Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra Intervensi Pasar: Pastikan Harga Pangan Stabil Sesuai Visi Gubernur

oleh -219 Dilihat

Kendari, Berikabar.co – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) melalui Dinas Perkebunan dan Hortikultura terus menunjukkan komitmennya dalam mengendalikan laju inflasi, khususnya di subsektor hortikultura.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah pelaksanaan Pasar Tani Hortikultura, yang kembali digelar bertepatan di Tugu Pilar, samping Kantor Bappeda Sultra, Jumat (24/10/2025). Kegiatan ini menjadi bukti nyata dukungan terhadap visi dan misi Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, yakni “Terwujudnya masyarakat Sultra yang aman, maju, sejahtera, dan religius.”

Melalui kegiatan tersebut, pemerintah daerah berupaya menjaga stabilitas harga bahan pangan, memperkuat rantai pasok hortikultura, serta meningkatkan kesejahteraan petani lokal.

Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra, Dr. LM Rusdin Jaya, menjelaskan bahwa pelaksanaan Pasar Tani merupakan bagian dari strategi Pemprov Sultra dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus menekan inflasi di daerah.

“Sesuai dengan visi-misi Bapak Gubernur Sultra, Dinas Perkebunan dan Hortikultura terus bergerak mengendalikan laju inflasi pada subsektor hortikultura. Kami ingin memastikan harga di tingkat produsen dan konsumen tetap stabil agar daya beli masyarakat terjaga dan petani tetap sejahtera,” ujar Rusdin Jaya.

Sementara itu, Kabid Hortikultura Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra, Dr. Arwin, menyampaikan bahwa pelaksanaan Pasar Tani kali ini berjalan sukses dan mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

“Alhamdulillah pelaksanaan Pasar Tani hari ini berjalan lancar dan sukses. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mendukung stabilisasi pasokan dan harga pangan hortikultura, baik di tingkat produsen maupun konsumen. Ini juga merupakan salah satu upaya pengendalian inflasi daerah yang menjadi perhatian utama Bapak Gubernur Sulawesi Tenggara,” jelasnya.

Arwin menambahkan, Pasar Tani Hortikultura tahun anggaran 2025 telah dilaksanakan sebanyak tujuh kali, dan masih akan digelar satu kali lagi hingga akhir tahun. Setiap pelaksanaan dilakukan di titik-titik lokasi yang harga komoditasnya cenderung tidak stabil agar intervensi pasar dapat lebih tepat sasaran.

BACA JUGA :  Pemuda Konsel Soroti Keinginan Bupati Konsel Lantik 96 Kades

“Kita terus melakukan Pasar Tani dengan melihat wilayah yang mengalami fluktuasi harga. Ketika harga cabai, tomat, bawang merah, dan sayuran lainnya mulai tidak stabil, kita segera masuk melakukan intervensi pasar. Ini menjadi salah satu cara efektif menekan angka inflasi,” paparnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat sangat tinggi, dibuktikan dengan berbagai produk hortikultura yang dijual dengan harga terjangkau habis terjual hanya dalam waktu singkat.

“Antusias masyarakat luar biasa, bahkan di luar prediksi. Beberapa komoditas yang sebelumnya kurang diminati kini justru paling dicari, dan semua produk habis terjual. Ini menunjukkan bahwa Pasar Tani benar-benar dibutuhkan masyarakat,” ungkapnya.

Pada pelaksanaan kali ini, masyarakat dapat memperoleh berbagai produk hortikultura dengan harga yang jauh lebih terjangkau dari harga pasar. Misalnya, cabai rawit dan cabai keriting dijual Rp25.000 per kilogram, cabai besar Rp34.000/kg, tomat Rp7.000/kg, timun Rp5.000 untuk tiga buah, pare Rp5.000 untuk dua buah, serta semangka dan pepaya Rp7.000/kg. Komoditas lain termasuk terong (Rp5.000/lima buah), kembang kol (Rp32.000/kg), nanas (Rp15.000/buah), jeruk (Rp12.000/buah), serta berbagai sayuran segar seperti kangkung, sawi, kacang panjang, dan bawang daun (semua di kisaran Rp3.000–Rp4.000 per ikat). Tersedia pula tanaman herbal dalam polibag, seperti seledri dan daun kemangi, seharga Rp15.000 per tanaman.

Melalui kegiatan ini, Pemprov Sultra berharap pelaksanaan Pasar Tani dapat menjadi solusi konkret dalam menjaga stabilitas harga pangan, memperkuat peran petani, serta mendukung pengendalian inflasi daerah. Langkah ini sejalan dengan arahan Gubernur Sultra yang menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menciptakan ekonomi yang tangguh, mandiri, dan berkeadilan.