Hadapi Maraknya Penipuan Digital, OJK Gencarkan Edukasi Keuangan di Papua Barat

oleh -303 Dilihat

Sorong, Berikabar.co — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan kembali komitmennya dalam meningkatkan literasi keuangan digital melalui penyelenggaraan kegiatan Digital Financial Literacy (DFL) di Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, Papua Barat. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian program literasi keuangan OJK yang menyasar generasi muda sebagai ujung tombak transformasi digital di sektor keuangan.

Dalam kegiatan yang dihadiri lebih dari 200 mahasiswa dari Kota Sorong dan sekitarnya, OJK membekali peserta dengan pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan digital yang bijak, serta pemahaman atas risiko dan legalitas produk keuangan berbasis teknologi. DFL merupakan inisiatif strategis untuk menjawab tantangan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan digital di tengah tingginya penggunaannya.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 66 persen, sementara indeks inklusi keuangan berada di angka 80 persen. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa banyak pengguna layanan keuangan digital yang belum dibekali pengetahuan memadai, sehingga berpotensi terjebak risiko, termasuk penipuan.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Hasan Fawzi, dalam kuliah umumnya menyampaikan bahwa teknologi seperti blockchain, artificial intelligence, dan big data membawa peluang besar sekaligus tantangan dalam pengelolaan keuangan masa kini. Ia menyebutkan peran penting Gen Z sebagai motor utama dalam mendorong transformasi digital, terutama di kawasan Indonesia Timur.

“Gen Z memiliki peran penting sebagai agen perubahan dan ujung tombak transformasi digital di Indonesia Timur. Literasi keuangan digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendasar untuk menghadapi ekosistem keuangan yang terus berkembang,” ujar Hasan.

Hasan juga mengingatkan para mahasiswa agar lebih cermat dalam mengelola keuangan digital. Ia menyoroti tingginya angka kasus penipuan digital yang terjadi akibat rendahnya literasi keuangan masyarakat. Data dari Indonesia Anti Scam Center (IASC) per Maret 2025 mencatat hampir 80.000 laporan penipuan keuangan digital dengan total kerugian sebesar Rp1,7 triliun.

BACA JUGA :  Beli Toyota Berhadiah iPhone 15, Servis di Bengkel Resmi Kalla Toyota Berhadiah Emas

Ia menekankan pentingnya pemahaman mengenai aspek legalitas, logika investasi, serta risiko finansial sebelum memutuskan menggunakan produk keuangan digital. Menurutnya, edukasi berkelanjutan adalah kunci untuk meminimalkan risiko dan meningkatkan keamanan pengguna.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor III Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong, Aldilla Yulia Wiellys Sutikno, mengapresiasi langkah OJK menyelenggarakan edukasi keuangan di kampusnya. Ia menilai kecepatan perubahan di sektor keuangan kerap melampaui regulasi yang ada, sehingga generasi muda perlu dibekali pemahaman sejak dini.

“Makanya, sebagai manusia yang tentu tidak mungkin tidak mengikuti perubahan itu. Salah satu caranya adalah dengan memberikan pemahaman, penyuluhan dan sosialisasi terkait dengan literasi keuangan yang pagi hari ini akan disampaikan oleh narasumber dari OJK. Terima kasih kepada OJK,” tutur Aldilla.

Kuliah umum ini menghadirkan tiga narasumber kompeten, yakni Lutfi Alkatiri (Analis Eksekutif Grup Inovasi Keuangan Digital OJK), Chrisma Albandjar (Wakil Sekretaris Jenderal I), dan Asih Karnengsih (Direktur Eksekutif Asosiasi Blockchain dan Pedagang Aset Kripto Indonesia). Melalui DFL, OJK berharap masyarakat, khususnya mahasiswa, tak hanya menjadi pengguna aktif, tetapi juga berkontribusi sebagai inovator dalam ekosistem keuangan digital Indonesia.