Kendari, Berikabar.co – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tenggara terus memperkuat strategi perluasan akses keuangan hingga wilayah kepulauan melalui pengembangan ekosistem keuangan inklusif, digitalisasi layanan keuangan, serta kolaborasi lintas sektor.
Kepala OJK Sultra, Bismi Maulana Nugraha, menegaskan bahwa capaian Sultra sebagai provinsi dengan indeks literasi dan inklusi keuangan tertinggi di kawasan Sulampua harus diikuti dengan pemerataan akses layanan hingga ke daerah terpencil.
“Justru karena Sultra sudah menjadi yang terdepan di Sulampua, tanggung jawab kami semakin besar untuk memastikan keunggulan ini dirasakan merata hingga ke pelosok kepulauan,” katanya.
Untuk mencapai target tersebut, OJK menerapkan sejumlah strategi. Salah satunya melalui pendekatan berbasis komunitas dan desa melalui program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
“Program EKI-KNMP (Ekosistem Keuangan Inklusif – Kampung Nelayan Merah Putih) adalah salah satu flagship kami, di mana kami masuk ke komunitas nelayan di Konawe dan Wakatobi untuk memperkenalkan layanan keuangan formal secara langsung,” ujar Bismi.
Selain itu, OJK juga mendorong perluasan agen laku pandai seperti BRILink dan Agen BNI46 agar masyarakat di wilayah kepulauan dapat mengakses layanan keuangan tanpa harus mendatangi kantor cabang bank.
Di sisi lain, pemanfaatan layanan keuangan digital terus mengalami pertumbuhan, terutama penggunaan QRIS dan mobile banking. Namun, pertumbuhan tersebut masih lebih dominan terjadi di wilayah perkotaan.
“Pemanfaatan layanan digital tumbuh pesat, terutama QRIS dan mobile banking. Namun pertumbuhannya masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan. Di daerah kepulauan, adopsi layanan digital masih terkendala infrastruktur seperti sinyal, listrik, dan literasi digital,” ungkapnya.
Bismi menambahkan, OJK bersama pemerintah daerah dan instansi terkait terus mendorong pembangunan infrastruktur digital guna mendukung percepatan inklusi keuangan berbasis teknologi.
Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan teknologi harus dibarengi dengan pemahaman keuangan yang memadai. Berdasarkan hasil SNLIK 2026, kelompok usia 18 hingga 25 tahun yang dikenal sebagai generasi digital justru mengalami sedikit penurunan indeks inklusi keuangan.
“SNLIK 2026 mencatat catatan menarik dimana kelompok usia 18–25 tahun yang merupakan generasi digital justru mengalami sedikit penurunan indeks inklusi (-0,21%), mengindikasikan bahwa aktivitas digital belum otomatis berbanding lurus dengan pemanfaatan produk keuangan yang tepat dan aman,” pungkasnya.





