PT Vale Mulai Tahap Konstruksi IGP Pomalaa Wujudkan Nikel Berkelanjutan

oleh -545 Dilihat

Pomalaa, Berikabar.co — PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), sebagai bagian dari MIND ID dan pelaku utama dalam industri nikel berkelanjutan, meresmikan dimulainya tahap pembangunan infrastruktur penting untuk Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa yang berlokasi di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Langkah ini mencerminkan komitmen PT Vale dalam mendukung program hilirisasi nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global energi ramah lingkungan, khususnya untuk ekosistem kendaraan listrik (EV).

Menggandeng PT Leighton Contractors Indonesia (LCI), acara peletakan batu pertama dilakukan di area View Point Living, dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan seperti Bupati Kolaka Amri, S.STP., M.Si., Ketua Komisi III DPRD Kolaka Israfil Sanusi, President Director LCI Simon Burley, perwakilan dari Kedutaan Besar Australia, serta jajaran manajemen proyek PT Vale IGP Pomalaa.

Infrastruktur yang sedang dibangun meliputi sejumlah fasilitas penting, antara lain Workshop, Kantor Operasional, Camp Operasional, Gerbang Utama, serta berbagai bangunan pendukung seperti Gedung Operasi, Gedung Pemeliharaan, Hunian, dan Fasilitas Penunjang Lainnya.

Proyek yang dikembangkan oleh LCI ini ditargetkan selesai dalam waktu 26 bulan, hingga 31 Oktober 2026, dengan penerapan standar keselamatan kerja tertinggi dan dukungan teknologi konstruksi terkini untuk efisiensi maksimal.

Hingga Juli 2025, progres fisik keseluruhan proyek IGP Pomalaa telah mencapai 31 persen, termasuk dimulainya tahap awal pembangunan pabrik High Pressure Acid Leaching (HPAL) hasil kemitraan dengan perusahaan global Huayou, yang memiliki keunggulan dalam pengolahan bijih nikel laterit.

Blok tambang di wilayah Pomalaa menyimpan potensi bijih limonite, yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Dengan penerapan teknologi HPAL, PT Vale membuka peluang menjadikan limonite sebagai bahan baku strategis untuk produksi baterai kendaraan listrik.

BACA JUGA :  Stok LPG 3 KG di Kendari Berangsur Kondusif

“Sejak awal 2022 kami mengambil posisi strategis untuk menggandeng Huayou yang memiliki keunggulan teknologi HPAL. Proyek ini menjadi simbol bahwa limonite Kolaka bisa menjadi sumber kesejahteraan, bukan limbah. Dan kami tidak bisa melakukannya sendiri—kolaborasi dengan mitra seperti LCI membuat kami optimistis bahwa proyek ini akan membangun warisan untuk generasi mendatang,” ujar Mohammad Rifai, Head of Pomalaa Project PT Vale.

President Director LCI, Simon Burley, menyatakan rasa bangganya atas kepercayaan yang diberikan dalam proyek ini. “PT LCI merasa terhormat dapat berkontribusi dalam proyek strategis nasional ini. Dengan teknologi konstruksi yang cepat, efisien, dan standar internasional, kami menjunjung tinggi keselamatan sebagai prioritas utama. Kami juga mengucapkan selamat ulang tahun ke-57 untuk PT Vale—mitra luar biasa kami dalam perjalanan ini,” katanya.

Perwakilan Kedutaan Besar Australia, Julia DeLorenzo, yang menjabat sebagai Second Secretary Economic Trade and Investment, menekankan pentingnya investasi jangka panjang dari Australia di wilayah Indonesia Timur.

“CIMIC Group (induk LCI) telah hadir lebih dari 50 tahun di Indonesia. Kolaborasi ini mencerminkan masa depan kerja sama bilateral yang semakin kuat dan inklusif,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Kolaka Amri menyampaikan pentingnya komitmen terhadap keterlibatan tenaga kerja lokal. “Regulasi kita jelas—minimal 70% tenaga kerja tidak terampil harus dari lokal. Pengangguran terbuka masih tinggi. Saya minta semua mitra Vale patuh pada ini, juga pada pajak, retribusi, dan keterlibatan pengusaha lokal. Jangan lupa, realisasikan pembangunan smelter bersama PT KNI seperti yang dijanjikan,” tegasnya.

Seremoni ini ditutup dengan kegiatan simbolis berupa penanaman pohon oleh para undangan, sebagai wujud nyata komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan di setiap tahap pembangunan proyek.

BACA JUGA :  Kini Kuota Habis Bukan Masalah, Pelanggan SIMPATI Tetap Bisa Akses Instagram Lewat Basic Mode