Wagub Sultra Tegaskan Hilirisasi dan Ekspor Non-Tambang sebagai Kunci Utama Pertumbuhan Ekonomi Daerah

oleh -477 Dilihat

Kendari, Berikabar.co – Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Ir. Hugua, M.Ling, menggelar audiensi bersama para pelaku ekspor di Hotel Zahra Syariah Kendari, Selasa. Kegiatan ini merupakan bagian dari konsolidasi untuk meningkatkan ekspor non-tambang, dengan tujuan memperkuat nilai tambah ekonomi masyarakat. Acara ini mengusung tema “Merebut Peluang Ekspor Non-Tambang Sultra dari Tangan Orang Lain.”

Audiensi ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk Staf Ahli Gubernur, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sultra, pimpinan OPD Pemprov Sultra, instansi vertikal, BUMN/BUMD, asosiasi pengusaha, mitra eksportir, manajemen PT Pelindo, hingga para pelaku UMKM.

Dalam paparannya, Wagub Hugua menyampaikan keprihatinannya bahwa meskipun Sultra memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah—baik dari sisi kelautan maupun daratan—nilai ekspornya sering kali tercatat di provinsi lain. “Lautnya oke, daratnya oke, komoditasnya keren-keren, tapi mengapa justru nilai ekspornya dicatat oleh daerah lain seperti Surabaya atau Jakarta, padahal produksinya dari kita,” ujar Hugua.

Menurutnya, banyak komoditas unggulan dari Sultra diekspor melalui provinsi lain, sehingga nilai ekspornya tidak tercatat atas nama Sultra. “Kita punya produksi, tetapi nilai ekspornya justru dicatat oleh daerah lain. Maka muncul ide, Ayo kita kembalikan, kita rebut kembali produk-produk daerah yang selama ini diambil dan dipasarkan oleh pihak lain. Produk-produk itu seharusnya menjadi bagian dari komunitas ekspor-impor Sulawesi Tenggara. Dari situlah awal mula diskusi dan konsolidasi ini kita mulai,” tegasnya.

Wagub menyebutkan bahwa konsolidasi di sektor perikanan, yang melibatkan koordinasi dengan Bea Cukai, Badan Karantina, Badan Mutu, Pelindo, dan mitra pelayaran, telah menghasilkan ekspor perikanan hingga 98 ton, sebuah angka yang sebelumnya tidak terlihat jelas di statistik daerah. Ia juga menyoroti bahwa 94 persen data ekspor Sultra masih didominasi oleh sektor tambang, sedangkan sektor non-tambang hanya menyumbang 6 persen. Padahal, sektor perikanan dan pertanian menyumbang sekitar 23 persen terhadap PDRB Sultra.

BACA JUGA :  Dorong Ekonomi Syariah, BI Sultra Bakal Gelar Maimo Sultra 2026 di Eks MTQ Kendari

Wagub Hugua juga menyinggung target nasional pertumbuhan ekonomi sebesar 8,1 persen, sementara Sultra masih berada di angka 5,6 persen. “Kita harus mengejar ketertinggalan 3 persen ini, dan salah satunya dengan menggenjot ekspor non-tambang. Sektor tambang tidak bisa kita andalkan terus-menerus, karena dalam 10-15 tahun ke depan, cadangannya bisa habis,” tuturnya. Ia menekankan pentingnya hilirisasi industri, baik di sektor tambang maupun non-tambang, untuk meningkatkan nilai tambah dan menopang perekonomian secara lebih berkelanjutan.

Dalam sesi diskusi, perwakilan Bea Cukai Kendari, Taufik Sato, membenarkan bahwa dominasi ekspor tambang mencapai 93-98 persen, sementara produk pertanian dan perikanan Sultra memang diekspor, tetapi melalui daerah lain. Taufik menegaskan bahwa proses ekspor dari Kendari sangat memungkinkan karena sudah berbasis paperless dan hanya membutuhkan satu dokumen perizinan.

Forum ini disambut positif oleh para peserta. Diharapkan, melalui sinergi lintas sektor, Sultra dapat memperkuat posisinya dalam perdagangan global dan mengoptimalkan potensi lokal sebagai motor penggerak ekonomi yang berkelanjutan. Setelah audiensi, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Bank Indonesia, PT Pelindo, dan stakeholder lainnya.