Luwu Timur, Berikabar.co – Keberhasilan PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) meraih Gold Award dalam Asia ESG Positive Impact Awards 2025 (PIA 2025) lewat program “Kehati Lutim Bersinergi” menegaskan posisi perusahaan sebagai pionir dalam praktik pertambangan berkelanjutan. Di balik penghargaan bergengsi itu, terdapat inovasi berbasis sains yang secara nyata mampu mempercepat pemulihan ekosistem.
Salah satu terobosan kunci adalah penggunaan Metode Rootballed dalam kegiatan rehabilitasi lahan pascatambang. Metode ini, menurut perusahaan, efektif memangkas waktu pemulihan hingga 3-4 tahun, khususnya untuk spesies endemik Sulawesi.
Andri Ardiansyah, Specialist Biodiversity and Mine Closure PT Vale Indonesia, menjelaskan bahwa metode ini berfokus pada penyelamatan bibit lokal yang memiliki karakter lambat tumbuh.
“Metode Rootballed membantu percepatan program restorasi hutan melalui kegiatan rehabilitasi pasca tambang dengan menggunakan bibit lokal yang sudah mencapai fase pancang dan atau tiang pada saat ditanam,” ungkap Andri.
Mekanisme Rootballed: Menanam dengan ‘Bola Akar’
Andri menjelaskan lebih detail mengenai mekanisme kerja metode ini. Tumbuhan pada fase pancang dan tiang digali bersama tanahnya dari hutan alam dan dibungkus dengan karung membentuk bola. Setelah itu, tanaman dipelihara dan diberi pupuk cair perangsang akar untuk membantu tanaman bertahan dan merangsang pertumbuhan akar baru pada media tanah, sebelum diaklimatisasi dan siap ditanam di area reklamasi pascatambang.
“Metode ini efektif khususnya dalam menyelamatkan bibit tanaman lokal, endemik dan dilindungi yang umumnya adalah jenis pohon daur panjang yang rata-rata memiliki karakter lambat tumbuh,” jelas Andri. Ia menambahkan, upaya ini juga berdampak pada ditemukannya spesies baru tanaman asli hutan untuk diidentifikasi dan diperbanyak di nursery PT Vale.
Dalam implementasinya, tantangan teknis yang dihadapi antara lain adalah meningkatkan keterampilan tenaga kerja, yang diatasi dengan pelatihan memadai. Selain itu, aksesibilitas ke lokasi pengambilan bibit di beberapa area memiliki risiko safety yang perlu dikelola dengan baik.
Inovasi KOKKUBI: Konservasi Cethosia myrina dan Satwa Lain
Selain pemulihan flora, PT Vale juga fokus pada fauna endemik melalui inovasi KOKKUBI (Konservasi Kupu-Kupu Bidadari). Program ini bertujuan melindungi dan melestarikan Cethosia myrina, spesies dilindungi endemik Sulawesi.
“Program KOKKUBI dilakukan oleh perusahaan dalam upaya perlindungan dan pelestarian kenanekaragaman hayati melalui kegiatan konservasi jenis Kupu-kupu salahsatunya adalah Kupu-kupu Bidadari (Cethosia myrnia), program ini diharapakan dapat memberikan nilai tambah terhadap lingkungan diantaranya peningkatan jumlah spesies dan jumlah individu kupu kupu, khususnya jenis dilindungi yaitu Cethosia myrina serta bertambahnya ruang terbuka,” kata Andri Ardiansyah.
Upaya ini didukung dengan penanaman tanaman sumber pakan larva (host plants) seperti Alpukat, Jeruk Bali, dan Jeruk Nipis, serta tanaman penghasil nektar (nectar plants) seperti Impatiens sp, Jarong, Pagoda, dan Asoka, yang seluruhnya tersedia di Taman Kehati – Kebun Raya Sawerigading Wallacea.
Lebih jauh, PT Vale juga menargetkan konservasi satwa dilindungi lainnya. Sejak 2009, perusahaan telah bekerja sama dengan BKSDA Sulsel untuk pembiakan Rusa (Rusa timorensis). Satwa lain yang menjadi target PT Vale adalah Anoa, Burung Julang Sulawesi, dan Maleo Sengkawor.
Indeks Keanekaragaman Hayati Melebihi Batas Ideal
Keberhasilan konservasi ini terukur melalui peningkatan Indeks Shannon-Wiener. Data PT Vale menunjukkan peningkatan Indeks Shannon-Wiener untuk flora mencapai 3.0 dan fauna mencapai 2.85.
“Indeks Shannon-Wiener adalah salah satu paramater untuk melihat tingkat keanekaragaman pada suatu wilayah, nilai indeks ini bersifat site spesific, angka 2.5 sampai 3 sudah mencerminkan bahwa di area konservasi PT Vale keanekaragaman jenisnya sudah cukup baik,” terang Andri.
Ke depan, perusahaan menargetkan indeks kehati di taman konservasi kupu-kupu dapat mendekati indeks kehati di area yang dijadikan baseline, yaitu di sekitar pantai C Salonsa Sorowako.
Di luar area konsesi, PT Vale juga berkomitmen merehabilitasi ± 10.000 hektare Daerah Aliran Sungai (DAS) yang tersebar di 18 kabupaten di empat provinsi, sejalan dengan Permen LHK No. 59 Tahun 2019. Program ini berkolaborasi dengan pemangku kepentingan dan menggunakan tanaman buah-buahan yang dikombinasi dengan tanaman kehutanan.





