Indonesia di Jantung Transisi Energi Global: PT Vale Soroti Peran Mineral Kritis di IISF

oleh -249 Dilihat

Jakarta, Berikabar.co– Indonesia menjadi sorotan utama dalam Indonesia International Sustainability Forum (IISF) melalui sesi dialog penting yang diselenggarakan oleh PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale). Sesi bertajuk “Indonesia at the Epicenter of Critical Minerals: Nickel, Copper, and the Global Energy Transition” mempertemukan pemimpin pemerintah, industri, dan lembaga keberlanjutan untuk membahas peran strategis Indonesia dalam transisi energi global.

Para narasumber membahas tantangan menyeimbangkan potensi sumber daya nikel dan tembaga yang besar dengan tanggung jawab lingkungan, inklusi sosial, dan ketahanan ekonomi jangka panjang.

Permintaan global terhadap nikel dan tembaga, sebagai mineral penting untuk kendaraan listrik dan energi terbarukan, diproyeksikan meningkat dua hingga tiga kali lipat pada 2040. Indonesia, sebagai pemilik cadangan nikel terbesar dunia, berada di pusat transformasi ini.

Bernardus Irmanto, Presiden Direktur & CEO PT Vale Indonesia, menegaskan misi perusahaan melampaui produksi.

“Mineral kritis merupakan fondasi dari transisi energi global, dan Indonesia berada di pusatnya,” ujar Bernardus Irmanto, CEO PT Vale Indonesia. “Misi kami bukan hanya untuk memenuhi permintaan global, tetapi untuk melakukannya secara bertanggung jawab—memastikan keberlanjutan, transparansi, dan pemberdayaan masyarakat menjadi landasan kontribusi Indonesia bagi masa depan dunia yang net-zero,” tegasnya.

Mewakili pemerintah, Dr. Ing. Tri Winarno, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Kementerian ESDM, menekankan pentingnya mengintegrasikan keberlanjutan dalam strategi hilirisasi nasional.

“Komitmen Indonesia terhadap pengelolaan mineral yang bertanggung jawab sangat jelas—kita harus mendorong pertumbuhan industri tanpa mengorbankan keseimbangan lingkungan,” ujar Dr. Winarno. “Melalui inovasi, kolaborasi, dan kepatuhan terhadap standar internasional, Indonesia akan terus memperkuat kepemimpinannya dalam transisi energi global sambil memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.

Dari perspektif industri, David Wei, General Manager Huayou Indonesia, menyoroti pentingnya kemitraan yang mengedepankan keberlanjutan.

BACA JUGA :  Masuk Level Empat Covid-19, Kota Kendari Berlakukan PPKM

“Keberlanjutan bukan lagi pilihan, melainkan tolok ukur kredibilitas global,” ujar Wei. “Kolaborasi kami dengan PT Vale menunjukkan bagaimana kemitraan industri dapat mendorong rantai pasok yang bertanggung jawab, pengurangan karbon, dan kesejahteraan bersama. Masa depan mineral kritis bergantung pada bagaimana kita tumbuh bersama—dengan integritas dan dampak nyata,” ujarnya.

Senada, Tom Malik, Head of Corporate Communications PT Merdeka Copper Gold Tbk, menekankan keselarasan ekspansi perusahaan dengan prinsip ESG yang ketat.

“PT Merdeka Copper Gold telah memposisikan diri di garis depan sektor tembaga Indonesia—komoditas penting bagi elektrifikasi global,” ujar Malik. “Seiring meningkatnya permintaan, kami memastikan ekspansi perusahaan selaras dengan prinsip ESG yang ketat, khususnya dalam pengelolaan air, perlindungan keanekaragaman hayati, dan keterlibatan masyarakat. Dengan demikian, pertumbuhan ini dapat memperkuat reputasi Indonesia sebagai pemasok mineral kritis yang bertanggung jawab,” katanya.

Rebecca Burton, Deputy Director Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), mengapresiasi PT Vale Indonesia yang menempuh sertifikasi IRMA.

“Kepemimpinan Indonesia dalam mineral kritis merupakan kesempatan untuk membuktikan bahwa pertumbuhan dan tanggung jawab dapat berjalan beriringan,” ujar Burton. “Kerangka kerja seperti IRMA memastikan bahwa nikel dan tembaga dari Indonesia diakui secara global sebagai hasil tambang yang dikelola secara bertanggung jawab—melalui transparansi, penilaian independen, serta penghormatan terhadap manusia dan alam. Seiring meningkatnya perhatian dunia, pemerintah, perusahaan, dan lembaga penyusun standar perlu menyelaraskan ambisi dengan akuntabilitas guna membentuk generasi baru praktik pertambangan yang bertanggung jawab,” jelasnya.

Sesi ditutup dengan komitmen PT Vale bahwa kepemimpinan Indonesia harus didasarkan pada standar, bukan hanya skala produksi.

“Kami meyakini bahwa potensi sejati Indonesia terletak pada kemampuannya untuk memimpin bukan hanya dengan skala, tetapi dengan standar,” pungkas Bernardus. “Dengan menanamkan keberlanjutan di inti setiap operasi, kami berkomitmen memastikan bahwa setiap ton nikel yang ditambang di Indonesia berkontribusi pada masa depan yang lebih bersih, adil, dan berkelanjutan bagi dunia,” pungkasnya.

BACA JUGA :  BI Sultra Koordinasi Dengan Perbankan Antisipasi Upal Jelang Pemilu