Kendari, Berikabar.co – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mendorong penguatan literasi statistik agar masyarakat mampu membaca dan memahami data secara tepat. Pemahaman terhadap konteks dinilai penting agar angka maupun persentase tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam menggambarkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, dalam kegiatan Literasi Statistik dalam rangka memperingati Hari Statistik Nasional (HSN) 2026 di Aula Lantai 4 Kantor BPS Sultra, Jumat (25/9/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Membangun Literasi Statistik untuk Memahami Kondisi Sosial Ekonomi Sulawesi Tenggara” tersebut digelar BPS Sultra berkolaborasi dengan Pojok Statistik dan Agen Statistik Universitas Halu Oleo (UHO).
Kolaborasi BPS Sultra dan perguruan tinggi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman statistik di berbagai kalangan. Narasumber dalam kegiatan berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHO serta Tim Statistik Sosial BPS Sultra.
Peserta kegiatan berasal dari OPD Pemprov Sultra, media massa, pegawai BPS dan mahasiswa. Tercatat sebanyak 30 peserta dari media massa, 93 pegawai BPS Sultra dan 10 mahasiswa mengikuti kegiatan tersebut.
Hadi mengatakan statistik pada dasarnya merupakan gambaran mengenai kondisi masyarakat. Data statistik dapat digunakan untuk memahami persoalan, menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan, sekaligus mengevaluasi capaian pembangunan.
“Angka-angka statistik bukan hanya sekadar kumpulan data, tetapi merupakan gambaran mengenai kondisi masyarakat,” kata Hadi.
Menurut dia, kemampuan memahami statistik tidak hanya dibutuhkan pemerintah maupun kalangan akademisi. Instansi, mahasiswa dan masyarakat luas juga perlu memiliki kemampuan dasar dalam membaca dan memahami data.
Literasi statistik, kata Hadi, membantu masyarakat memahami informasi berdasarkan konteksnya. Kemampuan tersebut juga diperlukan untuk menghindari kesalahan dalam menafsirkan angka maupun indikator statistik.
“Dengan literasi statistik yang baik, kita dapat memahami informasi secara lebih tepat. Kita juga dapat melihat data dalam konteks yang benar serta menghindari salah pemahaman dalam menafsirkan angka dan indikator-indikator statistik,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Hadi turut menyoroti dinamika pembangunan ekonomi Sultra yang ditopang oleh berbagai aktivitas ekonomi, investasi dan pengembangan industri. Menurutnya, perkembangan ekonomi perlu dibaca bersama indikator sosial agar kondisi daerah dapat dipahami secara lebih utuh.
Ia menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak semata-mata berbicara mengenai besaran pertumbuhan ekonomi atau investasi yang masuk. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana manfaat pertumbuhan tersebut dirasakan masyarakat dan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan adalah pertumbuhan yang manfaatnya dapat dirasakan oleh semua kalangan masyarakat dan memastikan manfaat tersebut dapat dinikmati dalam jangka panjang,” jelasnya.
Karena itu, Hadi mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk tidak menarik kesimpulan hanya berdasarkan satu atau dua indikator. Berbagai indikator ekonomi dan sosial perlu dibaca secara bersama-sama untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi Sultra.
“Kita tidak cukup hanya melihat satu atau dua indikator, tetapi perlu menghubungkan berbagai indikator ekonomi dan sosial untuk memperoleh gambaran yang lengkap dan komprehensif,” tutur Hadi.
Melalui kegiatan Literasi Statistik tersebut, BPS Sultra mendorong agar data tidak berhenti sebagai angka dalam laporan. Data diharapkan dapat dipahami dan dimanfaatkan secara tepat untuk membaca kondisi masyarakat, mendukung pengambilan keputusan, serta memahami perkembangan pembangunan Sulawesi Tenggara secara lebih komprehensif.





