Kendari, Berikabar.co — Festival budaya yang digelar Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) dalam rangka Silaturahmi Akbar Masyarakat Muna mencatat sejarah baru. Sebanyak 1.228 dulang berhasil disajikan dalam satu rangkaian acara, melampaui target awal panitia sebanyak 1.200 dulang dan mengantarkan masyarakat Muna meraih rekor dunia.
Pencapaian tersebut diumumkan langsung oleh Senior Manager Museum Rekor Indonesia, Triyono, setelah tim melakukan proses verifikasi sejak pagi hari di lokasi kegiatan yang berlangsung di Lapangan Eks MTQ Kota Kendari pada Minggu (19/7/2026).
Dalam tradisi masyarakat Muna, dulang atau tala merupakan nampan besar yang digunakan untuk menyajikan aneka hidangan pada upacara adat. Isi dulang disusun secara rapi dengan berbagai makanan dan kue tradisional, seperti lapa-lapa, ayam kandara, nasi ketan, telur, pisang raja, wajik, cucur, hingga onde-onde. Setiap susunan makanan memiliki makna filosofis yang mencerminkan rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.
Triyono mengatakan, hasil penghitungan menunjukkan jumlah dulang yang tersaji mencapai 1.228, lebih banyak dibanding target yang diajukan panitia. Atas capaian itu, MURI memutuskan memberikan pengakuan pada level dunia.
Ia menilai kegiatan tersebut bukan sekadar memecahkan rekor, tetapi juga menghadirkan pesan kuat tentang pentingnya menjaga nilai kekeluargaan dan budaya di tengah perkembangan zaman.
Ketua Panitia Silaturahmi Akbar dan Festival Budaya KKMM, LM Bariun, mengungkapkan bahwa keberhasilan menghadirkan ribuan dulang merupakan hasil gotong royong masyarakat Muna, tanpa dukungan sponsor maupun donatur.
Ia menjelaskan, setiap dulang dipersiapkan secara mandiri oleh warga dengan perkiraan biaya sekitar Rp1,5 juta. Jika diakumulasikan, nilai partisipasi masyarakat dalam kegiatan tersebut diperkirakan mencapai lebih dari Rp1,8 miliar.
Menurut Bariun, keterlibatan masyarakat datang dari berbagai kalangan, mulai dari pengurus RT, RW, lurah, camat, tokoh masyarakat Muna di Kendari, hingga perantau yang berada di Jakarta, Papua, Sulawesi Tengah, dan daerah lainnya.
Keberhasilan tersebut menjadi penanda kuat bahwa tradisi masyarakat Muna tidak hanya tetap hidup di tengah modernisasi, tetapi juga mampu mendapat pengakuan di tingkat dunia melalui semangat gotong royong dan pelestarian budaya.





