OJK Ungkap Tantangan Inklusi Keuangan di Wilayah Kepulauan Sultra

oleh -42 Dilihat

Kendari, Berikabar.co  – Di tengah capaian literasi dan inklusi keuangan yang tertinggi di kawasan Sulampua, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tenggara masih menghadapi tantangan pemerataan akses layanan keuangan, khususnya di wilayah kepulauan.

Kepala OJK Sultra, Bismi Maulana Nugraha, mengatakan sejumlah daerah kepulauan seperti Buton Utara, Buton Selatan, Buton Tengah, Muna Barat dan Wakatobi masih membutuhkan perhatian lebih dalam penguatan akses layanan keuangan dan edukasi kepada masyarakat.

“Meski secara agregat Sultra tampil unggul di Sulampua, kami tidak boleh berpuas diri. Data sebaran kegiatan edukasi OJK Sultra TW I 2026 menunjukkan kabupaten-kabupaten kepulauan seperti Buton Utara, Buton Selatan, Buton Tengah, Muna Barat, dan Wakatobi masih memiliki jumlah kegiatan edukasi dan peserta yang lebih rendah dibandingkan Kota Kendari dan Konawe Selatan,” ujar Bismi.

Ia menjelaskan, tantangan tersebut sejalan dengan temuan SNLIK 2026 yang menunjukkan masih adanya kesenjangan antara masyarakat perkotaan dan perdesaan dalam hal literasi maupun inklusi keuangan.

“Data SNLIK 2026 secara nasional juga menegaskan bahwa kesenjangan perkotaan-perdesaan masih menjadi tantangan nyata, literasi perdesaan nasional (63,27%) tertinggal sekitar 9 poin dari perkotaan (72,03%), dan inklusi perdesaan (77,08%) tertinggal sekitar 18 poin dari perkotaan (95,47%),” katanya.

Selain faktor geografis, OJK juga memetakan sejumlah hambatan yang dihadapi masyarakat pesisir dan kepulauan dalam mengakses layanan perbankan. Mulai dari jarak yang jauh menuju kantor bank, keterbatasan waktu nelayan untuk bertransaksi, hingga persoalan administrasi kependudukan.

“Ada empat kendala utama yang kami petakan: pertama, jarak geografis untuk ke kantor bank terdekat, nelayan di pulau-pulau terluar harus menyeberang laut dengan biaya tidak sedikit; kedua, adalah waktu, nelayan berangkat subuh, pulang sore, kantor bank tutup; ketiga, dokumentasi sebagian warga kepulauan belum memiliki dokumen kependudukan lengkap; keempat, kepercayaan masih ada persepsi bahwa bank itu ‘ribet’ dan ‘hanya untuk orang kaya’,” jelasnya.

BACA JUGA :  DPR RI dan Pemprov Sultra Bahas RUU Penataan Kabupaten, Soroti Sejarah dan Batas Wilayah

Menurut Bismi, edukasi langsung kepada masyarakat menjadi salah satu pendekatan yang paling efektif untuk mengubah persepsi tersebut dan meningkatkan kepercayaan terhadap layanan keuangan formal.