Kendari, Berikabar.co – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tenggara mencatat kinerja intermediasi perbankan di Sulawesi Tenggara tetap menunjukkan tren positif pada awal tahun 2026. Hingga Maret 2026, total kredit yang disalurkan perbankan mencapai Rp54,43 triliun atau tumbuh 4,86 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Kepala OJK Sulawesi Tenggara, Bismi Maulana Nugraha, mengatakan pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap sektor perbankan, sekaligus menunjukkan aktivitas ekonomi daerah yang terus bergerak produktif.
“Kinerja kredit perbankan di Sulawesi Tenggara menunjukkan tren positif. Per Maret 2026, total kredit yang disalurkan perbankan mencapai Rp54,43 triliun, tumbuh +4,86% (YoY). Pertumbuhan ini mencerminkan kepercayaan masyarakat dan dunia usaha terhadap sektor perbankan, serta mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi di Sultra terus bergerak ke arah yang produktif,” ujar Bismi.
Menurutnya, meskipun kondisi makroekonomi nasional masih dipengaruhi ketidakpastian global, sektor perbankan di Sulawesi Tenggara tetap mampu menjaga ekspansi kredit, terutama pada segmen konsumtif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ia menambahkan, aktivitas hilirisasi nikel dan industri turunannya turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan kebutuhan pembiayaan, khususnya kredit modal kerja pada sektor manufaktur dan jasa pendukung industri.
“Meskipun kondisi makroekonomi nasional masih dipengaruhi ketidakpastian global, perbankan di Sultra tetap ekspansif terutama di segmen UMKM dan konsumtif. Aktivitas hilirisasi nikel dan turunannya turut mendorong peningkatan kredit modal kerja di sektor manufaktur dan jasa pendukung industri,” katanya.
Berdasarkan komposisi penyaluran kredit, sektor rumah tangga masih mendominasi dengan nilai Rp24,93 triliun atau 45,8 persen dari total kredit. Selanjutnya sektor perdagangan besar dan eceran sebesar Rp8,11 triliun atau 14,9 persen, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan Rp4,64 triliun atau 8,5 persen, serta industri pengolahan Rp4,60 triliun atau 8,4 persen.
“Namun kami melihat pergeseran positif: kredit produktif ke sektor perdagangan, pertanian, dan industri pengolahan nikel terus meningkat porsinya. Ini adalah arah yang tepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif,” ungkap Bismi.
OJK Sultra menegaskan akan terus mendorong pertumbuhan kredit yang sehat dan berkualitas dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan.





