Gelar Pelatihan Jurnalisme Warga, AJI Kendari dan WALHI Sultra Dorong Korban Penggusuran Berani Bersuara Sesuai Fakta

oleh -78 Dilihat
berikabar.co

Kendari, Berikabar.co — Sejumlah warga yang berdomisili di kawasan lingkar tambang serta masyarakat terdampak penggusuran lahan dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara (Sultra) mengikuti pelatihan jurnalisme warga (citizen journalism). Agenda yang berlangsung selama dua hari sejak Jumat (15/5/2026) ini diinisiasi oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Kendari yang berkolaborasi dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sultra di salah satu hotel di Kendari.

Ketua AJI Kota Kendari, Nursadah, mengungkapkan bahwa masifnya ekspansi industri pertambangan dan perkebunan kelapa sawit di Sultra melahirkan banyak dinamika sosial yang krusial bagi konsumsi publik. Namun, kendala geografis kerap membuat isu-isu di pelosok tersebut luput dari radar media arus utama. Oleh karena itu, kapasitas warga setempat perlu ditingkatkan agar mampu memproduksi informasi yang kredibel dan terstandarisasi.

“Perlu diketahui bahwa kerja-kerja jurnalisme warga juga dituntut untuk tetap taat kode etik jurnalistik. Informasi yang disampaikan adalah kebenaran dan sesuai fakta, sehingga tidak memicu hoax yang dapat menimbulkan masalah bagi jurnalis warga itu sendiri,” kata Nursadah.

Pentingnya keakuratan data juga digarisbawahi oleh akademisi Jurnalisme Universitas Halu Oleo (UHO), Jufri Rachim. Selaku pemateri, ia menilai keterbukaan teknologi digital harus diimbangi dengan pemahaman jurnalistik yang sehat agar publikasi yang dibuat masyarakat tidak terjebak pada asumsi sepihak.

“Dengan memahami jurnalisme warga, kita dapat memastikan bahwa setiap informasi yang kita sampaikan itu adalah kebenaran dan fakta, bukan opini,” ujarnya.

Senada dengan hal itu, jurnalis CNN, Zainal Izhak, yang turut menjadi pembicara, menekankan pentingnya penguasaan teknis peliputan. Menurutnya, komunitas warga wajib memiliki sensitivitas dalam memetakan kelayakan sebuah isu, menguasai metode wawancara yang tepat, hingga teknik pengambilan dokumentasi visual yang representatif.

BACA JUGA :  Atlet eSport Kendari Andalkan simPATI untuk Latihan Hingga Membawa Nama Daerah ke Tingkat Nasional

“Begitu pun teknik wawancara hingga pengambilan gambar yang baik juga harus benar-benar dipahami,” tegas Zainal.

Di sisi lain, Direktur WALHI Sultra, Andi Rahman, menggarisbawahi bahwa kemitraan strategis dengan AJI ini bertujuan untuk membangun kemandirian masyarakat dalam mendokumentasikan ketimpangan sosial dan ekologis di wilayah mereka. Kerap kali, lemahnya bukti tertulis membuat perjuangan warga kandas di tengah jalan.

“WALHI berkolaborasi dengan AJI mengadakan pelatihan ini untuk memperkuat kapasitas masyarakat agar bisa melaporkan kondisi, mendokumentasikan pelanggaran HAM atau kerusakan lingkungan yang dihadapi, karena tantangan kita selama ini sering kali lalai didokumentasi,” ucap Andi Rahman.

Pelatihan ini memberikan sudut pandang baru bagi para peserta. Nurjayah, salah satu warga yang hadir, mengaku kini lebih memahami pentingnya akurasi dan aspek legalitas hukum dalam menyebarkan informasi, terutama ketika berhadapan dengan konflik agraria dan korporasi skala besar.

“Sebelumnya kami tidak tahu perlindungan hukumnya bagaimana ke depannya karena saya warga, bukan jurnalis, tapi setelah tahu ini kami jadi lebih berhati-hati lagi menyampaikan informasi agar tidak terjerat hukum,” kata Nurjayah.

Manfaat serupa dirasakan oleh Azis, peserta lainnya, yang menganggap bekal keilmuan ini sebagai fondasi kuat untuk menyuarakan aspirasi terkait kerusakan ekosistem di daerah asalnya secara terukur dan bertanggung jawab.