OJK Sultra Ungkap Potensi dan Tantangan Ekonomi Syariah di Sultra Maimo 2025

oleh -404 Dilihat

Kendari, Berikabar.co – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tenggara (Sultra) tidak hanya menghadirkan layanan konsumen, tetapi juga secara khusus menyoroti potensi dan tantangan ekonomi syariah dalam ajang Sultra Maimo Tahun 2025. Berlangsung dari 20 hingga 22 Juni di The Park Mall Kendari, acara ini menjadi platform penting untuk membahas perkembangan keuangan syariah di tengah masyarakat.

Kegiatan ini merupakan hasil sinergi antara OJK Sulawesi Tenggara dan Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Sulawesi Tenggara. Berbagai pihak, mulai dari Industri Jasa Keuangan, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hingga komunitas masyarakat, turut berpartisipasi aktif dalam perhelatan Sinergi Sultra Maimo 2025.

Fokus utama OJK Sultra dalam acara ini adalah edukasi keuangan syariah, yang ditujukan bagi pelaku UMKM, civitas akademika, Industri Jasa Keuangan, dan masyarakat umum. Edukasi ini disampaikan melalui talkshow bertajuk “Sinergi Inklusi dan Literasi Ekonomi Syariah (SIARAH)”, yang dirancang untuk mendorong pengembangan ekonomi melalui keuangan syariah sebagai alternatif relevan dan strategis dalam dinamika ekonomi global.

Asisten Direktur OJK Sulawesi Tenggara, Shintia Wijayanti Putri Purnamasari, sebagai narasumber, mengungkapkan capaian membanggakan Indonesia. Berdasarkan Islamic Finance Development Report, Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia dalam Islamic Finance Development Indicator, dengan keunggulan signifikan pada sub-indikator Education dan Research. Ia juga menyoroti bahwa Indonesia termasuk dalam 10 besar negara dengan aset perbankan syariah tertinggi.

Namun, Shintia juga memaparkan data penting mengenai literasi dan inklusi keuangan syariah di tingkat nasional. Indeks literasi keuangan syariah menunjukkan peningkatan signifikan dari 9,14% pada tahun 2022 menjadi 43,42% pada tahun 2025. Peningkatan ini mencerminkan semakin baiknya pemahaman, keterampilan, dan keyakinan masyarakat terhadap keuangan syariah. Meskipun masih ada kesenjangan dengan indeks nasional, gap ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

BACA JUGA :  Astra Raih 3 Penghargaan HR Asia 2025, Komitmen pada SDM dan Keberlanjutan

Di sisi lain, indeks inklusi keuangan syariah masih tergolong rendah, yakni sebesar 13,41% pada tahun 2025. Angka ini memang meningkat dari tahun sebelumnya, namun peningkatannya belum signifikan. Terdapat kesenjangan yang sangat tinggi antara indeks inklusi keuangan syariah dengan indeks inklusi keuangan nasional, mengindikasikan bahwa kegiatan promosi dan layanan syariah belum terintegrasi sepenuhnya dan belum mempertimbangkan aspek syariah secara komprehensif.

Provinsi Sulawesi Tenggara, dengan perkiraan 95,8% dari total 3 juta penduduknya adalah Muslim, memiliki potensi besar untuk peningkatan ekonomi syariah. Namun, untuk mendorong partisipasi yang lebih luas, diperlukan peningkatan literasi dan kepercayaan masyarakat melalui pendekatan edukatif dan inklusif yang lebih masif.

Untuk mendukung tujuan tersebut, talkshow SIARAH juga menghadirkan narasumber dari lembaga sosial syariah, yakni Badan Wakaf Indonesia (BWI) yang diwakili oleh Dede Haris Sumarno, S.E., M.M. Beliau menguraikan peran strategis badan wakaf dalam membangun perekonomian umat secara berkelanjutan. Selain itu, Greget Kalla Buana, seorang Islamic Finance Professional, juga memaparkan materi mengenai Pengelolaan Keuangan Islami (PKI).

Melalui forum dialog ini, diharapkan terwujud sinergi yang lebih kuat antara regulator, Industri Jasa Keuangan, dan masyarakat secara masif, demi peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah yang lebih optimal. Kegiatan Sultra Maimo 2025 yang berlangsung selama tiga hari tersebut, ditutup pada Minggu, 22 Juni 2025, dengan kehadiran berbagai pimpinan, termasuk Wakil Walikota Kendari, Kepala OJK Sulawesi Tenggara, dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara.