Hijau dari Tanah Sendiri, Transformasi Petani Binaan PT Vale IGP Morowali Menuju Pertanian Organik Berdaya Saing

oleh -624 Dilihat

Morowali, Berikabar.co – PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) terus menjaga komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan dan pengembangan pertanian berkelanjutan di wilayah operasionalnya, khususnya di bawah payung Indonesia Growth Project (IGP) Morowali.

Wafir selaku Head of Bahodopi Project PT Vale Indonesia IGP Morowali, mengatakan bahwa strategi perusahaan mencakup penciptaan nilai jangka panjang bagi masyarakat sekitar. “PT Vale berkomitmen untuk menciptakan nilai jangka panjang bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional, termasuk melalui penguatan sistem pertanian yang berkelanjutan,” kata Wafir.

“Komitmen ini diwujudkan melalui pelatihan teknis, penyediaan sarana prasarana, serta pengembangan sistem pertanian ramah lingkungan berbasis organik, dengan pendekatan partisipatif bersama masyarakat dan kemitraan instansi terkait,” sambungnya.

Melalui PPM (Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat), pihaknya memastikan bahwa program pertanian tidak hanya menciptakan manfaat ekonomi jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi pertanian yang berkelanjutan dan adaptif terhadap tantangan iklim serta dinamika sosial di tingkat lokal.

Ia pun menjelaskan tentang program PSRLB (Pertanian Sehat, Ramah Lingkungan, dan Berkelanjutan) dirancang untuk mendorong transformasi pertanian lokal yang tidak hanya produktif, tetapi juga selaras dengan prinsip kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Indikator keberhasilan program PSRLB diukur melalui beberapa aspek utama, antara lain:

  1. Peningkatan pendapatan petani binaan, sebagai dampak langsung dari penerapan praktik pertanian yang lebih efisien dan bernilai tambah.
  2. Kenaikan hasil produksi pertanian, khususnya produksi gabah kering giling (GKG), sebagai indikator teknis dari keberhasilan pengelolaan lahan dan adaptasi teknologi organik.
  3. Adopsi metode pertanian organik oleh petani binaan secara berkelanjutan, termasuk pengurangan penggunaan bahan kimia sintetis.
  4. Kemandirian kelembagaan petani, seperti terbentuknya kelompok tani PEPSOLI yang aktif dalam pengelolaan produksi dan distribusi hasil panen.
  5. Akses ke pasar yang lebih terstruktur dan berkelanjutan, baik melalui kerja sama dengan mitra lokal maupun perluasan jejaring distribusi.
  6. Peningkatan pemahaman petani terhadap pentingnya konservasi lingkungan, seperti pengelolaan pupuk organik, pemanfaatan pestisida nabati, dan teknik budidaya yang ramah lingkungan.
  7. Melalui evaluasi dengan metode Sustainable Livelihood Impact Assessment, metode ini digunakan untuk menilai status perubahan aset-aset di dalam komunitas. Aset ini terdiri dari aset alam, aset fisik, aset sumber daya manusia, aset keuangan, dan aset sosial.
BACA JUGA :  Kapasitas Gudang Tembus 1.000 Unit, Astra Motor Ambon Kini Hadir dengan Fasilitas 12 Pit Servis

“Evaluasi atas indikator-indikator ini dilakukan secara berkala bersama para pemangku kepentingan untuk menjaga relevansi dan keberlanjutan dampak program di lapangan,” ujarnya.

Wafir juga membeberkan alasan dari PT Vale memprioritaskan ketahanan pangan sebagai bagian dari komitmen memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar wilayah tambang. “Fokus ini sejalan dengan arah pembangunan nasional dalam Asta Cita Presiden Republik Indonesia, serta 8 Pilar Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) di sektor energi dan sumber daya mineral sebagaimana diatur dalam Kepmen ESDM No. 1824K/30/MEM/2018, di mana ketahanan pangan berkaitan erat dengan peningkatan pendapatan riil Masyarakat yang menjadi salah satu pilar prioritas,” bebernya.

PT Vale sendiri optimis bahwa investasi di bidang ketahanan pangan bukan hanya relevan dengan kebutuhan masyarakat sekitar, tetapi juga berperan strategis dalam menciptakan dampak berkelanjutan pascatambang.

Namun demikian, terdapat pula tantangan dalam mengintegrasikan program pertanian ke dalam ekosistem bisnis tambang. Salah satu tantangan utama adalah menyatukan dua ekosistem yang memiliki karakter sangat berbeda, yakni dunia pertambangan yang bersifat industri dan kapital intensif, dengan sektor pertanian yang lebih tradisional dan berbasis komunitas.

“Proses ini membutuhkan pendekatan lintas sektor yang inklusif serta keterlibatan aktif dari para pemangku kepentingan lokal,” tandasnya.

Tantangan signifikan lainnya adalah mengubah pola pikir (mindset) masyarakat, khususnya petani, dari praktik pertanian konvensional menuju pertanian organik yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Perubahan ini tidak hanya memerlukan pelatihan teknis, tetapi juga pendampingan jangka panjang untuk membangun kepercayaan bahwa metode baru ini dapat memberikan hasil yang setara bahkan lebih baik dalam jangka panjang.

“Pendekatan kami adalah kolaboratif, dengan mengutamakan edukasi, bukti keberhasilan nyata di lapangan, serta memperkuat kapasitas kelembagaan petani agar mereka menjadi pelaku utama dalam transformasi menuju ketahanan pangan dan model bisnis lokal yang berkelanjutan,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan terkait pelaksanaan program yang dilakukan tersebut berdasarkan hasil pemetaan kondisi sosial masyarakat (social baseline study) yang dilakukan secara partisipatif bersama pemangku kepentingan lokal, termasuk pemerintah desa dan kelompok masyarakat.

BACA JUGA :  Dukung Transisi Energi, PLN Rekomendasikan Penggunaan Kompor Induksi

“Fokus pelaksanaan program masih berada di 13 desa pemberdayaan yang telah ditetapkan sebagai wilayah prioritas dalam lingkup operasional IGP Morowali. Kami meyakini bahwa konsistensi dalam pelaksanaan program di desa-desa ini merupakan langkah strategis untuk memastikan efektivitas, kualitas dampak, dan kesinambungan jangka panjang,” jelasnya.

Namun demikian, pihaknya tetap membuka ruang untuk pengembangan atau replikasi program di wilayah lain, dengan mempertimbangkan hasil evaluasi, kapasitas pelibatan, serta kesesuaian konteks sosial dan lingkungan setempat.

PT Vale juga menegaskan bahwa  keberlanjutan program melalui pendekatan berbasis penguatan kapasitas lokal dan kelembagaan masyarakat, sehingga inisiatif yang telah dijalankan tidak bergantung sepenuhnya pada kehadiran perusahaan. “Salah satu fokus utama kami adalah membangun kemandirian masyarakat, termasuk melalui peningkatan keterampilan, akses pasar, dan pengelolaan usaha secara berkelanjutan, agar mereka tidak bergantung pada sektor industri pertambangan,” tegasnya.

Pihaknya juga melibatkan secara aktif pemerintah desa, kelompok tani, serta mitra pembangunan lokal dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program, sehingga tercipta ekosistem kolaboratif yang mampu menjaga kesinambungan manfaat dalam jangka panjang.

Berdasarkan laporan keberlanjutan Tahun 2024 Hal : 155 yang diakses melalui Laporan Tahunan dan Keberlanjutan PT Vale Indonesia Tbk  bahwa PT Vale Indonesia mendorong transformasi ekonomi lokal yang berkelanjutan dengan fokus pada peningkatan pendapatan riil, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan rantai nilai komunitas.

Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) telah mendampingi budidaya padi organik seluas 11,89 hektar di empat desa dan sayuran organik 4,59 hektar di tujuh desa, serta berhasil memperoleh sertifikasi dari INOFICE. Program ini memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas dan daya saing produk pertanian lokal.

Pengembangan inovasi bisnis dilakukan melalui PEPSOLI, model usaha petani organik yang mengintegrasikan produksi hingga distribusi dan pemasaran beras organik. Produk PEPSOLI telah menjangkau berbagai segmen pasar dengan kemasan bervariasi, didukung strategi pemasaran digital dan partisipasi dalam pameran. Melalui pendekatan kolaboratif dengan kelompok tani, toko, agen, dan tengkulak lokal, serta pemanfaatan teknologi tepat guna, PEPSOLI memperluas jangkauan distribusi sekaligus menciptakan nilai tambah dari hasil samping pertanian.