Vale Indonesia Intensifkan Penanganan Karhutla di Wilayah IGP Pomalaa

oleh -49 Dilihat

Kolaka, Berikabar.co – PT Vale Indonesia Tbk mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Puulemo dan Baula, sekitar area Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Perusahaan yang merupakan bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID) itu mengerahkan personel dan sumber daya untuk membantu mengendalikan kebakaran serta mencegah api meluas.

Berdasarkan pemetaan sementara, kebakaran di Puulemo mencakup area seluas 31,68 hektare di dalam wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) Vale Indonesia. Penanganan di lokasi tersebut dilakukan tim Fire and Emergency Services (FES) Vale Indonesia bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Sementara itu, kebakaran di wilayah Baula diperkirakan meliputi sekitar 90 hektare di dalam wilayah IUPK dan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH). Penanganan langsung di lokasi tersebut masih dikoordinasikan secara intensif, terutama untuk memastikan tersedianya akses menuju titik kebakaran.

Di tengah kondisi lapangan yang menantang, personel FES Vale Indonesia terus berupaya mengendalikan api dari satu titik ke titik lainnya. Setiap langkah penanganan dilakukan dengan mengutamakan keselamatan personel serta berkoordinasi dengan BPBD untuk menentukan tindakan yang sesuai dengan kondisi aktual di lapangan.

Head of Pomalaa Project Vale Indonesia, Mohammad Rifai, mengatakan perusahaan terus mengerahkan kemampuan dan sumber daya yang tersedia untuk mempercepat penanganan karhutla secara aman, terukur, dan terkoordinasi.

“Tim FES Vale Indonesia terus bekerja bersama BPBD untuk menangani kebakaran di Puulemo. Pada saat yang sama, kami sedang mempersiapkan respons terhadap kebakaran di Baula, mulai dari pemetaan akses menuju lokasi, identifikasi sumber air terdekat, asesmen lapangan, hingga koordinasi dengan pemerintah dan instansi terkait,” ujar Rifai.

Menurut Rifai, keterbatasan akses menjadi salah satu tantangan utama dalam menangani kebakaran di Baula. Untuk mengatasi kendala tersebut, Vale Indonesia berkoordinasi dengan tim eksplorasi guna mengidentifikasi jalur yang dapat digunakan menuju titik kebakaran sekaligus memetakan sumber air terdekat.

BACA JUGA :  Polres Kolaka Gagalkan Peredaran 3 Kilogram Sabu, Kurir Jaringan Lintas Provinsi Ditangkap

Perusahaan juga menyiapkan asesmen lapangan untuk mendapatkan gambaran visual dan data aktual mengenai kondisi lokasi. Kegiatan tersebut akan melibatkan tim terkait dengan pendampingan personel FES Vale Indonesia. Hasil asesmen nantinya menjadi dasar untuk menentukan metode penanganan yang efektif dengan tetap memperhatikan keselamatan.

“Setiap waktu sangat berarti dalam situasi seperti ini. Namun, keselamatan masyarakat dan seluruh personel yang terlibat harus tetap menjadi prioritas. Karena itu, kami memastikan setiap langkah dilakukan berdasarkan kondisi aktual di lapangan dan melalui koordinasi yang kuat dengan seluruh pihak,” kata Rifai.

Selain mengerahkan personel, Vale Indonesia menyiapkan dukungan peralatan dan tenaga apabila pembuatan sekat bakar dinilai diperlukan. Perusahaan juga memperbarui data setiap hari, meliputi pemetaan wilayah terdampak, dokumentasi visual, serta koordinat titik kebakaran. Data tersebut digunakan untuk mendukung pemantauan dan pengambilan keputusan bersama.

Sebagai bagian dari penguatan penanganan, kondisi kebakaran di Baula akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan pemerintah daerah dan instansi terkait, termasuk Satuan Tugas Penanganan Karhutla, BPBD, Pemerintah Kabupaten Kolaka, serta Kesatuan Pengelolaan Hutan. Informasi mengenai perkembangan karhutla juga akan dilaporkan melalui sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan Sipongi.

Dengan mempertimbangkan luas area terdampak, Vale Indonesia turut mendorong dukungan tambahan dari unsur terkait melalui koordinasi bersama Satgas Karhutla dan aparat kewilayahan. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas penanganan di lapangan, terutama dalam menghadapi kondisi medan dan potensi meluasnya kebakaran.

Sejumlah langkah lanjutan juga tengah dipertimbangkan, termasuk pembuatan sekat bakar untuk memutus jalur bahan bakar api. Apabila kondisi kebakaran tidak memungkinkan ditangani melalui jalur darat, dukungan udara dapat menjadi salah satu opsi yang dikaji lebih lanjut. Keputusan penanganan akan didasarkan pada hasil asesmen lapangan dengan mempertimbangkan keselamatan, efektivitas, kondisi lingkungan, serta ketentuan perizinan.

BACA JUGA :  OJK Paparkan Perkembangan Sektor Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun (PPDP)