Jakarta, Berikabar.co – Kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia tetap terjaga sepanjang triwulan II 2026, meski perekonomian global kembali menghadapi tekanan akibat meningkatnya konflik geopolitik, kenaikan harga energi, volatilitas pasar keuangan, serta tekanan terhadap nilai tukar dan arus modal.
Hasil asesmen Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menunjukkan ketahanan perekonomian domestik masih kuat. Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap solid serta stabilitas sektor keuangan yang terjaga.
KSSK menilai berbagai risiko eksternal terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap perlu diwaspadai. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
“KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (saat ini diwakili oleh Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking atas kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini seiring risiko ketidakpastian ekonomi global yang meningkat, sekaligus melakukan upaya mitigasi secara terkoordinasi, baik antarlembaga anggota KSSK maupun dengan Kementerian/Lembaga lain.”
Pernyataan tersebut merupakan hasil rapat berkala KSSK III tahun 2026 yang dilaksanakan pada Selasa, 28 Juli 2026.
Tekanan Global Meningkat
Memasuki triwulan II 2026, tekanan eksternal terhadap perekonomian global kembali meningkat. Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah berdampak pada gangguan pasokan energi, kenaikan harga minyak dan sejumlah komoditas strategis, serta meningkatkan risiko terhadap kelancaran perdagangan dan rantai pasok global.
Situasi tersebut turut mendorong tekanan inflasi dan mempersempit ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter di sejumlah negara maju.
Di Amerika Serikat (AS), ekspektasi kenaikan Fed Funds Rate (FFR) meningkat seiring menguatnya risiko inflasi. Ketidakpastian arah kebijakan perdagangan dan fiskal AS juga turut menahan sentimen pelaku pasar global.
Di pasar keuangan, volatilitas masih berada pada level tinggi. Perilaku flight to safety kembali menguat, yang tercermin dari penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi (yield) US Treasury, serta meningkatnya tekanan terhadap aliran modal di negara-negara berkembang.
Memasuki Juli 2026, risiko global kembali meningkat seiring berlanjutnya konflik AS-Iran. Lalu lintas di Selat Hormuz yang sempat membaik setelah interim deal antara AS dan Iran pada pertengahan Juni 2026 kembali mengalami hambatan setelah eskalasi perang antara kedua negara meningkat pada awal Juli.
Kondisi tersebut menjadi perhatian KSSK karena gangguan pada jalur perdagangan dan energi strategis berpotensi meningkatkan tekanan terhadap harga komoditas, inflasi, arus perdagangan, serta stabilitas pasar keuangan global.
Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam publikasi World Economic Outlook Update edisi Juli 2026 memprakirakan pertumbuhan ekonomi global mencapai 3,0 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada 2026.
Proyeksi tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan prakiraan IMF pada April 2026 sebesar 3,1 persen yoy. Penurunan proyeksi tersebut berlangsung di tengah risiko meningkatnya kembali inflasi global akibat tekanan geopolitik dan harga komoditas.
KSSK menegaskan perkembangan global tersebut perlu terus dicermati secara forward looking. Koordinasi kebijakan antarotoritas menjadi salah satu kunci untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian yang masih tinggi.





