Vale Indonesia Perkuat Kemandirian Petani Organik di Kolaka Lewat Lokakarya PSRLB

oleh -44 Dilihat

Kolaka, Berikabar.co – Pengembangan pertanian organik di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, tidak lagi hanya berfokus pada perubahan pola budidaya. Penguatan kapasitas petani dan kelembagaan menjadi langkah penting agar praktik pertanian ramah lingkungan dapat berjalan mandiri sekaligus memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

Upaya tersebut dilakukan PT Vale Indonesia Tbk melalui fasilitasi lokakarya Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) pada 26–27 Oktober 2026 di Lahan Sawah Blok C Selatan, Desa Puuroda, Kabupaten Kolaka.

Lokakarya ini mempertemukan petani binaan, pemerintah, asosiasi petani, dan sejumlah pemangku kepentingan untuk mengevaluasi penerapan pertanian organik, mengidentifikasi tantangan di lapangan, serta merumuskan rekomendasi pengembangan kelembagaan petani yang lebih mandiri.

Kegiatan berlangsung dalam dua tahap. Pertemuan pertama pada 26 Oktober diikuti 50 petani binaan yang membahas pengalaman dan tantangan penerapan PSRLB. Hasil diskusi tersebut kemudian menjadi bahan pembahasan dalam pertemuan kedua pada 27 Oktober yang melibatkan 120 peserta dari unsur pemerintah, asosiasi petani, dan pemangku kepentingan lainnya.

Head of External Relations Regional and Growth Vale Indonesia, Endra Kusuma, mengatakan pengalaman petani menjadi modal penting dalam membangun model pertanian berkelanjutan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Menurutnya, pemberdayaan petani tidak cukup hanya melalui peningkatan pengetahuan teknis. Lebih dari itu, petani perlu memiliki kemampuan mengembangkan usaha tani secara mandiri serta membangun organisasi yang mampu menjaga keberlanjutan program.

“Keberlanjutan program pertanian perlu bertumpu pada kemampuan petani untuk memahami, menerapkan, dan mengembangkan praktik yang sesuai dengan kondisi mereka. Melalui lokakarya ini, pengalaman petani menjadi bahan pembelajaran bersama untuk merumuskan rekomendasi dan langkah tindak lanjut, sehingga praktik PSRLB dapat terus berkembang serta didukung oleh kelembagaan petani yang semakin mandiri,” ujarnya.

Lokakarya tersebut melibatkan Asosiasi Petani Organik Kolaka (ASPOK), warga belajar dari empat kecamatan, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian, serta Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Baula dan Tanggetada.

BACA JUGA :  Jaga kualitas Rupiah, BI Sultra Musnahkan 342 Miliar UTLE

Dari rangkaian diskusi, peserta merumuskan empat rekomendasi utama untuk memperkuat penerapan PSRLB. Pertama, pembangunan pertanian perlu mengacu pada prinsip pertanian sehat ramah lingkungan dengan menerapkan nilai-nilai ekologis dalam kegiatan usaha tani sehari-hari.

Kedua, pendidikan petani perlu menitikberatkan pada pemahaman dan penyadaran berbasis pengalaman agar tumbuh keyakinan untuk mengembangkan usaha tani secara mandiri. Ketiga, pemulihan keseimbangan ekosistem, terutama kesehatan tanah, perlu menjadi prioritas setelah lahan mengalami dampak praktik pertanian konvensional dan penggunaan pupuk kimia serta pestisida secara terus-menerus.

Keempat, diperlukan program tindak lanjut yang jelas untuk melanjutkan pemberdayaan dan mengembangkan kelembagaan petani. Pengembangan tersebut diarahkan pada prinsip kemandirian, produktivitas, kearifan, kesehatan, efisiensi, kelestarian, dan keberlanjutan.

Rekomendasi tersebut dibahas bersama pemangku kepentingan pada 27 Oktober sebagai dasar evaluasi dan penyusunan langkah lanjutan. Melalui proses ini, pembelajaran dari tingkat petani diharapkan dapat terhubung dengan dukungan kelembagaan dan kebijakan pemerintah.

Empat Tahun Perjalanan Pertanian Organik di Kolaka

Pengembangan pertanian organik di wilayah tersebut telah berjalan sejak awal 2022, dimulai dari Desa Hubonga dan Desa Puuroda, Kecamatan Baula. Camat Baula, Syahrial Darmawan, mengapresiasi kontribusi Vale Indonesia dalam mendukung pengembangan padi organik selama empat tahun terakhir.

Ia menilai pertanian organik memiliki potensi meningkatkan pendapatan petani sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas. Namun, peningkatan produktivitas masih diperlukan untuk memenuhi permintaan beras organik yang terus berkembang.

“Alhamdulillah, setelah empat tahun kita bisa melihat bagaimana potensi beras organik semakin berkembang dan turut meningkatkan pendapatan petani. Pasarnya sangat baik, tetapi permintaan masih cukup besar sementara ketersediaan stok terbatas. Harapan kami, pengembangan ini terus ditingkatkan melalui kerja sama antara Vale Indonesia dan petani, terutama untuk meningkatkan produktivitas dan memenuhi kebutuhan pasar,” ujar Syahrial.

BACA JUGA :  PT Vale Fokus Tangani Insiden Kebocoran Pipa Minyak, Prioritaskan Keselamatan Warga dan Lingkungan

Pemerintah kecamatan, lanjut Syahrial, turut memfasilitasi komunikasi antara petani dan Vale Indonesia untuk menindaklanjuti kebutuhan pengembangan pertanian organik. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian, termasuk melalui pelatihan Training of Trainers (ToT) agar pengetahuan dan kemampuan petani dalam menerapkan PSRLB semakin luas.

Manfaat perubahan pola pertanian juga dirasakan langsung oleh petani. Indah, salah satu petani yang mengembangkan pertanian organik, mengaku sempat menghadapi tantangan saat beralih dari penggunaan pupuk kimia menuju bahan-bahan alami.

Masa transisi tersebut membutuhkan ketekunan dan penyesuaian. Namun, seiring waktu, ia mulai mampu mengolah bahan yang sebelumnya terbuang menjadi pupuk organik, sekaligus mengembangkan sumber pendapatan tambahan dari hasil pertanian dan pekarangan rumah.

“Dulu saya sempat penasaran, apakah hanya dengan bahan-bahan alami dan rerumputan tanaman bisa tumbuh sehat. Sekarang saya bisa membuat pupuk organik dari bahan yang sebelumnya terbuang menjadi bermanfaat. Saya juga bisa menjual kompos dan tanaman dari pekarangan rumah. Sesuatu yang awalnya tidak menghasilkan, sekarang bisa menjadi sumber pendapatan,” tutur Indah.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa peralihan menuju pertanian organik bukan hanya menyangkut perubahan teknik budidaya, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya lokal dan pengembangan usaha ekonomi petani.

Melalui lokakarya PSRLB, Vale Indonesia mendorong agar pengalaman petani menjadi landasan penyusunan program pemberdayaan yang lebih terarah. Sinergi antara petani, pemerintah, asosiasi, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan memperkuat kelembagaan petani organik, memperluas penerapan pertanian ramah lingkungan, serta meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.