OJK: Ekonomi Domestik Tangguh Hadapi Ketidakpastian Perdagangan Internasional

oleh -350 Dilihat

Jakarta, Berikabar.co — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Rapat Dewan Komisioner Bulanan yang dilaksanakan pada 30 April 2025, menyampaikan bahwa stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) tetap solid, meski tengah menghadapi dinamika global yang penuh ketidakpastian dan tingginya fluktuasi di pasar keuangan internasional.

Sepanjang April 2025, kondisi global didominasi oleh peningkatan ketegangan dalam kebijakan perdagangan internasional, terutama terkait rencana Amerika Serikat (AS) untuk menerapkan tarif impor secara resiprokal. Meskipun Presiden Trump menunda implementasi kebijakan tersebut selama 90 hari, tensi perdagangan antara AS dan Tiongkok tetap meningkat tajam, yang berdampak pada naiknya volatilitas pasar secara global.

Ketidakpastian global ini mendorong sejumlah lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, dan WTO untuk memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dan perdagangan dunia. IMF menurunkan estimasi pertumbuhan ekonomi global 2025 menjadi 2,8 persen, turun signifikan dibandingkan rerata historis periode 2000–2019 yang berada di 3,7 persen. Sementara WTO memperkirakan volume perdagangan barang global pada 2025 akan mengalami kontraksi 0,2 persen (yoy), berbanding terbalik dengan proyeksi sebelumnya sebesar 2,7 persen dan realisasi tahun 2024 sebesar 2,9 persen.

Di AS, meskipun data tenaga kerja tetap tangguh, sejumlah indikator ekonomi mulai menunjukkan perlambatan. Indeks harga konsumen, tingkat kepercayaan konsumen, dan hasil pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2025 memberi sinyal melemahnya aktivitas ekonomi. Proyeksi pertumbuhan ekonomi AS tahun ini pun direvisi turun dari 2 persen menjadi 1,4 persen. Sejalan dengan itu, pasar memperkirakan penurunan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) akan terjadi lebih cepat, dengan kemungkinan pemangkasan pertama pada Juni 2025.

Sementara itu, di Tiongkok, ekonomi mencatat kinerja solid pada triwulan I-2025, terutama berkat sektor manufaktur yang tumbuh kuat. Strategi front-loading ekspor diterapkan untuk mengantisipasi dampak tarif AS, yang turut mendukung laju pertumbuhan. Dari sisi permintaan domestik, meski masih lemah, mulai terlihat perbaikan melalui naiknya inflasi inti dan pertumbuhan penjualan ritel.

BACA JUGA :  Kapolda Sultra Hadiri Upacara Peringatan HUT Sultra ke-62 di Lapangan Tugu Ex MTQ

Di dalam negeri, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,87 persen pada triwulan pertama 2025. Kinerja ini didorong oleh konsumsi rumah tangga yang stabil, ditopang oleh daya beli masyarakat. Sementara itu, inflasi tetap terkendali, dengan inflasi headline April 2025 tercatat sebesar 1,95 persen (yoy) dan inflasi inti sebesar 2,50 persen (yoy), menunjukkan kestabilan permintaan domestik.

Indikator-indikator permintaan seperti penjualan ritel, konsumsi semen, dan penjualan kendaraan bermotor turut mencerminkan pemulihan ekonomi yang masih berlanjut, meski dengan kecepatan moderat. Dari sisi produksi, neraca perdagangan yang tetap mencatat surplus dan kinerja positif emiten pada tahun buku 2024 — yang secara umum lebih baik dari tahun 2023 — menjadi bukti ketahanan ekonomi domestik.