Sinergi Lintas Sektor untuk Ekosistem Laut: PT Vale, TNI AL, dan Komunitas Gencarkan Restorasi Karang di Luwu Timur

oleh -389 Dilihat

Luwu Timuer, Berikabar.co – Di tengah tantangan krisis iklim global dan menurunnya keanekaragaman hayati laut, PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), bagian dari MIND ID, memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan melalui aksi strategis di Pulau Bulupoloe, Sulawesi Selatan. Perusahaan ini bersama mitra menanam 25 ribu struktur terumbu karang buatan (spider reef) dan mengangkat lebih dari 200 kilogram sampah dari garis pantai yang terancam, menandai upaya nyata untuk memulihkan laut Indonesia.

Upaya restorasi ini tidak hanya berhenti pada penanaman. Seluruh struktur karang buatan akan dipantau secara berkala oleh tim selam profesional dari Sorowako Diving Club (SDC). Pemantauan dilakukan dengan metode visual census dan pencitraan bawah laut, memastikan pencatatan pertumbuhan karang, kehadiran spesies laut, dan evaluasi kualitas perairan secara ilmiah dan terukur untuk keberlanjutan restorasi.

Menurut Moh Rendra Gunawan Nading, Coord Project Reef Transplantation, kolaborasi antara SDC dan PT Vale dalam pelestarian ekosistem laut telah sering dilakukan, meliputi reef check, program edukasi kepada masyarakat dan nelayan, serta kegiatan bersih pesisir. “Untuk kegiatan transplantasi terumbu karang jenis spider, ini yang pertama kali, tapi selanjutnya SDC akan terus terlibat termasuk kegiatan monitoring,” ungkap Rendra, yang turut serta dalam transplantasi bersama sebelas anggota SDC.

Suharpiyu Wijaya, Head of IGP Sorowako Limonite PT Vale, menekankan pentingnya monitoring berkelanjutan. “Restorasi laut tidak cukup hanya dengan menanam. Kami pastikan proses monitoring dilakukan secara berkelanjutan. Ini adalah bentuk tanggung jawab kami untuk menciptakan ekosistem yang benar-benar pulih dan hidup kembali,” sambungnya.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa industri ekstraktif dapat menjadi bagian dari solusi. Melalui kolaborasi strategis dengan TNI AL Lantamal VI Makassar, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, Yayasan Konservasi Cinta Laut Indonesia (YKCLI), dan BPSPL Makassar, PT Vale memperlihatkan bahwa perlindungan laut memerlukan pendekatan lintas sektor yang menyatukan kekuatan negara, komunitas, dan dunia usaha.

BACA JUGA :  Percepat Vaksinasi Pelajar, BIN Sultra Gelar Vaksinasi di Tiga Daerah

Danlantamal VI Makassar, Brigjen TNI (Mar) Dr. Wahyudi, S.E., M.Tr.Hanla., M.M., M. Han, mengapresiasi sinergi ini. “Kami sadar bahwa tugas besar ini tidak bisa dijalankan sendiri sehingga sinergi lintas sektoral antara TNI, pemerintah, dunia usaha seperti PT Vale dan masyarakat sipil menjadi kunci untuk memastikan warisan laut dan pesisir bisa dinikmati oleh generasi mendatang,” ungkapnya. Ia juga mengajak agar momentum Hari Mangrove Sedunia dimanfaatkan untuk menggaungkan semangat kolaborasi dalam menjaga lingkungan maritim.

Langkah ini selaras dengan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) yang dijalankan PT Vale, membuktikan bahwa industri tambang harus berkontribusi positif pada lingkungan. “Kami percaya bahwa menjaga laut adalah investasi jangka panjang untuk masa depan yang berkelanjutan. Restorasi ini adalah bentuk nyata dari filosofi kami bahwa keberlanjutan bukan sekadar komitmen, tapi tindakan,” ujar Adriansyah Chaniago, Chief Human Capital Officer PT Vale. Diharapkan, struktur karang ini akan menarik ikan lokal, menjadi sumber ekonomi berkelanjutan bagi nelayan, dan meningkatkan kualitas perairan, dengan melibatkan masyarakat dalam setiap tahap proses.

Pulau Bulupoloe mungkin tampak kecil dalam peta Indonesia, namun dari sinilah harapan besar dimulai. Dengan kolaborasi, transparansi, dan aksi nyata, PT Vale, TNI AL, dan seluruh pemangku kepentingan berkomitmen untuk memulihkan laut Indonesia, satu karang demi satu, demi keberlanjutan kehidupan.