Hadapi Musim Hujan, Vale Indonesia Perkuat Sistem Pengendalian Air di Proyek IGP Pomalaa

oleh -48 Dilihat

Pomalaa, Berikabar.co  – PT Vale Indonesia Tbk (Vale Indonesia), bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), memperkuat sistem pengelolaan dan pengendalian air di kawasan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Langkah ini dilakukan untuk memitigasi dampak pembukaan lahan, menjaga kualitas lingkungan, sekaligus mengantisipasi peningkatan intensitas curah hujan selama musim penghujan.

Penguatan tersebut dilakukan melalui percepatan pembangunan infrastruktur pengendalian air, termasuk kolam pengendap atau sediment pond di sejumlah titik strategis kawasan proyek. Fasilitas ini dirancang untuk mengendalikan limpasan air hujan, menahan laju erosi, serta mencegah material sedimen terbawa keluar dari wilayah operasional.

Head of Pomalaa Project Vale Indonesia, Mohammad Rifai, mengatakan penyempurnaan sistem pengelolaan air terus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan, potensi cuaca ekstrem, serta hasil evaluasi berkala. Upaya tersebut juga menjadi bagian dari pembelajaran perusahaan terhadap kejadian curah hujan ekstrem yang sebelumnya sempat memicu luapan air di sejumlah kolam penampung berkapasitas kecil.

“Kami berkomitmen tinggi terhadap keberlanjutan lingkungan. Untuk itu, kami terus melakukan berupaya melakukan penyempurnaan sistem pengelolaan air dengan mempertimbangkan kondisi lapangan serta potensi cuaca ekstrem serta evaluasi berkala. Berdasarkan evaluasi terhadap kejadian curah hujan ekstrem sebelumnya yang sempat memicu luapan pada sejumlah pocket pond atau kolam penampung berkapasitas kecil, Vale Indonesia terus melakukan perbaikan teknis dan meningkatkan pengendalian secara intensif. Hingga saat ini, kami telah membangun sebanyak 16 sediment pond, dan 3 lainnya sedang dalam tahap konstruksi,” bebernya.

Hingga November 2026, Vale Indonesia telah menyelesaikan pembangunan 16 kolam pengendap, sementara tiga kolam lainnya masih dalam tahap konstruksi. Infrastruktur tersebut menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan air terpadu di IGP Pomalaa, terutama untuk menampung limpasan dari area proyek agar material sedimen dapat mengendap sebelum air dialirkan secara terkendali sesuai standar pengelolaan lingkungan.

BACA JUGA :  Kemenag Sultra Peringati Harlah Pancasila 2025, Teguhkan Komitmen Ideologi Bangsa

Untuk menunjang operasional fasilitas tersebut, perusahaan juga mendistribusikan jaringan listrik berkapasitas 5 Megawatt (MW) ke sejumlah titik strategis proyek, termasuk kawasan kolam pengendap. Dukungan kelistrikan ini diperlukan agar fasilitas pengelolaan air dapat beroperasi secara optimal, khususnya ketika terjadi peningkatan debit air akibat hujan berintensitas tinggi.

Selain pembangunan infrastruktur fisik, pengawasan kualitas lingkungan juga diperkuat melalui pemantauan berkala di Daerah Aliran Sungai (DAS) Huko-Huko dan Sungai Oko-Oko, Kecamatan Pomalaa. Pengambilan sampel air dilakukan secara terjadwal di sejumlah area tangkapan air sekitar wilayah operasional untuk mendeteksi potensi peningkatan sedimentasi sejak dini.

”Selain memperkuat infrastruktur fisik, untuk menjalankan komitmen terhadap keberlanjutannya, Vale Indonesia juga melakukan pemantauan kualitas lingkungan secara berkala, khususnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) Huko-Huko dan Sungai Oko-Oko di Kecamatan Pomalaa. Pengambilan sampel air dilakukan secara terjadwal pada area tangkapan air di sekitar wilayah operasional untuk mendeteksi potensi peningkatan sedimentasi sejak dini serta mencegah dampaknya terhadap ekosistem sungai dan lahan pertanian masyarakat,” jelas Rifai.

Penguatan sistem pengelolaan air tersebut juga diarahkan untuk mengurangi risiko genangan dan banjir di kawasan permukiman. Perusahaan melakukan pembenahan infrastruktur eksternal guna memperlancar aliran air menuju laut, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan dampak cuaca ekstrem di sekitar wilayah proyek.

Dalam kondisi darurat, Vale Indonesia menyiagakan tim Fire and Emergency Services (FES) untuk melakukan pemantauan lapangan, mendata dampak kejadian, serta mendukung penanganan awal terhadap kerusakan tanggul. Tim tersebut juga dipersiapkan untuk membantu penyaluran logistik apabila hujan ekstrem berdampak terhadap desa-desa di sekitar kawasan operasional.

Upaya mitigasi juga dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah dan perangkat daerah terkait. Kerja sama tersebut mencakup pembenahan fasilitas umum di kawasan aliran sungai dan pesisir Kecamatan Pomalaa yang rentan terdampak cuaca ekstrem, termasuk perbaikan drainase, tanggul, dan jalan lingkungan.

BACA JUGA :  Alami Luka-luka, Ibu Dua Anak Asal Konawe Dijadikan Tersangka Lakalantas

Dalam jangka panjang, Vale Indonesia turut mengembangkan solusi berbasis alam untuk mengurangi limpasan air permukaan sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan. Salah satunya melalui pengoperasian Fasilitas Persemaian Modern atau nursery di Kecamatan Tanggetada yang pembangunannya telah rampung 100 persen.

Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi hingga satu juta bibit per tahun untuk mendukung kegiatan penghijauan dan reklamasi. Penanaman vegetasi secara bertahap diharapkan dapat memperkuat tutupan lahan, menekan laju erosi, serta meningkatkan kemampuan tanah dalam menyerap air secara alami.

Melalui kombinasi pembangunan infrastruktur pengendalian air, pemantauan kualitas lingkungan, kesiapsiagaan tanggap darurat, dan rehabilitasi vegetasi, Vale Indonesia berupaya memperkuat pengelolaan lingkungan di IGP Pomalaa. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan operasional proyek sekaligus meminimalkan potensi dampak lingkungan terhadap masyarakat di sekitar wilayah pertambangan.