12 orang,” katanya.
Tampil di Ajang International Conference and Expo Jamu (Loloh) Bali
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan PT Vale Indonesia 2024, pengolahan tanaman obat menjadi produk herbal berkualitas sehingga masyarakat atau petani mampu memproduksi Wedang Rempah, Rosella, Simplisia Bunga Telang dan Virgin Coconut Oil (VCO). PT Vale juga telah mengikutsertakan produk-produk tersebut ke ajang International Conference and Expo Jamu (Loloh) di Bali pada Desember 2024. Program ini meningkatkan keterampilan masyarakat lokal dan membuka peluang pasar yang lebih luas dalam memperkenalkan potensi kekayaan alam Pomalaa ke dunia internasional.
Respon Positif Pemerintah Sambut Dampingan Pengolahan Obat Herbal dari PT Vale
Gayung bersambut atas pendampingan yang dilakukan PT Vale terhadap beberapa wilayah di Kabupaten Kolaka. Hal tersebut diungkapkan Kepala Desa Puuroda, Jayus. “Kami melihat program ini sebagai peluang untuk meningkatkan pendapatan warga, menciptakan lapangan kerja, serta memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat dengan memanfaatkan potensi tanaman obat lokal,” katanya.
Pemerintah juga terus memberikan dorongan dan semangat kepada masyarakat untuk terlibat aktif dalam program ini.
Untuk proses identifikasi tanaman lokal yang berpotensi sebagai obat herbal melibatkan beberapa tahapan, mulai dari pengetahuan tradisional hingga uji ilmiah. “Pastinya kami libatkan ahli untuk menggali terkait manfaat tanaman herbal baik dari tenaga kesehatan yang difasilitasi oleh manajemen PT. Vale dan beberapa kunjungan dari beberapa mahasiswa yang berkunjung,” jelasnya.
Dijelaskannya pula manfaat langsung program tanaman herbal bagi masyarakat desa meliputi peningkatan akses dan biaya pengobatan alami, peningkatan kesadaran akan kesehatan, penyediaan bahan bumbu dapur, dan potensi pendapatan ekonomi dari penjualan komoditas herbal. Masyarakat juga merasakan manfaat lingkungan melalui pekarangan yang lebih asri dan pelestarian budaya pengobatan tradisional.
Dampak lain dari hasil obat herbal ini bisa menjadi salah satum sumber ekonomi tambahan bagi masyarakat kedepannya. “Produk herbal ini kami harapkan akan menjadi ikon dan inovasi bagi desa kami,” harapnya.
Ditambahkannya agar terus berkelanjutan, PT Vale dan pemerintah bisa terus membangun kerja sama dengan aktif melibatkan masyarakat untuk kegiatan lainnya.
“Kedepannya bagaimana desa dan PT Vale berkolaborasi melalui keterlibatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk memberdayakan masyarakat secara mandiri, seperti mengembangkan galeri UMKM. Kemitraan ini berfokus pada pengembangan ide dan potensi lokal, didukung dengan pendampingan, bantuan peralatan, serta fasilitasi akses pasar, sehingga program berkelanjutan dan meningkatkan perekonomian masyarakat secara rill,” pungkasnya.







