Dampak Nyata Program PSRLB PT Vale, Hasil Melimpah Petani Lebih Sejahtera dan Sehat

oleh -654 Dilihat

Morowali, Berikabar.co  – Program Pertanian Sehat, Ramah Lingkungan, dan Berkelanjutan (PSRLB) yang diinisiasi oleh PT Vale Indonesia di wilayah proyek pengembangannya di Indonesia Growth Project (IGP) Morowali telah membawa perubahan signifikan bagi para petani lokal. Tidak hanya pada peningkatan kualitas panen, tetapi juga membawa dampak kesejahteraan dan kesehatan bagi petani dan masyarakat.

Rudin, salah seorang perwakilan petani binaan dari Desa Ululere berbagi pengalamannya mengenai transformasi dari praktik pertanian konvensional menuju sistem organik.

Salah satu fokus dalam Program PSLRB adalah pertanian organik dengan metode SRI (System of Rice Intensification). Terdapat beberapa perbedaan mendasar antara pertanian konvensional dan organik, terutama pada aspek teknik budidaya, produktivitas, dampak terhadap kesehatan, biaya produksi, serta kelestarian lingkungan.

“Secara umum, teknik budidaya antara keduanya tidak jauh berbeda. Namun, perbedaan utama terletak pada sistem penanaman, penyiangan gulma, dan pengendalian hama serta penyakit tanaman (HPT). Dari segi hasil produksi, pertanian organik menghasilkan panen yang lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional. Sementara dari sisi kesehatan, hasil pertanian organik lebih aman dikonsumsi karena tidak menggunakan bahan kimia, melainkan bahan-bahan alami. Hal ini juga berdampak positif bagi lingkungan, karena tidak mencemari tanah dan menjaga kelangsungan biota serta musuh alami tanaman. Sementara itu, bahan kimia pada pertanian konvensional dapat merusak struktur tanah dan membunuh organisme hidup yang bermanfaat,” jelasnya.

Lanjutnya terkaiy biaya produksi pada pertanian organik juga lebih rendah karena pupuk dan pestisida dibuat sendiri oleh petani dari bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar sawah, berbeda dengan pertanian konvensional yang bahan-bahannya harus dibeli di toko.

Pelatihan yang diberikan oleh PT Vale, khususnya materi Pelatihan Ekologi Tanah (PET), sangat membuka wawasan Rudin dan petani lainnya.

“Pelatihan Ekologi Tanah (PET), membuka wawasan kami tentang kerusakan tanah akibat penggunaan bahan kimia selama puluhan tahun,” kata Rudin.

Kerusakan ini meliputi struktur tanah yang rusak, matinya biota tanah, dan hilangnya hewan-hewan musuh alami hama, menyebabkan tanah semakin miskin unsur hara dan kebutuhan pupuk kimia meningkat.

Melalui pelatihan tersebut, para petani mulai menyadari pentingnya pertanian berkelanjutan. “Sejak tahun 2022, kami mulai menerapkan sistem pertanian organik dengan pendekatan SRI dan terus mengembangkan praktik ini hingga sekarang,” tambahnya.

BACA JUGA :  Komitmen Keselamatan Tanpa Kompromi, Pertamina Sulawesi Gelar Simulasi Kebakaran dan Medis Interaktif

Mengenai akses pasar, Rudin menjelaskan bahwa kelompok petani saat ini mengumpulkan seluruh hasil panen dalam bentuk beras dan mendistribusikannya melalui lembaga PEPSOLI.

“PEPSOLI bertanggung jawab memasarkan produk kepada konsumen, meskipun belum ada mitra pasar tetap dalam jangka panjang. Konsumen PEPSOLI saat ini meliputi PT Vale, masyarakat lokal, pelaku usaha/wiraswasta, Pemerintah Daerah Morowali/PNS, kontraktor/perusahaan lainnya, serta karyawan PT Vale dan kontraktor di sekitar Kecamatan Bungku Timur dan Bahodopi,” terangnya.

Meski telah mendapat bantuan alat dan pelatihan, tantangan utama yang masih dihadapi adalah menjaga konsistensi para petani dalam menjalankan program secara berkelanjutan, serta faktor teknis seperti cuaca yang tidak menentu dan risiko serangan hama.

Terkait pengambilan keputusan program, Rudin mengatakan bahwa saat ini program masih dalam tahap pendampingan menuju kemandirian. “Para petani masih dibimbing dalam hal teknik budidaya, kelembagaan, dan pemasaran. Oleh karena itu, pengambilan keputusan belum sepenuhnya dilakukan oleh petani,” jelas Rudin.

Namun demikian, para petani tetap dilibatkan dalam diskusi untuk memberikan masukan, dan koordinasi rutin juga dilakukan dengan pemerintah desa serta dinas terkait.

Berdasarkan Laporan Keberlanjutan PT Vale yang dapat diakses melalui Laporan Tahunan dan Keberlanjutan PT Vale Indonesia Tbk  hal : 159-160

Menjelaskan bahwa perjalanan PT Vale  dalam memperkenalkan System of Rice Intensification (SRI) atau Metode Budidaya Padi Organik kepada masyarakat di Kabupaten Kolaka yang juga merupakan salah satu wilayah operasi PT Vale tidaklah mulus. Sekelompok petani di Desa Puuroda, Kolaka tampak ragu dan meminta mereka untuk mencoba metode tersebut lewat Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB). Hal ini dapat dimengerti, karena metode SRI ini baru bagi mereka. Berbeda dengan sistem pertanian konvensional yang selama ini mereka lakukan dan sangat bergantung pada pupuk kimia.

Setelah mereka setuju untuk mencobanya, PT Vale pun mulai memberikan pelatihan teknis, pemahaman tentang pentingnya pertanian berkelanjutan dan bagaimana mengelola hasil pertanian.

Mustari, salah satu petani yang mengikuti program ini mensyukuri keputusannya untuk ikut pelatihan PSRLB. SRI Organik yang telah diperkenalkan kepada petani Desa Puuroda ternyata membuahkan hasil yang jauh lebih tinggi. Mustari mengatakan, kini ia mampu menghasilkan hingga lima ton padi per hektar, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan saat ia masih menjalankan metode konvensional.

BACA JUGA :  Tertib Frekuensi, PT Vale IGP Pomalaa Raih Penghargaan Loka Monitor SFR Kendari

“Kami sempat ragu, tapi setelah melihat hasilnya, kami sangat bersyukur. Pertanian organik ini benar-benar membawa perubahan. Memang kami harus bekerja lebih keras pada awalnya, tetapi hasilnya sangat memuaskan. Pertanian organik ini bukan hanya mengurangi biaya, tetapi juga memberikan hasil yang lebih baik,” kata Mustari, Penerima Manfaat Program PSRLB.

Ketua Asosiasi Petani Organik Kolaka, Watno juga mengatakan bahwa  kini para petani telah beralih ke praktik pertanian ramah lingkungan dan tidak lagi bergantung pada bahan kimia dalam pertanian. Tidak hanya pertanian, mereka juga mendapatkan pelatihan tentang pemasaran dan pengembangan produk.

Beras organik yang diproduksi kini dipasarkan dengan harga yang lebih kompetitif, mencapai Rp20 ribu per kilogram. Sebanyak 56 petani sudah bergabung dalam program binaan ini, dengan total area tanam hampir 12 hektar dan mereka telah melaksanakan 12 kali panen.

PT Vale percaya pertanian yang berkelanjutan tidak hanya meningkatkan hasil panen tetapi juga kesehatan petani. Melalui Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB), pihaknya mendorong petani dalam pengolahan tanaman obat herbal.

Pengetahuan baru yang diberikan oleh program ini membantu para petani lainnya merawat kesehatan mereka dengan cara yang alami dan ramah lingkungan.

Seorang petani lain, Salmi, menceritakan kondisi kesehatannya membaik setelah mengikuti program ini. Salmi yang menderita penyakit jantung, Salmi mulai mengkonsumsi beras organik dan obat herbal yang tersedia di program PSRLB ini.

PT Vale pun merasa bangga atas capaian program ini, karena selain mampu meningkatkan hasil pertanian, juga menyehatkan bahkan menyejahterakan petani. Ini semua sesuai dengan prinsip berkelanjutan dan Environment, Social and Governance (ESG). PT Vale berharap, PSRLB dapat memperkuat kemandirian ekonomi petani, mendukung pertanian yang ramah lingkungan untuk keberlanjutan di masa depan.