Kendari, Berikabar.co – Sektor Industri Keuangan Non Bank (IKNB) di Sulawesi Tenggara (Sultra) menunjukkan tren kinerja yang sangat positif hingga paruh kedua tahun 2025. Pertumbuhan signifikan terjadi di berbagai segmen, terutama pada penyaluran pinjaman fintech lending.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Kantor OJK Provinsi Sulawesi Tenggara, Bismi Maulana Nugraha, dalam acara Bincang Jasa Keuangan (BIJAK) bersama media di Jakarta, pada 29 November 2025.
Bismi menjelaskan bahwa secara keseluruhan, Industri Keuangan Non Bank di Sulawesi Tenggara menunjukkan kinerja yang positif.
Asuransi dan Pembiayaan Tumbuh Stabil
Di sektor asuransi, premi yang dihimpun meningkat dari Rp149 miliar pada Triwulan I (Tw I) 2024 menjadi Rp165 miliar pada Tw I 2025. Kenaikan premi ini diikuti oleh peningkatan klaim, dari Rp103 miliar menjadi Rp113 miliar pada periode yang sama.
Sementara itu, kinerja perusahaan pembiayaan juga mencatat peningkatan piutang (receivables). Total piutang perusahaan pembiayaan di Sultra tumbuh dari Rp6,4 triliun pada Desember 2023 menjadi Rp6,7 triliun per Agustus 2025.
Fintech Lending Melompat, Risiko Terjaga
Pertumbuhan paling pesat dicatatkan oleh sektor fintech lending atau pinjaman online. Outstanding pinjaman dari sektor fintech di Sultra melompat tajam, dari Rp244 miliar pada Desember 2023 menjadi Rp755 miliar per Agustus 2025.Capaian fantastis ini merefleksikan pertumbuhan tahunan (YoY Growth) sebesar 58,49%.
“Pertumbuhan fintech lending yang mencapai lebih dari 58 persen ini menunjukkan semakin tingginya adopsi teknologi keuangan oleh masyarakat untuk kebutuhan pembiayaan,” ujar Bismi Maulana Nugraha.
Meskipun mengalami pertumbuhan yang tinggi, Bismi memastikan bahwa risiko kredit di sektor ini masih dalam batas aman. Tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) pinjaman online tercatat di level 1,43% per Agustus 2025.
OJK Sultra berkomitmen untuk terus mengawasi dan mendorong pertumbuhan IKNB yang sehat dan berkelanjutan, sejalan dengan peningkatan literasi keuangan masyarakat, demi memastikan perlindungan konsumen tetap menjadi prioritas utama.





