Cegah Perundungan Anak, Irwasda Polda Sultra Ajak Keluarga dan Gereja Perkuat Kepedulian

oleh -70 Dilihat

Kendari, Berikabar.co – Perlindungan anak dari perundungan atau bullying tidak cukup hanya mengandalkan peran sekolah. Keluarga, lingkungan masyarakat, hingga lembaga keagamaan memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan anak tumbuh dalam suasana aman, sehat, dan bebas dari kekerasan.

Pesan tersebut disampaikan Inspektur Pengawasan Daerah (Irwasda) Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) Kombes Pol. Johanes P. Siboro, S.H., S.I.K., M.H., saat menghadiri kegiatan Minggu Kasih di Gereja Katolik Paroki Santa Maria Diangkat ke Surga, Andounohu, Kota Kendari, Minggu (8/11/2026).

Mengangkat tema “Stop Bullying, Lindungi Anak, Bangun Generasi yang Berkarakter dan Penuh Kasih”, kegiatan tersebut dimanfaatkan untuk mengedukasi jemaat mengenai bahaya perundungan sekaligus mendorong keterlibatan keluarga dan masyarakat dalam melindungi anak.

Dalam penyampaiannya, Johanes mengingatkan bahwa bullying bukan sekadar candaan atau kenakalan anak. Perundungan merupakan tindakan menyakiti, menghina, mengintimidasi, hingga merendahkan orang lain yang dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari kekerasan fisik, verbal, psikologis, hingga melalui media sosial.

Dampaknya pun tidak bisa dianggap sepele. Anak yang menjadi korban perundungan berpotensi kehilangan kepercayaan diri, mengalami ketakutan untuk bersekolah, penurunan prestasi akademik, hingga gangguan psikologis yang dapat memengaruhi perkembangan mereka.

Karena itu, ia mengingatkan orang tua dan masyarakat agar tidak menormalisasi perilaku mengejek, menghina, maupun tindakan kekerasan terhadap anak. Pesan tersebut juga sejalan dengan ajaran Matius 7:12 yang mengajarkan pentingnya memperlakukan orang lain sebagaimana seseorang ingin diperlakukan.

“Pencegahan perundungan harus dimulai dari keluarga. Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka, mendengarkan keluhan anak, serta memperhatikan perubahan perilaku dan kondisi emosional mereka. Anak juga perlu diajarkan untuk tidak menjadi pelaku, tidak ikut menertawakan korban, serta berani melapor apabila menyaksikan tindakan intimidasi atau kekerasan,” kata Kombes Johanes.

BACA JUGA :  OJK Dukung Peluncuran BPI Danantara Guna Tingkatkan Investasi Dalam Negeri

Menurutnya, keluarga menjadi lingkungan pertama yang menentukan bagaimana anak memahami sikap saling menghormati dan menghargai sesama. Orang tua perlu membangun komunikasi yang baik agar anak merasa aman untuk menceritakan persoalan yang dialami, termasuk ketika menghadapi intimidasi atau kekerasan.

Selain keluarga, upaya pencegahan juga membutuhkan kolaborasi sekolah, gereja, masyarakat, dan kepolisian. Lingkungan yang peduli diharapkan mampu mendeteksi lebih dini tindakan perundungan sehingga korban dapat segera memperoleh perlindungan dan pendampingan.

Johanes juga mengingatkan masyarakat agar tidak ragu melaporkan apabila menemukan dugaan tindak pidana yang berkaitan dengan kekerasan atau perundungan. Penanganan melalui pihak berwenang diperlukan agar setiap laporan dapat ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Pada kesempatan tersebut, Irwasda Polda Sultra turut menyampaikan program prioritas Kapolri bertajuk “Polisi Bersama Masyarakat”. Melalui program ini, masyarakat didorong tidak hanya menjadi penerima pelayanan kepolisian, tetapi juga terlibat aktif menyampaikan aspirasi, memberikan masukan, serta mengawasi pelaksanaan tugas dan perilaku anggota Polri.

Sebagai bentuk keterbukaan pelayanan, Polda Sultra telah menyediakan kanal pengaduan masyarakat melalui aplikasi e-Dumas dan barcode Dumas. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menyampaikan laporan maupun pengaduan terkait pelayanan dan pelaksanaan tugas kepolisian.

Melalui kegiatan Minggu Kasih, Polda Sultra berharap pesan pencegahan bullying dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, gereja, hingga masyarakat luas.

Perlindungan anak, sebagaimana ditekankan dalam kegiatan tersebut, bukan hanya tentang memastikan mereka memperoleh pendidikan yang baik, tetapi juga memberikan ruang tumbuh yang aman, bahagia, serta membentuk karakter yang penuh kasih dan kepedulian terhadap sesama.